Pagi itu cukup lama kupandangi dandananku di depan kaca lemari milik bapak kepala sekolah. Baju blezer merah muda dipadupadankan dengan jilbab merah muda yang lebih pekat. Hmm... Cantik pikirku. Akupun keluar kamar dengan menyandang ransel hitamku. Di luar kulihat Bang Leo dan Bapak Kepala Sekolah juga telah rapi, siap berangkat menuju sekolah. Bang Leo memakai blezer coklat sedangkan bapak kepala sekolah memakai blezer hijau. Hatiku menggebu-gebu penasaran dan tidak sabar bertemu dengan siswa-siswa baruku. Senyuman pun tidak pernah lepas dari wajahku.
Setelah menghirup segelas teh manis kamipun melangkah menuju sekolah yang jaraknya sekitar 500 meter. Kulihat bapak kepala sekolah membawa gelas teh miliknya. Sambil tersenyum dia berkata, “masih banyak, lumayan untuk di minum di sekolah nanti”. Wajar saja, di sekolah nanti tidak ada kantin, jadi mesti pintar mensiasati. Aku salut melihat kesederhanaan bapak kepsek. Tidak ada rasa malu untuk membawa gelas itu. Ahh, mana ada kepsek zaman sekarang yang mau seperti itu.
Di sepanjang perjalanan kami bertemu dengan beberapa warga dan siswa. Semuanya selalu tersenyum dan tidak pernah lupa menyapa kami, “selamat pagi bapak guru, selamat pagi ibu guru”. Itulah sapaan pertamaku di sana. Rasanya menyenangkan. Setelah melewati jalan yang sedikit menanjak, bapak kepala sekolah menunjuk ke arah depan. Kira-kira 200 m di depan kami. Di kelilingi semak-semak dan rerumputan yang tinggi. Sebuah bangunan bercat putih berdiri tegap di sana. Tidak ada papan nama sekolah pun tidak ada bendera merah putih. Nafasku sedikit tertahan tapi aku tetap melanjutkan langkahku. Setelah mendekati bangunan putih itu, barulah kulihat di sebelah kanan sana beberapa bangunan memanjang mengelilingi lapangan yang tidak terurus. Ada bekas-bekas tonggak usang tertancap di tengah-tengah lapangan. Beberapa pohon Kusambi berbaris di tepi lapangan. Dan di setiap kusambi ada bilah-bilah bambu yag di susun rapi untuk tempa duduk dan bersantai. Di sana kulihat beberapa siswa sedang duduk-duduk dan memperhatikan kami yang sedang berjalan. Agaknya mereka penasaran dengan wajah baru yang berjalan bersama dengan bapak kepsek.
Bangunan-bangunan itu tersusun membentuk huruf U mengarah ke Lautan. Satu bangunan terpanjang terletak agak tinggi. Jika kita berdiri di sana menghadap ke arah barat, kita bisa melihat hamparan permadani biru seluas mata memandang, dan di depan sana, di batas horizon terlihat dataran panjang membentang, Timor Leste, negara tetangga yang sempat menjadi saudara sebangsa kita, di sekeliling sekolah ini bersusun pepohonan kayu putih. Rerumputan yang cukup tinggi memenuhi lapangan. Wajar, mereka baru saja masuk sekolah. Jika di kota, siswa sudah mulai belajar efektif semenjak sebulan yang lalu, berbeda dengan sekolah ini, aktivitas menyambut dan merayakan 17 agustus dilaksanakan secara serius dan maksimal. Semua siswa dan semua sekolah dilibatkan. Akibatnya mereka baru bisa menjalankan aktivitas belajar saat ini.
Setelah puas melihat sekeliling sekolah, akupun masuk ke dalam ruangan guru. di dalam satu ruangan ini semua guru berkumpul. Bukan hanya majelis guru tetapi juga operator sekolah dan kepala sekolah. Saat itu ruangan kepala sekolah masih dalam pembangunan. Ada rasa sesak di dadaku saat menyaksikan keadaan sekolah ini. Jangankan memiliki perpustakaan dan laboratorium, hampir semua bangunan sekolah retak di mana-mana, kusen pintu yang tidak lagi mau menyatu dengan dinding bahkan tidak berpintu, bangku-bangku dan meja yang tidak lagi layak dipakai, dan jendela yang tidak memiliki kaca. Sejenak hatiku menjerit, “dimana ibu pertiwiku?!”
Namun, rasa sesak itu hilang sejenak setelah guru-guru menyapa dan bertanya berbagai hal kepadaku. Aku disambut dengan hangat. Beberapa terheran-heran karena melihat aku yang bertubuh kecil ini berani jauh-jauh merantau dari ujung barat ke ujung timur. Aku hanya tersenyum. “aku saja heran hehe”, ujarku dalam hati.
Setelah mengikuti acara penyambutan kecil-kecilan berupa doa dari pendeta yang telah dipanggil, akupun diminta masuk ke kelas X. Sungguh, saat itu sebenarnya aku belum siap untuk mulai mengajar, karena badanku masih lelah karena perjalanan kapal yang cukup lama. Tapi, membayangkan senyum manis wajah-wajah baru yang akan aku temui, akupun tidak menolak dan segera melangkah memasuki kelas.
Kelas itu tepat berada di samping ruang guru. Akupun memasuki ruangan itu. Aku sempat memperhatikan ruangan kelas itu. Jendela yang kacanya pecah dimana-mana, lantai semen kasar dan dinding yang retak di setiap sudut, dan langit-langit yang belum memiliki plafon. Mereka yang awalnya ribut, diam seribu bahasa melihat aku berdiri di depan kelas. Salah satu siswa berdiri, sepertinya ketua kelas, kemudian meneriakan satu kata “shalooom”, dan serentak siswa yang lain ikut berdiri dan mengulangi kata-kata itu. Aku hanya mengangguk dan mereka pun duduk. Kupandangi mereka satu persatu. Kulihat mata-mata penasaran. Rambut sedikit keriting, kulit agak gelap, dan manis. Wajah-wajah polos itu tidak sabar untuk mengetahui siapakah aku. Bahkan mereka tidak lagi bertengkar karena berebut kursi yang memang tidak cukup tersedia untuk mereka. Dengan akur mereka berbagi satu kursi berdua.
Akupun mulai memperkenalkan diri dan asalku. Lalu akupun bertanya “adakah anak-anak ibu yang tahu Padang itu ada di Pulau apa?”. Merekapun saling pandang. Lalu salah seorang menjawab “Pulau Kalimantan ibu guru”. Sontak seisi kelas tertawa. Aku pikir mereka tertawa karena tahu di mana yang benarnya. Tapi siswa yang lain dengan mantap berkata “salah ose, padang tu ada di Pulau Bali, betul kaseng ibu guru?”. Akupun tersenyum. Dalam hati aku berkata “bukankah mereka adalah siswa kelas X SMA?”.
Kulihat ada sebatang kapur di atas mejaku. Sontak akupun mulai menggoreskan kapur itu ke papan tulis hitam yang diletakkan di atas sebuah meja. Papan ini tidak bisa lagi digantung di dinding karena sudah sangat lapuk. Di sana kugambarkan peta buta pulau-pulau besar di Indonesia. Mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara dan Papua. Di antara Sulawesi dan Papua, di bawah Maluku Utara kugambarkan beberapa bulat-bulat kecil. Lalu akupun membuat panah dari sebuah titik kecil di Sumatera menuju salah satu bulatan kecil tadi. Dan mulailah aku berujar “kalian tahu, ibu dari Padang di Pulau Sumatera, bukan Kalimantan, bukan juga Bali”. Melihat goresan panahku yang sangat jauh, mereka berkata “pun jauh apa lai ibu guru, ckckc”. Kulanjutkan petuahku “kalian lihat, ibu guru yang berbadan kecil ini saja bisa datang ke sini melihat negeri yang indah ini melewati banyak pulau dan lautan, dari ujung barat ke ujung timur. Ibu yakin, kalian pasti bisa lebih dari ibu, bukan hanya ke ujung timur dan barat indonesia, bahkan kalian bisa keliling dunia, kemanapun yang kalian mau”. Merekapun tersenyum.
Di sana kulihat sinar-mata yang lebih bersemangat. Beberapa mengepalkan tinjunya dan berkata, “jelas ibu guru”. Lalu kuminta mereka menyanyikan lagu daerah berbahasa Maluku. Serempak mereka bernyanyi dengan merdunya. Pagi itu adalah salah satu pagi terindah dalam hidupku. Melihat mereka tersenyum membuatku sadar, aku di sini memang untuk mereka, untuk membuat senyuman itu tetap ada. Tetaplah tersenyum anak-anakku, jelajahi dunia ini, kemudian ceritakan padaku.
Komentar
Posting Komentar