BIOGRAFI GURU SM3T ANGKATAN 4 PENEMPATAN MALUKU BARAT DAYA


Tepat pada tanggal 28 Agustus 2014, kami para guru muda SM3T penempatan Maluku Barat Daya (MBD), tersenyum di pintu keluar pesawat Lion Air Boeing 737 saat pertama kali mendarat di Bandara Kota Kupang. Semua kepala berisi satu pemikiran, wah akhirnya kami sampai di tanah rantau. ⁣
Kami berjumlah 20 orang dengan 13 orang lelaki dan 7 orang perempuan. Kami adalah orang-orang pilihan, hehe itu murni opini kami. Ya, hanya kami yang mau ke sini. Hanya kami yang beruntung menjejakkan kaki di bagian paling timur Indonesia ini. Hanya kami yang akan menikmati indahnya Indonesia dari sisi yang paling berbeda dari apa yang biasa kami temui. Menjadi minoritas saat telah terbiasa lahir menjadi mayoritas. Terbiasa kagum dengan hal baru dan sulit diterima akal sehat. Yup, hanya kami!!⁣
Bicara tentang kami, kami adalah 20 orang yang tergolong unik dan agak sedikit gila. Tidak peduli sekeras apa dunia yang akan kami hadapi, dengan niat sederhana kami melangkah mantap menuju tempat pengabdian. Kami melangkah dengan tawa dan senyuman. Sudahlah kami tahu betul bagaimana cara bahagia dan tertawa lepas walau hanya membahas hal yang tidak penting. ⁣
Marilah, akan kukisahkan satu persatu tentang kami. Percayalah kau tak akan bosan. Sebelum kau baca, perlu kau ingat semua cerita ini murni subjektif dari pendapatku sendiri. ⁣
Akan kumulai dari rekan sepenempatanku, Leo Randus Saragih. Terlahir dari keluarga Saragih asal Medan tetapi telah lama menetap di Mentawai, Sumatera Barat. Meskipun darahnya batak kental tetapi dia bangga menyebutkan dirinya orang minang. Bahasa minang mengalir bagai air dari lidahnya. Tidak ada kosa-kata minang yang tidak diketahuinya. Dia berperawakan agak besar tapi tidak terlalu tinggi. Kulitnya yang putih dan badannya yang tegap sering membuatnya dikira om tentara. Dia adalah lulusan Universitas Negeri Padang (UNP) tahun 2013 dari sarjana kependidikan jurusan geografi angkatan 2008. Dia memilih mengabdikan dirinya dalam program SM3T setelah lebih kurang enam bulan menjadi guru sma honorer di Mentawai. ⁣
Bang Leo, begitu aku biasa memanggilnya. Sikapnya yang dewasa dan pendiam, awalnya membuatku sedikit takut padanya. Kalau kau memandangnya sendirian, dia akan terlihat seperti aliran sungai di perjalanan menuju Padang, tenang dan penuh perhitungan. Jarang sekali aku melihatnya bercanda dengan kami. Entahlah, aku tidak mengenalnya, bahkan aku tidak pernah berbicara dengannya. Ketika aku mengetahui bahwa Bang Leo akan menjadi rekanku selama satu tahun, aku agak khawatir akan sepeti apa perjalananku nanti. Mmm, jujur dulu aku berharap akan sepenempatan dengan Putri, teman terdekatku selama prakondisi, teman yang sama-sama gila dan punya satu tujuan. Tetapi, takdir berkata lain. Bahkan untuk satu pulau saja kami tidak bisa. Akhirnya, aku pasrah saja. Ya, biarlah mungkin kisahku nanti akan lebih menarik dan berwarna. ⁣
Aku berkenalan pertama kali dengannya lewat sms karena aku bahkan tidak tahu orangnya yang mana. Pertemuan pertama kami adalah saat berencana mempersiapkan bekal yang akan dibawa ke daerah penempatan. Kami yang biasanya bepergian secara berkelompok sekarang harus mulai berkoordinasi dengan teman sepenempatan. Ternyata Bang Leo orang yang easy going, dia tidak terlalu memusingkan hal-hal yang sepele. Dia murni menyerahkan semuanya kepadaku. Ya sudah. Urusan kami pun selesai dengan cepat saat rekan kami yang lain masih ribut berdebat mengenai bahan yang akan mereka beli. ⁣
Bang Leo orang yang unik. Kadang-kadang lucu dan sangat kekanak-kanakan. Aku masih ingat saat minggu-minggu pertama kami berada di Ilwaki, Bang Leo dengan polosnya mengatakan semalam  dia menangis mengingat betapa malangnya dia ditempatkan di negeri yang amat mengerikan ini. Malam itu memang kulihat selepas bertandang di rumah salah satu warga dan mendengar kisah seram di negeri ini, wajah Bang Leo langsung berubah pucat. Aku hanya bisa tertawa di dalam hati. Aduh Bang, bukankah kau adalah seorang laki-laki besar, bisa-bisanya kau menangis dan dengan jujur mengakuinya kepadaku. Aku saja, seorang perempuan yang bisa dikatakan kecil dan lemah ini belum sempat menangis hehe J. Ternyata besarnya badan tidak menjamin semuanya. Tuh kaan, badanku yang kecil tidak akan menghalangiku untuk merantau ke MBD ini. Aku masih ingat dahulu saat prakondisi, Bapak Hambali, salah satu dosen kami meragukan kesiapan dan kemampuanku untuk ditempatkan di MBD. Aku juga masih ingat pandangannya yang sangat menyepelekan dan senyumnya yang sedikit arogan. ⁣
Bang Leo orang yang baik, perhatian, dan melindungi layaknya seorang kakak laki-laki. Aku beruntung ditempatkan di Ilwaki bersama dengannya. Saat-saat menyeramkan di Ilwaki terasa lebih ringan. Pernah satu kali kami menginap di rumah bapak kepala sekolah yang berada di Pulau Kisar. Rumah itu hanya berisikan laki-laki, ada bapak kepsek, adik laki-lakinya, dua orang lelaki saudara jauh bapak kepsek, dan Bang Leo. Mereka yang notabene bukan muslim sangat hobi minum sofi. Aku sangat takut kalau mereka sudah mabuk. Tapi, Bang Leo yang melihatku terlihat cemas langsung mendekatiku dan berkata “tenang des, selama abang ada di sini abang pasti menjaga ides, jadi nggak usah takut”. Sejenak aku tertegun dan merasa terlindungi. Aku merasa ada kakak laki-laki bersamaku. Bang Leo juga sangat pengertian apalagi menyangkut ibadah agamaku meskipun agamanya berbeda denganku. Bang Leo sangat sabar menghadapiku yang cerewet dan agak menyebalkan. Dia juga memaklumiku yang sedikit hehe pemalas dalam hal memasak ataupun hal lain. Kalau aku sedang tidak punya makanan di rumah, aku akan datang dengan sedikit memelas meminta makanan kepadanya. Dia akan tersenyum dan menyuruhku mengambil makanan di dapur. Dan aku tanpa merasa bersalah menyantap makanan di hadapannya. Bang Leo juga rela memasak makanan untukku. Sering Bang Leo memasak makanan untuk kami saat menginap di tempat lain saat melakukan perjalanan. Padahal seharusnya aku yang memasak, tetapi dia yang melihatku lelah tidak tega menyuruhku memasak. Bahkan, aku terkadang menjadi segan karena tidak melakukan tugasku sebagai satu-satunya perempuan. Tapi, ya dasar aku yang memang cuek, ya udah lah ya. Lagian Bang Leo memang hobi memasak. Saking hobinya, hampir setiap hari dia memasak. Ckckc... heran deh.⁣
Bang Leo juga orang yang setia. Dia tidak pernah tergoda dengan perempuan lain. Tak bosan-bosannya dia mengatakan kalau nanti sesampainya di Padang ingin segera menikahi calon istrinya yang ada di Mentawai. Dia juga rela tidak berpesiar ke Ambon, saat semua orang memutuskan berlibur ke sana, karena ingin menabung untuk modal menikah. Kadang jengkel melihatnya terlalu perhitungan dengan uangnya. Kalau kutanya, dia hanya tersenyum dan menjawab “modal nikah idess”. Doaku sebagai adiknya, semoga semua rencananya dimudahkan dan dilancarkan, amin... ⁣
Mari kita lanjutkan pembicaraan kita. Saatnya ngegosipin teman seperjuanganku, putri. Terlahir dengan nama Putri Citra Dewi pada tanggal 24 Agustus 1991. Bungsu dari 7 bersaudara ini berasal dari Pitalah tetapi sudah lama berdomisili di Kota Padang. Tubuhnya yang kecil, pendek, dan agak kurus membuatnya sempat ditolak mentah-mentah untuk  ditempatkan di MBD. Nasibnya sama halnya denganku. Tapi lihatlah kini, kami melalangbuana di sini. Wajar sih, kalau dia ditolak, soalnya dia punya penyakit asma. Tapi, memang dasar keras hati dan keras kepala, kalau dia sudah mau itu pantang untuk dilepaskan. Akhirnya dosen kami pun tak mampu berkata apa-apa. Gimana ya, kalau bicara postur tubuh, sebenarnya nggak ada relasi pasti antara kekuatan dan kebesaran tubuh dengan daya tahan dan daya juang saat merantau. Semuanya tergantung. Tergantung siapa dan bagaimana serta tujuannya apa. Aish, ngomong apa sih .⁣
Putri ditempatkan di Pulau kedua, Pulau Moa, tempat ibu kota kabupaten berada. Jelas, di sana ada sinyal. Tapi, awalnya belum punya listrik. Baru beberapa bulan terakhir listrik PLN mulai di pasang. Desa tempat bertugasnya bernama Tounwawan. Saat Tounwawan masih di dunia kegelapan dan hanya beberapa rumah yang bercahaya karena engkol mesin diesel, malam-malam sangat sepi. Di rumah-rumah tertentu dipasang TV besar di luar rumah. Lalu berbondong-bondonglah warga, besar kecil, menonton bersama di halaman. Seperti nonton layar tancap hehe rameee ⁣
Putri beruntung ditempatkan di sini. Kondisi kesehatan dan jabatannya sebagai anak bungsu membuatnya terbiasa dengan sinyal jadi apa-apa bisa lapor. Kondisi cuaca yang dominan panas juga membantunya sehingga asmanya jarang kambuh. Putri bilang, asmanya akan kambuh jika cuaca dingin. Dan inilah alasannya memilih MBD. Dia tahu daerah kepulauan adalah daerah yang panas. Jadi, no problem. ⁣
Putri bisa dibilang keras hati meskipun manja. Ya, wajar dia terbiasa dengan perlakuan khusus dari semua kakak-kakak dan orang tuanya. Tapi, pantang baginya dikatakan manja. Yah, satu lagi penyakit anak bungsu, egois dan mau menang sendiri. Tapi, dari semua sikap itu, dia punya semangat besar untuk mengabdi. Sudah dua kali dia mengikuti seleksi menjadi pengajar muda Indonesia Mengajar. Meskipun tidak lulus, dia tidak patah semangat. Dia ikuti program lain seperti SM3T dan SGI. Dan sepertinya perjuangannya telah ditakdirkan bersama SM3T. Dia adalah orang yang sangat peduli pada pendidikan. Dia akan marah-marah saat konsep pendidikan yang ada di pikirannya, yang bersumber dari hati, dilanggar oleh orang lain. Dia punya mimpi besar, mendirikan sebuah sekolah gratis untuk anak-anak jalanan. Semoga impiannya terkabul. ⁣
Kondisi tubuh yang tidak terlalu kuat tidak menghentikan hobinya yang suka bertualang dan melihat panorama negeri ini. Gelombang besar di kapal tidak membuatnya gentar untuk berlayar. Keras hati. Saat orang lain telah lemas di atas kapal tak kuat menentang gejolak di perut dan muntah terus menerus, dia dengan santainya berkeliling kapal dan memandang dengan senyuman lebar ke arah laut. Orang berbadan besarpun takkan sanggup mengalahkan semangatnya untuk berlayar. ⁣
Putri sudah kehilangan ayahnya semenjak dua tahun lalu, saat tahun terakhir kuliahnya. Keadaan ini membuatnya lebih tegar dan dewasa. Dan sepertinya dia juga paham bagaimana menghadapi orang yang baru saja kehilangan ayah. Ya, dia ada di saat aku kehilangan ayahku. Dia memberikan kesempatan untukku bersedih dan menangis. Dia tidak menyuruhku berhenti menangis seperti yang lain. Mungkin itulah yang dirasakannya saat hal itu terjadi kepadanya. ⁣
Putri adalah teman yang bisa diajak berkelana meski hanya dengan berjalan kaki. Aku dan dia terbiasa nyasar saat berjalan-jalan menuju tempat tertentu. Dan hobi kami kalau sudah nyasar adalah foto-foto dan nyengar-nyegir tidak karuan hihi. Kami juga hobi bertanya. Kadang kala kami sengaja bertanya hanya untuk berbincang-bincang hehe.⁣
Kalau bicara soal pengabdian Putri seorang yang tak tanggung-tanggung. Meski badan telah remuk redam mengajar penuh dari pagi dan dilanjutkan sore hari, saat siswa datang di malam hari untuk belajar, dia akan tersenyum dan melupakan penatnya. Baginya, bersama siswa semua bebannya langsung hilang. Salut deh :) . Dedikasinya untuk siswa-siswanya diberikan dari hati. Tak aneh jika para siswa sangat menyayanginya. Aku masih ingat saat menyaksikan begitu banyak tangis saat perpisahan di hari terakhir pengabdiannya. Uhh. Siapa yang rela melepaskan seorang guru sebaik dia?⁣
Sekarang kita beralih pada teman sepenempatan Putri. Lefrizal, begitulah nama yang diperolehnya dari awal kelahirannya. Bang Alex, begitu kami memanggilnya. Jangan kau tanya asal nama Alex. Hihi. Bang Alex berbadan besar. Jika badanku dan Putri digabung masih saja kalah besar dengan badannya. Awalnya aku mengenalnya saat prakondisi. Saat itu Bang Alex lebih dikenal dengan panggilan Bapak Hambalang. Gelar ini muncul setelah penampilan atraksi kelompoknya pada saat prakondisi outdoor. Mereka menampilkan semacam komedi situasi bagaimana perlakuan panitia prakondisi dan saat itu Bang Alex menjadi Bapak Hambali salah satu dosen kami. Melekatlah nama itu padanya. ⁣
Bang Alex adalah ketua kami, para guru muda SM3T angkatan IV penempatan MBD. Dia orang yang bertanggungjawab pada kesejahteraan kami haha lebay. Dialah jembatan kami dengan pihak LPTK jika ada masalah. Langkahnya yang tenang membuat semua masalah dapat diselesaikan. Meski terkadang terlihat wajah galaunya dalam mengambil keputusan, seperti seorang bapak yang galau anaknya mau menikah haha.⁣
Bang Alex memutuskan mengabdi di negeri rantau setelah sempat mengajar di beberapa sekolah seperti MAN KOBAR dan perguruan Risalah. Pilihannya menuju MBD murni ditunjuk oleh Bapak Hambali. Entah apa yang membuat Bapak itu begitu yakin memilihnya dan meragukan kami yang lebih bersemangat ini. Katanya, awalnya dia takut ditempatkan di MBD tetapi melihat kami yang begitu semangat dan bahkan sempat ditolak membuatnya ikut bersemangat dan penasaran, sebagus apa sih MBD yang membuat bocah-bocah ini tertarik? ⁣
Sebagai teman sepenempatan dengan Putri, yang sering lelah karena keterbatasan kondisi, Bang Alex adalah orang yang sangat pengertian. Dia benar-benar menjaga Putri layaknya adik kandung. Yah, wajar kalau kami disini begitu dekat karena kami tidak punya keluarga lain di negeri rantau. Kondisi masyarakat apalagi pemuda yang kadang sering penasaran membuat kami saling menjaga. ⁣
Kalau bicara soal pengabdian, Putri seorang yang tak tanggung-tanggung. Meski badan telah remuk redam mengajar penuh dari pagi dan dilanjutkan sore hari, saat siswa datang di malam hari untuk belajar, dia akan tersenyum dan melupakan penatnya. Baginya, bersama siswa semua bebannya langsung hilang. Salut deh :) . Dedikasinya untuk siswa-siswanya diberikan dari hati. Tak aneh jika para siswa sangat menyayanginya. Aku masih ingat saat menyaksikan begitu banyak tangis saat perpisahan di hari terakhir pengabdiannya. Uhh. Siapa yang rela melepaskan seorang guru sebaik dia?⁣
Sekarang kita beralih pada teman sepenempatan Putri. Lefrizal, begitulah nama yang diperolehnya dari awal kelahirannya. Bang Alex, begitu kami memanggilnya. Jangan kau tanya asal nama Alex. Hihi. Bang Alex berbadan besar. Jika badanku dan Putri digabung masih saja kalah besar dengan badannya. Awalnya aku mengenalnya saat prakondisi. Saat itu Bang Alex lebih dikenal dengan panggilan Bapak Hambalang. Gelar ini muncul setelah penampilan atraksi kelompoknya pada saat prakondisi outdoor. Mereka menampilkan semacam komedi situasi bagaimana perlakuan panitia prakondisi dan saat itu Bang Alex menjadi Bapak Hambali salah satu dosen kami. Melekatlah nama itu padanya. ⁣
Bang Alex adalah ketua kami, para guru muda SM3T angkatan IV penempatan MBD. Dia orang yang bertanggungjawab pada kesejahteraan kami haha lebay. Dialah jembatan kami dengan pihak LPTK jika ada masalah. Langkahnya yang tenang membuat semua masalah dapat diselesaikan. Meski terkadang terlihat wajah galaunya dalam mengambil keputusan, seperti seorang bapak yang galau anaknya mau menikah haha.⁣
Bang Alex memutuskan mengabdi di negeri rantau setelah sempat mengajar di beberapa sekolah seperti MAN KOBAR dan perguruan Risalah. Pilihannya menuju MBD murni ditunjuk oleh Bapak Hambali. Entah apa yang membuat Bapak itu begitu yakin memilihnya dan meragukan kami yang lebih bersemangat ini. Katanya, awalnya dia takut ditempatkan di MBD tetapi melihat kami yang begitu semangat dan bahkan sempat ditolak membuatnya ikut bersemangat dan penasaran, sebagus apa sih MBD yang membuat bocah-bocah ini tertarik? ⁣
Sebagai teman sepenempatan dengan Putri, yang sering lelah karena keterbatasan kondisi, Bang Alex adalah orang yang sangat pengertian. Dia benar-benar menjaga Putri layaknya adik kandung. Yah, wajar kalau kami disini begitu dekat karena kami tidak punya keluarga lain di negeri rantau. Kondisi masyarakat apalagi pemuda yang kadang sering penasaran membuat kami saling menjaga. Keterbatasan ketersediaan air juga membuat Bang Alex menjadi satu-satunya harapan untuk mengambil air bersih ke perigi dengan menggunakan dua boyo, ember cat besar berukuran 20 kg, yang diikat pada sebilah rotan dan harus disandang dibahu. Aku pernah mencoba mengangkatnya. Ohh, rasanya bahuku mau patah saja. Dalam sehari dia harus mengangkat air saat pagi dan petang. Dan untuk memenuhkan satu drum besar dia harus bolak-balik sebanyak empat kali ke perigi. Apalagi kalau saat mencuci tiba. Dia harus bolak-balik dua kali lipat. Untunglah, setelah seminggu merasakan badannya remuk redam karena tak biasa, sekarang dia sudah profesional dalam mengangkat air. Tak heran, badannya sekarang lebih kurus dan lebih seksi ghaha. Aku sempat pangling mengenalnya saat menjemputku di dermaga waktu berkunjung di MOA. Badannya yang sudah berbeda membuatku ragu. Aku sempat ingin berteriak memanggilnya tetapi kuurungkan, hei kau tahu tak terhitung seringnya aku salah memanggil orang dan berakhir dengan malu. Dan sekarang ternyata aku tak salah mengenal haha. Takjub. Dia tak perlu diet untuk menguruskan badan. Cukup olah raga angkat boyo haha. Kau tahu apa upah yang paling digemari Bang Alex sehabis mengambil air? Mie goreng. Yup, Putri yang sudah kenal tabiatnya sudah siap sedia dengan sepiring mie goreng. Dan dengan melihat ada sepiring mie goreng di atas meja hilang sudah penatnya mengangkat air. ⁣
Jangan kau kira jabatannya sebagai ketua membuatnya bersikap dewasa dan cool. No! Jika kau mengenalnya maka kau takkan percaya dengan sikap konyol yang selalu diperbuatnya. Jika sore tiba dan sudah saatnya memberi makan babi, maka kau akan melihatnya sibuk berkelahi dengan para babi tetangga. Bukan hanya babi, kadang dia berkelahi dengan ayam tetangga yang entah mengapa sangat hobi mendatanginya saat di dapur. Entah apa yang menggoda ayam-ayam itu mendekatinya. Atau saat senja tiba, dia akan mondar mandir mengambil kayu atau batu untuk mengusir ayam yang sudah mengambil posisi nyaman dia atas pohon yang tumbuh mendekati kamar mandi. Bayangkan, ayam-ayam itu bertengger tepat di atas kamar mandi yang tidak memiliki atap. Bertenggerlah mereka sampai pagi. Dan jika hasratnya tiba maka dia dengan sombongnya membuang hajatnya di atas pohon itu. Hei, bukan masalah jika dia buang air di kamar mandi. Hebat malah. Tapi di dunia yang penuh kegelapan ini, betapa malangnya nasib saat kau tiba-tiba ke kamar mandi dan sesuatu jatuh tepat di kepalamu. Jengkel bukan? Rasa geramnya pada ayam-ayam ini agaknya karena pernah mengalaminya haha. ⁣
Nah, dari semua guru muda SM3T MBD, Bang Hen adalah yang paling gila. Aku tak mengerti kenapa kegilaan itu seperti menyatu dengan hati dan otaknya. Hendri Eka Putra namanya di KTP dan ijazahnya. Kami biasa memanggilnya Bang Hen tapi kau tahu panggilannya di rumah? Anggi. Entah apa hubungan Hendri dan Anggi. Mungkin ini salah satu tanda kegilaannya haha. Lahir sebagai anak kembar. Duh, enaknya jadi kembar. Dan aku yakin kembarannya juga sama gilanya. ⁣
Bang Hen juga ditempatkan di Pulau MOA tetapi di desa yang berbeda dengan Putri, Desa Weet namanya. Seorang guru bahasa indonesia. Maklum sebagai anak bahasa dia sangat lebay jika berkata-kata. Semua didramatisir layaknya sebuah pertunjukan. Dan dia akan menunjukkan kebodohannya dengan wajah tanpa rasa bersalah. Entah apa yang ada di otaknya sampai-sampai hal sepele dan tidak penting bisa dia kupas habis dan berhasil membuat perut kami sakit karena tertawa. Aku masih ingat saat kami di kapal, kau tahu tidak ada yang lucu dari wajahnya tetapi hanya dengan melihatnya diam dan tidak berbuat apa-apa itu sudah cukup. Kapal yang menyediakan tempat tidur membuat kita bisa tidur dengan nyaman. Jika kau bosan cukup melihatnya tertidur maka kau akan tertawa. Posenya tidur sangat seksi mengalahkan Anggelina Jolie haha. ⁣
Pernah juga suatu ketika kapal kami sandar di Pulau Tepa. Kami yang bosan di atas kapal, duduk di dermaga sambil berbincang-bincang bersama. Bang Hen adalah pemateri kami. Bayangkan betapa tidak pentingnya bahasan kami malam itu. Saat itu bulan setengah penuh menggantung di langit dan bintang bertaburan disekitarnya. Sesekali awan hitam menutupinya dan membuat kami sedikit sulit melihat karena tidak ada cahaya. Dan di hadapan bulan yang terang dia memamerkan keseksian pantatnya dan membandingkan dengan kami yang memang sangat jauh kalah darinya. Haha. ⁣
Bang Hen adalah orang yang paling tahu caranya mengusir bosan. Saat kami menunggu turun dari kapal karena begitu banyaknya manusia yang akan turun, Bang Hen akan mulai memetik gitar dan kamipun ikut bernyanyi bersama. Awalnya sih ok, nyanyian merdu dan enak di dengar. Semakin lama lagunya semakin tidak menentu dan aneh. Tapi bukankah aku sudah bilang, kami tahu caranya menggila bersama. Yah, kami tetap melanjutkan. Semua benda di sekitar kamipun jadi alat musik. Hei, kami guru SM3T, dan kami tidak pernah malu melakukan apapun di sana. Saat itu tepat tanggal 17 Agustus, mulailah kami menyanyikan lagu kebangsaan. Seolah-olah kami ikut merayakan hari kemerdekaan dengan khidmatnya. Hei, kau tahu mereka yang ada di sana, penduduk asli lama-lama ikut bernyanyi bersama kami. Oh, rasanya ikut berjuang saat meraih kemerdekaan hihi. ⁣
Bang Hen juga berjiwa dagang. Semua dijadikan bisnis. Mulai dari gorengan sampai batu bacan yang sedang panas-panasnya di dunia perbatuan. Kalau Bang Hen sudah mulai promosi tentang batunya, duh ampun deh. Dari a sampai z dia tahu mana batu yang bagus, palsu bahkan yang murah tapi bagus. Kalau dia sudah duduk di dekat bapak-bapak dengan seriusnya, sudah pasti pembicaraan mereka adalah tentang batu. Begitu betahnya dia berada di dunia kegelapan itu.⁣
Kegilaan Bang Hen baru akan hilang saat dia sudah berada di depan laptop. Jangan kau kira dia membuat sesuatu yang penting. Hei, sebagai seorang lelaki yang sedikit macho, puihh, dia adalah orang yang sangat menyukai film korea. Bayangkan KOREA! Jika dia sudah menonton drama korea jangan harap apapun yang kau katakan akan direspon seperti biasa. Dia akan diam bagai batu. Mau hujan lebat, petir, dan petaka besar terjadi, dia takkan bergeming. Hening. Terkadang air matanya pun mengalir haha, ternyata di balik wajahnya yang sedikit angker tersimpan hati yang lembut.⁣
Lelah membicarakan hal yang tak penting dari seorang Bang Hen, haha. Kita beranjak pada guru muda nan cantik jelita namun gilanya tak kalah hebat dari Bang Hen. Seorang pengikut setia Bang Hen. Dimana ada Bang Hen di sana ada dia. Lola Wulandari terlahir sebagai warga asli Padang dan pernah tinggal di Jambi selama beberapa tahun. Tak heran gaya bicara dan sikapnya lebih mirip orang kito galo haha. Lola berpostur tubuh tak lebih tinggi dariku tapi memang dasar kami yang tak pernah mau mengalah masalah tinggi badan, dengan banggannya dia mengatakan bahwa dia itu tinggi, paling tidak lebih dariku. ⁣
Dia biasa dipanggil Ola. Olla adalah guru Geografi sama seperti Bang Leo, teman sedesaku. Dia ditempatkan di SMA N Weet. Jurusannya yang sangat erat hubungannya dengan berbagai hal unik di permukaan bumi membuatnya mencintai petualangan. Pilihannya merantau ke MBD juga murni dari niat awalnya sendiri. Tidak ada yang meminta. Dan kau tahu betapa irinya aku saat kutahu dia tidak mendapat penolakan seperti aku dan Putri. Padahal postur tubuh dan tingginya tak beda jauh dari kami. Mungkin sedikit lebih berisi tapi 11/12 lah yee. Tujuannya memilih pergi begitu jauh ke ujung paling timur Indonesia ini adalah untuk melihat seberapa indah dan cantiknya negeri bawah laut dan panta di sepanjang pesisir pulau-pulau MBD. Aku curiga dari awal dia sudah tahu kalau MBD itu surga yang tersembunyi. ⁣
Ibu guru Olla dikenal siswa sebagai guru yang selalu bersemangat dan senyuman selalu menghiasi wajahnya. Sikapnya yang humble membuatnya mudah menyatu dengan masyarakat. Mulai dari anak baru lahir, siswa, pemuda, mama-mama, sampai tete dan nenek-nenek. Tak jarang karena sikapnya ini banyak pemuda yang berniat melamarnya. Tapi dengan gesit dia memamerkan cincin di jarinya dan bersabda “maaf buu (panggilan untuk laki-laki yang lebih tua), beta su punya tunangan ni, Beta su mau nikah balik dari sini”. Berbagai usaha dilakukan para buu di Weet, tempatnya mengabdi, tetapi dengan senyumannya dia menolak. ⁣
Pemuda Maluku terkenal dengan rayuan yang dahsyat dan pandai bersilat lidah. Meski Olla sudah memamerkan cincin saktinya, mereka tetap mencoba merubah pikiran Olla. Tapi, Olla bukan orang yang mudah dilawan. Dia punya sejuta jurus untuk menjawab setiap kata dari orang-orang yang menggodanya. Terkadang Olla menjadi tempat berkonsultasi guru-guru perempuan saat kejadian yang sama terjadi. Keberadaan guru muda SM3T khususnya perempuan yang semuanya berjilbab dan mudah senyum, membuat banyak hati-hati di negeri manise luluh ghaha. Tak heran mereka dengan mudahnya “masuk minta” (melamar) dengan terang-terangan. Tapi, kami yang memang ke sana dengan satu tujuan sederhana, untuk mengabdi, tak pernah memikirkan untuk mencari pasangan hidup. Apalagi, hampir semua dari kami adalah anak-anak kecil yang terjebak di tubuh orang dewasa, wkwkwk. Untuk hal seperti pernikahan sepertinya masih beberapa tahun lagi. ⁣
Olla adalah partner bisnis Bang Hen. Sebagai partner juga merangkap manager keuangan, sumber manifestasi dan konsultan hukumnya. Rencana-rencana besar mereka terkadang berbuntut debatan panjang, haha. Dan tahukah kau siapa yang menang? Bang Hen takkan berkutik jika Olla sudah memutuskan. ⁣
Dalam perjalanan panjang di MBD, yang notabene semua membutuhkan perjalanan menggunakan kapal. Olla adalah insan lemah tak berdaya melawan kekuatan laut. Jika Olla sudah menaiki kapal, jangan harap kau akan melihatnya bersantai di Palka, atau berjalan di tingkatan paling atas kapal untuk menikmati pemandangan laut. Jika Putri adalah kasta tertinggi pemilik kekuatan laut yang tak pernah tumbang karena tinggi dan besarnya gelombang maka Olla adalah kasta terendah yang tak tahan mabuk laut. Bayangkan, baru saja memasuki kapal, dan kau tahu kapal belumlah memulai perjalanannya, dia sudah mulai menyetor isi perutnya ke dalam kantong kresek ataupun bak besar tempat sampah. Wajah pucat pasi dan hanya mampu berbaring tanpa gerakan sedikitpun. Jika Bang Hen tunduk pada kata-kata Olla, maka Olla tak berkutik pada kerasnya gelombang laut. Jadi kau jangan pernah tanya padanya seperti apa indahnya lautan saat kapal sedang melaju. Dia hanya akan hidup saat sudah kembali di darat. Sepertinya dia sudah memakan buah setan sehingga nyawanya hilang sebagian jika sudah melakukan perjalanan laut. Haha. ⁣
Olla seorang yang tak malu-malu meski juga tak bisa disebut tak tahu malu, hei itu gelar Bang Hen hihi. Memang benar di negeri rantau ini, kami tidak bisa lagi mengandalkan kata malu. Niat tulus untuk mengabdi membuat kami menghilangkan kata itu. Apapun kami lakukan dengan satu tujuan yaitu ikut meningkatkan kualitas pendidikan dan membuat anak-anak yang teramat kami sayangi merasakan kasih sayang ibu pertiwi. Dan menyadarkan mereka bahwa negeri ini juga menyayangi mereka meski selama ini sering terlupakan. Membuat mereka bersemangat dan sadar bahwa dunia tidak hanya seluas pulau yang mereka tinggali, bahwa hidup mereka tidak boleh hanya dihabiskan seperti ibu dan ayah mereka. Bahwa mereka punya kesempatan dan hak untuk membingkai mimpi mereka seindah dan setinggi-tingginya. Kami membuka mata mereka bahwa dunia itu luas, dan berharap mereka akan mengarungi luasnya dunia ini. Dan meski nanti kami tak sanggup melihat indahnya negeri-negeri lain di pelosok bumi ini, kami berharap mereka akan menyimpan cita kami dan mewujudkannya. Buset ngomong apa  sich...⁣
Sekarang kita beralih pada teman sepenempatan Olla. Meskipun Bang Hen dan Olla sama-sama di Weet namun mereka ditugaskan di sekolah yang berbeda. Dan teman guru SM3T yang satu sekolah dengan Olla adalah Agus. Agus Arlingga, begitu dia memperkenalkan diri padaku saat kami sama-sama berada di kelompok MIPA saat prakondisi indoor. Pemuda yang tak punya darah minang ini adalah lulusan Universitas Negeri Jambi. Dia mengampu mata pelajaran Fisika sama seperti Putri. Gaya bicara minangnya yang masih patah-patah dan sering bingung jika sudah mendengarkan orang berbicara menggunakan bahasa minang ini menunjukkan bahwa ini pertama kalinya dia menyatu dengan kehidupan orang Padang. Dan aku curiga, saat dia ikut tertawa bersama kami yang suka bergurau, dia tidak tahu apa yang membuatnya harus ikut tertawa. Haha. ⁣
Agus seorang yang visionaris. Dia sudah merencanakan dengan matang langkah yang harus dilaluinya untuk mencapai begitu banyak mimpinya. Semua rencananya tertulis dan terstruktur. Bahkan Bang Hen pernah melihat rencana yang akan dilakukannya dalam satu bulan tertulis di meja belajarnya. Hmm, salut. ⁣
Selain seorang pemimpi besar, Agus juga pebisnis yang tak tanggung-tanggung. Untuk masalah batu bacan saja dia tak segan-segan mencari hingga ke Ternate, tempat semua batu berharga itu bersarang. Padahal dia bukan pelaut tangguh. Tak jarang dia juga takluk pada gelombang laut dan memasrahkan isi perutnya pada kebaikan kantong kresek. Tapi yah, kemauannya yang kuat membuatnya mampu melewatinya. ⁣
Dia juga seorang yang simple dan tak mau ambil pusing. Saat kami masih pusing mencari tempat tinggal saat Ramadhan di Kota Ambon, dia dengan santai memutuskan untuk tinggal di mesjid sebaga garin. Dan kau tahu, dia juga tak segan-segan merencanakan acara berbuka bersama anak yatim saat kami masih bingung bagaimana hendak berbuka. ⁣
Aku masih ingat saat prakondisi,  seorang Agus menampilkan dirinya secara tidak biasa, ghaha apaan sih. Dia tidak segan-segan memerankan menjadi seorang Enjel, banci galau amatiran yang belum nyaman dengan dandanannya sehingga lebih sering memperhatikan dan memegang dada buatannya sendiri. Dengan wajah oon, dan ya tidak pernah terbayangkan akan keluar dari seorang yang lebih banyak diam dan jarang bercanda ini, cerita mereka berhasil membuat perut kami sakit karena tertawa terbahak-bahak. Aku yakin jika kau mengenalnya lebih dalam mungkin tingkat kegilaannya membuatmu tercengang dan berkata “gila ni anak”. Kan sudah kubilang, dari 20 orang yang melangkah bersama, tidak ada yang benar-benar waras di antara kami, hihi. Semua punya versi gilanya masing-masing. Dan kami beruntung dipertemukan dalam satu tujuan. MBD.⁣
Mari kita lanjutkan gosip kita. Seorang lulusan Sarjana Kependidikan UNP dari jurusan teknik sipil ini bisa dibilang blesteran. Kau tahu permen blester yang belang-belang kaya warna kulit jerapah? eh bukan zebra? Ah, sudahlah mirip ini. Kupikir jerapah lebih bagus kalau kulitnya belang-belang. Haha. Campuran darah Medan dan Jambi menyatu di dalam tubuhnya. Tapi, karena sudah terlalu lama berada di Jambi mungkin kau akan meragukan kemedanannya. Dan hanya namanya yang menunjukkan kalau dia memiliki darah Medan asli.⁣
Aku masih ingat saat pertama kali aku melihat nama itu tertulis pada secarik kertas yang tertempel di kaca pintu masuk hotel New Rasaki, tempat kami prakondisi indoor. Di bagian paling atas kertas itu bertuliskan nama-nama Peserta Program SM3T daerah penempatan MBD. Setelah kulihat namaku, matakupun beralih pada rekan sepenempatanku yang lain. Disana tertulis Kapten Harahap. Wah, nama yang aneh hihi. Aku sempat penasaran apa alasan dibalik pemberian nama Kapten itu. Banyak kemungkinan konyol di kepalaku. Kau juga kan? Dan sebenarnya aku lebih penasaran seperti apa wujud seorang Kapten Harahap. Apa dia seorang yang berbadan besar dengan otot baja dan tulang kawatkah hihi? ⁣
Bang Kapten begitu kami memanggilnya. Sebagai golongan orang yang berbadan besar, dia biasa menjadi penolong kami para insan yang lemah haha. Dia biasa bersikap layaknya kakak laki-laki. Dia akan dengan sigap membantu saat kami membutuhkan bantuan. Dia adalah orang yang hobi makan dan tak segan-segan berbagi makanan dengan yang lain. Dan saat kami merengek meminta makanan dengan cepat dia akan membelikannya. Terima kasih Bang Kapten hehe. ⁣
Jika seorang Kapten kapal menyatu dengan lautan dan berdiri layaknya penguasa dunia air, kupikir dia juga akan menyukai perjalanan laut karena mau atau tidak, nama itu telah melekat padanya. Yah, paling tidak ada kekuatan rahasia yang diberikan saat nama itu dianugerahkan padanya. Tapi, kau tahu, badannya yang besarpun takluk di bawah kekuatan laut. Di darat dia bisa menyombongkan kekuatan dan kebesaran badannya tapi di laut haha, ciut bro. Paling-paling dia berani naik ke bagian atas kapal untuk melihat-lihat saat kapal berhenti sebentar untuk menaikkan penumpang. Saat itu kembalilah kesombongannya. Tapi, dia akan segera bergegas turun menuju tempat tidur saat stoom 3 berupa bunyi nguuung sebanyak tiga kali pertanda kapal akan mulai berlayar. Diam dan tak berkutik hihi. Dan kau tahu bukan saat kapal berjalan yang membuat ketakutannya terlihat jelas tapi saat pemberhentian dan tempat tujuan telah di depan mata. Apalagi di tempat yang tidak ada dermaga.⁣
Aku masih ingat saat pelayaran pertama kami menuju daerah penempatan. Pulau Lirang yang memang menjadi pemberhentian pertama dan menjadi tempat pengabdiannya terletak di sebuah pulau kecil di bagian barat Pulau Wetar. Desa ini belum memiliki dermaga tempat sandarnya kapal-kapal besar. Akibatnya kapal hanya bisa berlabuh di tengah lautan. Dan agar sampai di tepian kita harus menaiki motor laut yang berukuran sangat kecil. Saat itu kulihat wajahnya yang memang putih semakin memucat seperti habis dihisab habis oleh vampir hihi. Kekhawatiran pun tergambar di keningnya. Pandangannya lurus melihat motor laut sambil memeluk tas yang dibawanya. Tak ada respon apapun saat diajak bicara. Aku curiga, mungkin saat mata-mata dari orang d sekitar tak lagi tertuju padanya air matanya mengalir karena takut haha. ⁣
Rasa takutnya pada lautan sebenarnya wajar karena memang perjalanan menggunakan motor laut bukan main-main. Salah-salah nyawa melayang. Dimulai dari turun kapal menuju motor saat kapal masih terombang-ambing karena gelombang laut yang besar. Saat ombak memukul motor laut dengan keras menghempas ke kapal, tubuhmu akan oyong. Sepandai apapun kau berenang aku yakin kau akan gemetar dan tetap gamang membayangkan jatuh ke dalamnya lautan. Satu motor laut yang diisi penuh oleh manusia pun barang-barang membuatmu sulit berpegangan. Saat kau telah berhasil mendapatkan posisi yang bagus di dalam motor lautpun tantangan berikutnya menanti. Ombak yang menghempas menuju tepian pantai membuat kapal sulit dikendalikan dan kekuatan ombak yang menahan motor kadang membuat motor terbalik. Jika sang pengemudi motor tidak profesional, dalam hitungan detik motor laut sudah hancur berkeping-keping. ⁣
Dan kami menyaksikan perjuangan berat motor yang ditumpanginya menuju pantai. Berulang kali motor laut memutar haluan karena tak kuat menahan besarnya gelombang. Untunglah mereka selamat sampai tepian. Dan aku yakin, itu adalah perjalanan pertamanya yang paling mengerikan. ⁣
Melihat ketakutannya pada perjalanan laut sepertinya keputusannya menuju MBD bukan murni keinginanya. Kau tahu, aku selalu jengkel dengan mereka yang bisa ditempatkan di MBD tanpa perjuangan dan bahkan tidak menginginkannya. Jadi, kau maklum saja haha.  ⁣
Bicara masalah kegilaan, jika kau baru mengenalnya maka kau akan mengira dia adalah seorang yang mengerikan dan tak mengenal gurauan. Diam tak bersuara dan bicara seperlunya. Tapi, saat kau telah tahu bagaimana aslinya, kau akan terkejut mendengar hal-hal gila yang diungkapkannya. Jadi, jika kau bertemu dengannya yang sok cool dan jaim, sudahlah jangan kau percaya. Itu semua hanya pembohongan publik haha. ⁣
Sebagai guru di SMK, dimana guru masih sangat terbatas, dan bahkan hanya ada kepala sekolah dan guru SM3T di sana, sosok Bang Kapten adalah sosok guru yang tegas dan disiplin. Siswa-siswa tunduk di bawah peraturannya. Dia tak akan segan-segan memberikan hukuman pada siswa. Dan kau tahu itu sangat dibutuhkan oleh siswa SMK yang terkenal lebih bandel dibandingkan siswa SMA. Tapi, kau tahu di balik ketegasannya, dia sangat patuh pada kata-kata teman sepenempatannya. Jika Bang Hen tunduk pada kata-kata Ola, maka Bang Kapten tunduk pada kata-kata Bang Jum. Siapa itu Bang Jum?⁣
Namanya Fit Jumardi Putra, dan kami memanggilnya Bang Jum. Bertubuh besar dan wajah agak sedikit angker. Untunglah saat menuju MBD rambutnya telah dipotong. Jika kau melihat fotonya saat masih kuliah dengan rambut panjang dan keriting maka tingkat keangkerannya menigkat berkali lipat haha. Tak pernah terbayang betapa seramnya saat tengah malam melihatnya berjalan sendirian dan kau melihatnya di dalam kegelapan. Hiiii seraaaam. Tapi di balik keangkerannya tersimpan hati yang baik, preet. Dia lebih senang disebut malaikat berwajah setan. Entah apa yang membuatnya bangga dengan wajah setan sebutannya sendiri. Ckckc. Dia sosok yang menyebalkan dan arogan. Selalu semena-mena dengan insan imut seperti kami. Haha. Pandangannya selalu sebelah mata, dan saat mereka memandang kami yang  memang sedang membutuhkan bantuan dan selalu membuatnya memberikan bantuan, dalam hati dia berkata “huft kenapa bocah-bocah ini selalu saja merepotkan”. Haha. ⁣
Keangkeran dan kebesaran tubuhnya tidak serta merta menjadikannya seseorang yang berani. Hei, maukah kau kuberitahu sebuah rahasia? Bang Jum juga seorang yang penakut. Hihi. Aku masih ingat saat itu dia berkunjung ke Ilwaki, tempatku mengabdi, dengan wajah datar dan keringat berbulir-bulir di keningnya dia bercerita tentang perkenalan pertamanya dengan makhluk halus yang ada di tempatnya. Wajahnya pucat dan matanya memandang sekitar takut-takut makhluk yang diceritakan mendengar dan berniat mengganggunya karena membocorkan rahasia besar. ⁣
Aku yang sedikit geli melihatnya serius bercerita, akhirnya menceritakan kisah yang lebih angker di tempatku. Dia mendengarkan dengan serius. Saat itu mama piaraku juga menambahkan cerita dengan berapi-api. Sesekali Bang Jum melirik ke pintu. Aku tahu yang ada dipikirannya. Haha. Sebelum malam semakin tinggi dan mama menceritakan hal yang lebih angker, Bang Jum terlihat memandangi jam. Mama yang sadar lalu berkata “lebih baik dong pulang sudah, jang lupa kalau naik motor berdua, jang diam sa, ngobrol apakah apakah, kalo dong diam nanti teman yang dibelakang hilang dan berganti dengan makhluk lain”.  Serta merta wajah Bang Jum dan Bang Leo yang saat itu juga ikut menemaninya jadi pucat pasi. Haha. ⁣
Sebenarnya aku tidak terlalu mengenalnya saat awal keberangkatan kami, ahh sudahlah, hampir semua orang asing bagiku saat itu. Semua bahkan terlihat mengerikan dan aku tidak mau dekat-dekat dengan mereka. Aku takut. Dan kau tahu apa yang kutakutkan? Aku takut mereka menggigitku. Haha. Tapi, saat Bang Jum pertama kali berkunjung ke tempatku, aku sangat senang. Seperti dikunjungi oleh keluarga terdekatku. Banyak hal yang kami bicarakan layaknya sahabat lama yang merangkai nostalgia masa lalu. Padahal kami tidak akrab. Dan aku bukan orang yang biasa berbincang dengan orang yang tidak terlalu kukenal apalagi laki-laki. Tapi, setelah melewati hari-hari bersama orang-orang yang beda bahasa dan budaya, senang rasanya bebas berbahasa minang dan tertawa terbahak-bahak. Dan Bang Jum adalah manusia purba yang punya bahasa minang versi zaman dahulu kala. Jujur, kadang aku tidak tahu kosakata minang yang digunakannya. ⁣
Bang Jum berasal dari Fakultas Teknik sama seperti Bang Kapten. Mantan Ketua MPALH UNP ini keras kepala dan terkadang mau menang sendiri. Tapi, dari semua sikapnya yang tidak kusukai, Bang Jum adalah orang yang bertanggungjawab dan bisa diandalkan. Koneksinya ada dimana-mana. Orang yang mudah bergaul dan menyatu dengan masyarakat. Dan semua preman di Ustutun adalah konconya. Haha. Wajar sih, wajahnya yang mirip preman pasti membuat mereka merasa ada hubungan erat yang sulit dijelaskan. Seperti saudara yang telah lama hilang dan berhasil ditemukan. Kadang aku membayangkan saat mereka bertemu, saat waktu diperlambat dan mereka saling berlari mendekat dan berpelukan. Satu-satu air matapun menetes. Ghaha. Dan mulailah musik slow diputar. Tapi hanya sekejab karena musik itu akan langsung berganti dengan dentuman keras musik rock yang memekakkan telinga. Ups, bukan rock. Kayaknya lebih cocok musik dangdut hihi.⁣
Tak perlulah kau bertanya apakah pilihannya menuju MBD ini murni darinya atau dipaksa. Aku bahkan akan heran kalau saja pilihannya bukan MBD. Semua hal yang dimilikinya sudah lebih dari cukup untuk menaklukan negeri manise ini. Terbiasa bertualang dan menaklukan tantangan saat masih aktif kuliah membuatnya siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk. Dan sikapnya yang tenang sedikit banyak menular kepada kami saat keadaan yang tidak kami harapkan terjadi.⁣
Seorang yang berbadan besar, garang, dan sedikit mengerikan ini awalnya akan terlihat pendiam dan sulit diajak bercanda. Tapi, kau tahu, dia bisa lebih cerewet dari pada ibu-ibu yang punya banyak anak dan sedang repot mengatasi tingkah anaknya yang seperti kemasukan setan. Bila dia sudah bicara maka kau akan kesulitan menyuruhnya berhenti. Dan kau tahu kelemahannya? Hihi. Dia lemah kalau sudah berdekatan dengan cewek cantik haha. Dia takkan memperdulikanmu saat di sekitarnya ada perempuan kinclong. Mau petir sambar menyambar dan guntur membuat bumi bergemuruh, dia akan tetap bergeming. Dia akan fokus pada satu tujuan. Haha. Jika di depan kami dia tak malu-malu bahkan tak tahu malu serta bicara seenaknya, di depan makluk berparas cantik dia akan berubah menjadi lebih kalem dan sedikit bicara. Memanglah ya laki-laki. Ckckck...⁣
Bersama kedua makhluk berbadan besar ini, Kak Pit ibarat susu yang menawarkan racun-racun yang telah dihasilkan Bang Jum dan Bang Kapten. Hafizhatil Husni, nama ini tertulis manis di KTPnya. Dia adalah satu-satunya guru SM3T MBD perempuan yang berasal dari Fakultas Teknik. Badannya tinggi dan sedikit kurus saat awal keberangkatan kami dari Padang. Tapi, entah kekuatan apa yang dimiliki MBD, saat beberapa bulan kemudian, saat kami bertemu di kapal menuju Kupang, badannya lebih berisi dan gemuk. Dia sering bersikap layaknya ibu bagi kami. Mengurus urusan remeh temeh jika kami telah berkumpul. Dia adalah andalan kami saat acara memasak bersama. Jika dia sudah datang, cabe-cebe merah akan segera kami persembahkan di hadapannya. Kami akan langsung memujanya saat itu. Dan kami tak akan lagi mengingatnya setelah cabe digiling haha. ⁣
Badannya yang tinggi dan sikapnya yang dewasa sangat berbanding terbalik denganku. Aku kadang jengkel jika berpergian dengannya. Saat kami menyempatkan diri menyantap es pisang ijo di pinggiran jalan terminal pasar Mardika, Ambon, si abang penjual es dengan ringan bertanya pada Kak Pit, “Mau antar ponakannya sekolah ya? ponakannya sekolah di mana?”. Aku yang saat itu lagi semangat-semangatnya memasukkan sebongkah pisang ke dalam mulut tiba-tiba kaget, dan kau tahu, si pisang dengan tak sopannya meluncur ke tenggorokanku tanpa sempat kukunyah. Hancur sudah keindahan makan es pisang ijo sore itu. Kejengkelanku semakin menjadi saat Kak Pit menyahut dengan senyum mengembang “Iya Bang, ponakan saya mau pergi sekolah jadi saya antar”. Haha, bagus!. Bukan sekali dua aku dikira anak sekolahan. Bahkan guru di tempat pengabdian sering mengolok-olokku. Saat itu salah satu guru menyentuh pundakku seraya berkata “Ibu Des, beta tadi lihat di ujung jalan ada anak kecil berseragam pramuka menuju SMA, beta pikir anak SD mana yang datang ternyata Ibu Des”. Guru lain yang mendengar sontak tertawa. Huaaa, bolehkah aku marah?⁣
Kak Pit lahir sebagai gadis minang tulen. Tapi, banyak keluarganya yang telah merantau jauh sampai ke Maluku. Wajar jika dia tanpa ragu memilih MBD sebagai tanah pengabdiannya. Satu tahun takkan jadi masalah saat tempat tujuan kita bukan lagi tempat yang asing karena punya keluarga yang akan menanti dan membantu saat kita kesulitan. ⁣
Tahukah kau, sebenarnya dia bukan orang yang waras. Ups. Hihi. Kegilaan akan semakin meruncing saat dia bergabung bersama kami. Meskipun wajahnya sangat dewasa, terkadang gurauannya melebihi kami yang berwajah manis seperti anak kecil ini. Ahh. Mau gimana lagi, saat kami bersama, sifat asli akan muncul. Dan kami tidak pernah malu. Dan nanti saat kami telah kembali ke daerah pengabdian, kami berubah menjadi guru yang sedikit jaim hehe.⁣
Masalah pengabdian, Kak Pit juga tidak tanggung-tanggung. Desa Ustutun yang memiliki beberapa keluarga muslim membuatnya ikut turun tangan mengajarkan siswa-siswa bagaimana membaca al-quran, mengaji, dan ibadah lain seperti sholat dan puasa. Jika sore menjelang, dia akan melangkah menuju mushala menantikan bocah-bocah yang haus pengetahuan agama. Beberapa saat kemudian akan terdengar suara-suara tertatih mengeja dan melafalkan huruf-huruf hija”iyyah. Niat tulusnya memudahkan belajar Al-quran. Berbagai kegiatan keagamaanpun dirancangnya. Seperti ceramah agama dan perlombaan azan dan praktek ibadah. Mayoritas penduduk MBD secara umum memeluk agama Protestan. Hal ini mengakibatkan pemeluk agama Islam rata-rata masih rendah pengetahuan agamanya. Dan Kak Pit dengan besar hati memberikan waktunya untuk membantu masyarakat yang ingin tahu lebih dalam bagaimana beribadah dengan benar. Meskipun badan telah lelah karena mengajar di sekolah, tetapi senyumnya tetap mengembang saat menantikan santri-santri cilik berlari menuju mushala. Sederhana namun sangat berarti. ⁣
Srikandi selanjutnya adalah Monna. Namanya cantik secantik rupanya,  Fathrecia Monna. Parasnya seperti aktris Korea. Kalau Sule bilang bening haha. Tak heran di daerah penempatan banyak pemuda yang menaruh hati padanya. Monna bertubuh mungil, sedikit lebih tinggi dariku, Huh, betapa aku tak rela mengatakan itu. :(. Jika berbicara, kau akan tahu dia bukan penduduk asli minang. Dia berasal dari Bengkulu. Kau tahu, bukannya aku memuji tapi sudah beberapa kali aku bertemu dengan gadis-gadis asal Bengkulu, semua cantik dan bening. Jujur, dalam hati aku sedikit iri. Haha. Entah rahasia apa yang tersimpan di negeri itu. Sepertinya, di sana ada ramuan rahasia yang berada di puncak gunung. Mungkin sang ayah yang menunggu kelahiran anak perempuannya harus melakukan perjalanan tujuh hari tujuh malam dan sebelumnya harus berpuasa tujuh hari berturut-turut. Waah, kebanyakan nonton Wiro Sableng jadi gini deh. Hihi. ⁣
Pertama kali melihatnya di saat prakondisi outdoor, aku sudah mengira dia bukanlah mahasiswa dari UNP. Ternyata dugaanku benar. Tah heran dia berani, tak seperti kami yang biasanya pemalu ghaha. Awalnya aku sedikit tidak menyukainya. Siapa sih, cewek ini. Saat aku masih mencoba memberanikan diri untuk maju ke depan dan  mengikuti rangkaian kegiatan bertema P3K, lihatlah dia sudah berdiri di hadapan kami semua dan dengan bebasnya memberikan tiupan nafas dari mulutnya ke mulut sebuah manekin. Dia melakukannya dengan sepenuh hati seolah-olah jika dia tidak melakukannya, manekin itu takkan bisa lagi melihat indahnya mentari. Wkwk. Pipinya mengelembung dan hidungnya kembang kempis. Mukanya merah padam tak sabar dan sedikit jengkel dengan manekin sialan itu. Hanya dengan melihatnya saja aku sudah tahu betapa sulitnya melakukan CPR itu, tapi dia tak mau takluk. Keras kepala. ⁣
Cewek cantik identik dengan manja, menurutku sih, piece bagi yang merasa cantik :D. Tapi, berbeda dengan seorang Monna. Kau takkan pernah menyangka apa yang bisa dia lakukan. Jika kebanyakan di antara kami, cewek-cewek, berpikir ribuan kali untuk ditempatkan di MBD, Monna dengan santainya menerima keputusan LPTK yang langsung menempatkannya di sana karena bukan berasal dari UNP. Dia sedikit gila menurutku. Entah ada kekuatan rahasia apa yang dimilikinya, dia tak gentar sedkitpun. Dia cewek yang mandiri dan tidak mau bergantung pada orang lain. Jujur, aku tidak akan berani jika aku sendirian ditempatkan di daerah penempatanku. Ohh, bayangkan tidak ada teman untuk sekedar curhat atau merengek. Sungguh mengerikan. Tapi dia tidak. Saat terjadi perubahan pembagian daerah penempatan yang memungkinkannya untuk ditempatkan sendiri dengan tenang dia berkata “kalau Monna sih nggak masalah mau sendiri juga ok, yang penting jelas dimana nih tempatnya”. Wuih dahsyat.⁣
Cewek yang selalu memakai eyeliner dan segala macam alat kecantikan ini juga sangat humble dan mudah membaur dengan masyarakat. Hal yang mudah baginya untuk bersikap akrab dengan orang yang baru ditemuinya. Aku masih ingat saat kami berbelanja perlengkapan untuk hidup di penempatan, dia mondar mandir berkeliling dengan santainya. Tersenyum, bergurau dan menawar harga sesuka hatinya. Bahkan menggoda mama-mama. Dan saat itu juga dia langsung mendapatkan tempat belanja langganan yang akan dikunjunginya jika di bulan-bulan berikutnya nanti perlu berbelanja dan kau tahu dia langsung dapat penjual yang gampang sekali memberikan diskon. Jadilah kami saat itu kecipratan harga miring hehe. Hei, dia juga sangat terkenal di Pulau Wetar.  Aku curiga diantara kami guru-guru SM3T di pulau itu, dia yang paling dikenal oleh warga. Aku sering mendapat kabar dari siswa ataupun masyarakat yang baru saja kembali dari Desa Lurang, desa tempatnya mengabdi. Mereka semua sibuk menanyakan kepadaku apakah aku mengenal seorang guru cantik berjilbab yang ada di sana. Kadang kala aku jengkel karena mereka terus-terusan bertanya. :(⁣
Jika bicara masalah pengabdian, kupikir Monna sangat menikmatinya. Kau tahu saat kami memutuskan menuju Ambon, Kupang, atau sekedar keluar Pulau untuk menghabiskan liburan, dia bersama rekan sepenempatannya dengan mantap memutuskan tetap di tempat. Dan saat ramadhan tiba, tak sedikitpun mereka berniat mengikuti kami ke Ambon untuk sekedar menikmati tarawih dan sholat Ied bersama. Dia setia menemani siswa-siswanya dan tak rela meninggalkan mereka meski hanya sebentar saja. Wajar saja siswa dan penduduk menyayanginya. Mereka bahkan mengantarkan sampai di Kota Ambon tempat kami akan menaiki pesawat dan meninggalkan negeri Manise ini. Kereeeen. ⁣
Kau mau tahu siapa saja rekan sepenempatan Mona? Bang Yopi begitulah panggilannya. Tapi kau tahu dia lebih senang dipanggil dedek Yopi ghaha. Riyopi Erisandra. Tak usah kau pedulikan nama belakangnya yang kupikir lebih cocok diberikan pada perempuan, hihi. Aku tidak terlalu mengenalnya. Itulah yang akan aku jawab jika kau bertanya beberapa bulan yang lalu saat kami masih dalam masa pengabdian. Pertemuan kami hanya dua kali. Saat pertama kali berangkat dan saat kami akan pulang ke kampung halaman. Hebat kan. Tapi dari dua kali pertemuan ini biarlah kuceritakan padamu seberapa gila Bang Yopi di mataku.⁣
Bang Yopi bertubuh kecil, itulah kata yang akan kukatakan untuk menggambarkannya kalau saja kata pendek terlalu kejam haha. Suaranya srak-srak agak menyeramkan. Seperti suara penjahat yang menelepon untuk meminta uang tebusan karena telah berhasil menculik anak orang kaya. Atau suara monster dalam film ultraman. Hihi. Aku yang memang jarang berbincang dengan rekan yang bernama laki-laki saat awal keberangkatan kami, bisa dikatakan tidak pernah berbincang begitu lama. Paling-paling hanya bertanya nama, jurusan, asal, dan kau tahu baru dua menit berlalu aku akan lupa semua yang kutanyakan. Sepertinya aku memiliki penyakit diseleksia tingkat rendah haha. ⁣
Selama di kapal melaju menuju tempat pengabdian kulihat Bang Yopi tak henti-hentinya membaca alma’tsurat. Dan aku yakin dia banyak membawa buku-buku agama. Di balik suaranya yang menyeramkan, Bang Yopi orang yang alim. Selalu berupaya mendekatkan diri dengan yang Maha Kuasa. Saat orang-orang menyerah dan memasrahkan dirinya pada tempat tidur karena tak sanggup menahan gejolak perut bila bangun tapi lihatlah, tak pernah sekalipun dia meninggalkan sholat, meskipun geloombang besar menghantam kapal.  Meskipun mukanya pucat dan aku tahu dia juga lemah pada kekuatan laut tapi sepertinya cintanya lebih besar pada sang pencipta. Asiiik. ⁣
Bapak guru lulusan UNP jurusan Olah Raga bagian kependidikan ini adalah asli urang awak. Sikapnya tenang dan dewasa. Tapi terkadang seperti anak kecil. Haha. Pernah suatu kali di perjalan kami terakhir menuju Ambon, dia bolak balik seperti mencari sesuatu. Ternyata jaket SM3T yang telah direnovasinya dengan cantik, telah lenyap dari pandangannya. Padahal beberapa saat yang lalu dia dengan bangganya memamerkan pada kami. Tak tahan aku untuk tertawa melihat wajahnya yang sangat cemas. Seperti induk ayam kehilangan anak ghaha. Kurasa ada yang usil telah menyembunyikannya. ⁣
Ibu Anggun begitu mereka memanggilnya. Ibu guru bernama lengkap Anggun Dwi Novriyanti ini berpostur tubuh tidak terlalu tinggi tapi ya, lumayan :D. Tai lalat bertengger manis di wajahnya. Kalau mantan ibu negara kita Megawati memiliki tai lalat di bawah bibir, nah Kak Anggun bertai lalat di atas bibirnya. Untung saja itu tai lalat bukan tai-tai yang lain haha. Sepatu kets dan ransel selalu setia menemani kemanapun dia melangkah. Baginya, kalo nggak ada dua benda keramat itu rasanya, mmm kurang nyesss. Pernah suatu kali, ibu guru yang tomboy ini mencoba memfeminimkan diri dengan memakai baju gamis, baju kurung cantik tepat pada hari lebaran. Otomatis celana jeans harus menyingkir untuk sementara. Setelah dandan manis lalu dipadupadankan dengan jilbab gaya pashmina zaman sekarang, eh ternyata si ransel tak rela berpisah darinya. Untung saja sepatu kets telah diungsikan. Akhirnya dia memakai heels. Hihi. ⁣
Kak Anggun terlahir sebagai warga Jambi tapi dia sangat suka dengan lagu minang. Dari yang zaman dahulu kala, Boy Sandy, sampai penyanyi keluaran terbaru. Bahkan dia sangat senang sekali jika nanti benar-benar menjadi “urang minang”. Hihi. Semoga lancar Kak Anggun. Ditunggu undangannya ya ^_^⁣
Ibu guru yang selalu berbinar-binar bila membicarakan tentang MPALH (biasa dikenal dengan MAPALA) ini sangat menyukai tantangan dan selalu bersemangat. Kau tahu, jika Kak Anggun sudah membuka pembicaraan tentang MPALH dengan Kak Pit maka dunia milik mereka berdua. Mereka akan terkekeh-kekeh membicarakan kedodolan-kedodolan yang biasa mereka lakukan bersama teman-teman di MPALH saat bertualang. Kadang-kadang aku sebel, lebih ke iri sih hehe. Senyum manis selalu menghiasi wajahnya. Kau tahu tak ada yang tak bisa dilakukannya. Dan terkadang aku heran dari mana kekuatan itu datang. Padahal badanya bisa dibilang cungkring, kalau misalkan ya ... Ada angin iseng bertiup ke arahnya, mungkin dia akan ikut terbang hehe... Piece Kak :) Satu prinsip yang selalu dipegangnya “kalau kita bisa mengerjakan sendiri kenapa harus meminta tolong?”. Aku pernah melihatnya merembeng berbagai macam kantong besar ditambah dengan kardus. Tak sedikitpun ingin meminta bantuan. Salut!!⁣
Hidup susah bukan masalah bagi perempuan kelahiran akhir 80-an ini. Tubuhnya terlatih untuk kondisi sepelik apapun. Kesusahan saat di atas kapal tak pernah menjadi perkara besar. Bahkan saat kami ragu apakah ikut berlayar dengan kapal sabuk 43 karena tak ada tempat tersisa, kak Anggun dengan mantap memutuskan untuk tetap berlayar. Memang saat itu, kami bagaikan makan buah simalakama. Jika kami tidak berangkat dengan kapal itu, kami harus menunggu kapal selanjutnya paling cepat seminggu lagi dan itu akan membuat kami terlalu lama meninggalkan anak didik kami. Nah, untuk urusan ini Kak Anggun pantas diacungi jempol. Dia tak mau terlambat meski satu hari saja. Dia tidak ingin siswanya ketinggalan pelajaran. Makanya, dia berkeras tetap berlayar dan berkata “ahh, tidak masalah jika harus tidur di lantai, bukankah nanti akan ada penumpang yang turun di pertengahan perjalanan. Jika harus menunggu sebentar tidak apa-apa kan?”. ⁣
Untuk urusan berhadapan dengan lautan, Kak Anggun takkan mampu mengalahkan Putri, dia pun takluk pada kekuatan gelombang. Memasrahkan tubuhnya di tempat tidur, saat kapal mulai bergoncang tak karuan. Segala gurau tawa takkan lagi terdengar. Sunyi.. Hihi. Bibir pucat, mata menerawang, dan badan terkulai. Seperti zombi wkwkw. Tapi untuk urusan menghilangkan kebosanan di kapal, Kak Anggun selalu punya cara ampuh. Hei, kalo Bang Hen master segala macam kegilaan maka Kak Anggun adalah partnernya. Kalau Bang Hen sudah mulai bernyanyi tidak karuan dengan khusuknya, maka kak Anggun dengan cepat akan menjadi rekan duetnya. Kalian tahu, apa lagu favorit mereka? Haha. Kalau bukan lagunya afgan ya agnes monika. Saat lagu mencapai nada tertingginya, saat itulah mereka mulai melengking-lengking tak karuan sambil memegangi perut dan leher mereka. Mereka akan menjadikan apa saja yang berada dalam jangkauan mereka sebagai mikrofon. Dan kau tahu, mereka tak peduli dengan apapun yang terjadi di sekeliling mereka sebelum lagu mereka selesai. Allout sampai nafas terakhir. Setelah selesai barulah mereka tersenyum puas. Dan kamipun akan ikut tersenyum. Alhamdulillah, akhirnya nyanyian yang menyakitkan itu selesai juga. Wkwkwk. Sadis memang. ⁣
Ibu Anggun di mata siswa-siswanya adalah ibu guru yang baik hati, asik, enerjik, dan pandai bergoyang. Ya, memang Maluku Barat Daya sejak dahulu punya tradisi bergoyang jika ada acara. Goyangan mereka tidak sembarang goyangan. Ada keteraturan dan keindahan di dalamnya. Ada poco-poco, cha-cha, dan ahh aku lupa. Habisnya aku tidak pernah bisa goyangan-goyangan itu. Entah ada kerusakan apa di otakku, tangan dan kakiku sulit sekali bergerak dengan benar. Saat aku sudah lelah hanya dengan melihat mereka bergoyang, mereka tetap bersemangat dan tetap bisa bergoyang dari jam 9 malam sampai jam 6 pagi. Dan Kak Anggun terkenal jago bergoyang. Dari goyangan yang wajar sampai yang ancur-ancuran haha. ⁣
Pengabdian yang hanya satu tahun dimanfaatkan kak Anggun semaksimal mungkin. Dia menyatu dengan masyarakat dan disayangi anak-anak. Tidak ada satupun warga Pulau Lakor, tempat Kak Anggun bertugas, yang tidak mengenalnya. Dari mama-mama sampai kakek nenek sayang padanya. Tak heran saat perpisahan adalah saat yang sangat mengharukan. Tidak ada yang rela melepas guru sebaik Kak Anggun. Seminggu menjelang keberangkatan pulang dengan kapal, warga silih berganti mendatanginya dan menangis karena tidak kuasa jika harus berpisah. Setiap malam mereka menangis. Dan bahkan di dermaga mereka berlinangan air mata. Mungkin jika mereka boleh meminta, mereka ingin kapal tak jadi berangkat atau masa pengabdian diperpanjang. Bahkan ada siswa yang tak ingin melepas Kak Anggun begitu saja. Dia ikut mengantar sampai di Pulau Moa tanpa sepengetahuan orang tuanya. Kak Anggun pun kesulitan membujuknya untuk kembali pulang. Sampai saat ini Kak Anggun masih diingat dan dikenang di sana. Memang benar saat kita memberikan pengabdian dengan sepenuh hati dan dengan hati, maka kita mendapatkan hal yang sangat besar yang tidak pernah kita bayangkan. ⁣

Komentar