Selasa, 2 September 2014
Mau tau apa yang terjadi saat pertama sampai di daerah penempatan? Haha, aku masih ingat kala itu sekitaran jam 23.00 WIT. Kapal KM Sabuk 43 mulai sandar di pelabuhan Ilwaki. Jantungku dag dig dug duerr. Sudah saatnya berpisah dengan teman-teman dan melihat seperti apa tanah tempatku mengabdi. Stoom 1 berupa bunyi nguuuung satu kali pertanda kapal telah sandar menyadarkanku bahwa ini bukan main-main. Gemetar yang belum hilang karena baru pertama kalinya menaiki kapal selama satu hari satu malam membuat lututku goyah untuk melangkah. Selangkah demi selangkah aku mulai keluar kapal diiringi teman-temanku. Putri, satu-satunya koncoku, mulai berkaca-kaca. Tak tega melepasku yang imut ini untuk pergi menapaki ketidakpastian, puih lebay. Aku hanya diam. Mmm, aku bukan orang yang bisa menunjukkan kasih sayang, perhatian, ataupun kesedihan secara jujur. Wajahku kala itu “biasa aja”, padahal dalam hati huaaaaa dont let me gooo!!!
Mendengar kepala sekolah tempatku mengajar telah menunggu di dermaga, perhatiankupun teralih, ada rasa penasaran. Seperti apa kiranya boss ku. Akupun turun dari kapal setelah wejangan alakadarnya dari teman-temanku. Jangan kau fikir turun dari kapal itu seperti turun dari mobil. Tenang, nyantai. No! Sebuah pintu keluar berukuran tubuh dua orang besar. Dilanjutkan dengan jembatan besi dengan pegangan tali yang bergoyang-goyang mengikuti gerakan kapal. Salah-salah melangkah sang laut siap menerimamu dengan tenang. Satu buah tas besar di punggung dan entah apa lagi yang kupegang di tangan, akhirnya aku turun ke dermaga. Tak kusangka, di tengah malam begini, begitu banyak manusia yang berdiri di dermaga. Bahkan untuk berdiri saja susah. Waaah, apakah mereka menunggu kehadiranku? Hihi. Saking ramenya manusia, aku agak kesulitan berjalan. Gelapnya malam karena lampu penerangan seadanya membuatku kesulitan melihat jalan. Ditambah kakiku yang masih gemetar dan kepala yang serasa melayang-layang. Tak kusangka setelah begitu sulitnya aku berjalan aku tersandung sebuah plastik besar, entah apalah isinya yang pasti keras. Badanku limbung karena tak sanggup menopang tasku yang agak berat. Akupun terduduk. Aduh, sakitnya minta ampun. Tiba-tiba bapak kepala sekolah sambil sedikit tersenyum menarikku dan bertanya “kenapa mbak pusing?”. Aduh, bukan sakitnya yang bikinku enggan untuk bangun tapi aku malu. Semua mata melihatku dan tertawa. Duh, pertemuan pertama yang sangat tidak representatif. :(
Setelah aku berdiri, kamipun melangkah menuju ruang tunggu bertemu dengan siswa yang akan mengantarku ke rumah dinas kepala sekolah. Dan ternyata perjalananku harus dilanjutkan dengan sebuah motor. Kupikir siswa yang akan mengantarku belum datang karena tidak ada anak kecil di sekitar ruang tunggu. Tiba-tiba sesosok tinggi besar mendekat dan mengambil tas dan ranselku. Kepala sekolah menyuruhku mengikutinya. Waah, ternyata si tinggi besar ini akan jadi siswaku. Ondeh mandeh, aku cuma setiggi ketiaknya. Di sepanjang jalan aku melihat langit bertabur beribu bintang. Ada bulan besar menggantung di sana. Indahnya. Inilah keindahan pertama yang akan kunikmati di sini. Tidak ada suara dari pengemudi motor yang memboncengku. Aku juga tidak mau merusak syahdunya malam ini, jadi aku tidak bertanya sedikitpun. Sepanjang perjalanan aku hanya melihat beberapa rumah. Untunglah di sini sudah ada listrik. Lumayan terang meskipun jarak antar rumah yang jauh membuat banyak tempat menjadi gelap. Untunglah ada bulan yang menerangiku malam itu.
Sampai di rumah dinas, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Untunglah aku disediakan tempat tidur. Tanpa pikir panjang akupun tertidur dalam lelapnya.
Sekitar jam 02.00 WIT, aku terbangun karena teriakan dari luar rumah. “Bu guru... Pak guru”. Suara keras itu membuatku kaget. Serta merta aku berjalan menuju pintu. Sesaat sebelum aku membuka kunci pintu aku sempat melihat hpku. Wah, baru jam 02.00. Tidak ada suara panggilan lagi. Akupun kembali ke tempat tidur tanpa sempat membuka pintu. Ahh, aku mengantuk. Tak pernah kupikirkan kalau ada kisah seram dibalik teriakan itu. Hiiiiy.
Tepat pukul 05.00 WIT alarm hpku berdering. Sekarang masih pukul 03.00 WIB di Padang. Antara sadar dan tidak dengan sigap kuhentikan deringan itu. Sesaat otakku merefres ulang ingatan sebelum aku tertidur semalam. Yah, aku sadar saat ini aku berada di dalam kamar berukuran 3x3 dengan sebuah lemari dua pintu di sudut kamar. Ada sebuah meja kecil yang dipenuhi dengan buku-buku dan kitab yang tidak pernah kubaca sebelumnya. Di halaman depannya bergambarkan tanda salib. Di dinding kamar terpajang sebuah jam dinding berbentuk salib dihiasi gambar seorang bapak yang sedang terkulai dengan kedua tangan terpaku pada kayu yang tentunya berbentuk salib.
Tanpa menunggu lama, akupun melangkah menuju kamar mandi yang berada di luar rumah. Tak seperti kamar mandi biasa, di dalamnya hanya ada satu kloset dan dipan kecil tempat perkakas mandi. Air ada di dalam tong yang biasanya diisi penuh siang kemaren oleh siswa. Dindingnya dari seng yang disusun sedemikian rupa. Sedangkan lantainya ditutupi bebatuan pantai. Aku cukup beruntung pintunya sudah ada karena kebanyakan wc di sini tanpa pintu dan atap dan kita harus menutupnya dengan seng yang akan rebah saat ditiup angin.
Ketika kulangkahkan kakiku ke sana, nafasku tertahan karena terkejut dengan dua sosok hitam kecil menyerupai anjing yang berkeliaran di sekeliling kamar mandi. Hei, ini belum sampai pada cerita tentang makhluk seram di kampung ini. Sosok itu adalah babi-babi yang dipelihara pemilik rumah yang tidak lain adalah kepala sekolah. Tak alang kepalang ada rasa takut dalam hati ini. Bagaimana tidak, di kampungku babi bukanlah hewan peliharaan tetapi hewan buruan yang mengganggu dan haram untuk dimakan. Tetapi disini babi berjalan dengan bebas layaknya kucing manis yang selalu di sayang oleh warga. Aku masih ingat ketika aku kecil ibuku bercerita tentang jejak2 babi yang ada di pematang sawah. Selama beberapa hari aku takut keluar rumah karena takut kalau nanti bertemu dengan babi. Jejak2 nya saja sudah cukup membuat resah warga kampung. Dan tak tunggu tempo semua warga dikumpulkan untuk memburu babi ini. Tapi lihatlah disini. Babi-babi ini beriringan kesana kemari beranak pinak. Mulai dari beranak satu sampai beranak delapan. Kontan dalam hati aku berkata “Hei Babi... stay away from me”.
Air kutimba dan bersiap untuk berwudhu. Byurr... ini adalah wudhu pertamaku di negeri dengan mayoritas penduduknya adalah non muslim yang pastinya tak akan pernah mengumandangkan azan. Ada rasa pilu dalam hatiku disertai rasa rindu ingin mendengarkan lantunan suara azan. Di kampungku saat subuh adalah saat azan bersahut2an dari berbagai penjuru, tetapi di sini tidak akan ada.
Selepas sholat, kupasang kupingku memastikan keadaan di luar kamar. Hmm masih sepi. Tidak berapa lama, kudengar nyanyian kristiani dari speaker bass yang dimiliki bapak kepala sekolah. Sejenak kuingat, betapa religiusnya mereka. Aku sedikit mengintropeksi diri, bagaimana denganku. Huft, aku harus meningkatkan ibadahku.
Setelah selesai berbenah, kami, aku, teman sejawatku dan bapak kepsek melangkah menuju SMAN 1 Ilwaki. Jaraknya sekitar 500 meter. Sepanjang jalan tak henti2nya bapak kepala sekolah menyapa warga. Ada yang berbeda dengan negeri ini. Di sini semua orang begitu akrab dan saling menyapa. “Selamat pagi bapak guru”, menjadi sapaan khas.. Bahagianya menjadi seseorang di negeri yang sama sekali tidak kukenal. Dihargai dan bernilai. Ya, sambil melihat indahnya sinar matahari pagi itu akupun berkata dalam hati “tak sia-sia aku melangkah jauh ke negeri ini, terima kasih ya robb”
Komentar
Posting Komentar