Kumandang azan magrib dari mesjid di dekat rumah mengingatkanku padanya. Si kecil nan cerewet. Fatimah namanya. Kami memanggilnya Imah Sungguh indah. Ibunya berharap dia akan besar dan menjadi layaknya anak rasulullah yang sholehah. Tubuhnya kecil dengan rambut keriting terurai hingga melewati bahunya. Suaranya yang cempreng sering membuatku kaget bila dia tiba-tiba datang mendekat. “Wa”alaikumsalam eh assalamu’alaikum”, itulah kata yang selalu diucapkannya kala magrib tiba dan dia datang ke rumah untuk belajar membaca ikro. Kontan semua orang di dalam rumah tertawa. Dan dia tak pernah merasa ada yang salah dengan apa yang dlakukannya. Saat itu dia masih berada di kelas satu SD Negeri Ilwaki.
Imah anak yang selalu ceria. Dia punya semangat menggebu-gebu untuk belajar huruf-huruf arab meski kadang aku dibikin bingung untuk membujuknya saat dia mulai bosan dan malas mengaji.
Aku masih ingat kala pertama bertemu. Dia memanggilku tante cantik. Haha. Sungguh aneh rasanya dipanggil dengan sebutan tante. “tante datang dari mana lah?”. Kontan semua orang yang ada di rumah menertawakannya dan menyuruhnya memanggil ibu guru. Saat aku mengatakan asalku, matanya pun membulat dan mulut sedikit terbuka seperti memikirkan sesuatu. Sejenak dia berkata “Padang itu dimana la ibu guru?, jauh kah?”. Aku pun menjelaskan seberapa jauhnya tempat asalku. Dan diapun mengangguk sok paham.
Imah sosok yang polos dan apa adanya. Dia bagaikan sebuah cermin. Isi hatinya bisa langsung kau baca dari wajahnya.
Suatu ketika dia diam memperhatikanku. Dia melihatku cukup lama. Kemudian dia tersenyum sambil berkata “ibu guru, beta setiap hari mau pake jilbab biar cantik seperti ibu guru”. Aduh, untung saja malam itu lampu di dalam rumah tidak terlalu terang kalau tidak mungkin dia akan melihat pipiku yang memerah karena sedikit malu hihi. Senang rasanya saat keesokan harinya dia berlari-lari kecil bergegas membuka pintu dan terlihatlah seorang gadis yang manis memakai jilbab merah. Cantik.
Setiap hari dia datang bersama kakaknya. Setelah mencium tanganku diapun duduk dipangkuanku dan mulailah dia mengulang bacaan pada hari kemaren. Dia akan bersorak gembira saat berhasil menyelesaikan satu halaman ikro. Dan selesai mengaji dia akan melihatku sambil meletakkan ikro di depan wajahnya. Tatapannya menungguku membacakan doa yang akan dibacanya. Pelan tapi pasti doapun terangkai dari mulutnya. “Ya Allah ampunilah dosa ibuku dan bapakku. Jadikanlah aku anak yang sholehah. Indahkanlah ucapanku dan perbaikilah akhlakku. Amiin”.
Duhai Dzat yang maha mendengar kabulkanlah doa Si kecil nan manis ini.
Komentar
Posting Komentar