KALA (SEBUAH SAJAK SEDERHANA)

Langit biru bernaungkan awan gelap nan sungguh kelabu membungkus hari itu...
saat isakan tertahan tak mampu lagi terbendung dan membendung suara erangan babi jantan yang kelaparan...
angin bertiup mengisahkan getir pilu perpisahan...
namun si manusia tak jua paham...

kisahku dipaksa berhenti di tengah episode dan bermunculanlah klimaks-klimaks tak terpahami...
sesaat detak jampun berhenti memaksa detak-detak yang lain menghentikan gerakannya...

haruskah suara itu kudengar...
tanpa penopang sebatang kayu yang diberdirikan disambut hembusan keras angin-angin tak berperasaan...
kelu... pilu...
sang tikuspun enggan keluar dari lubang persembunyiannya karna pilu itu menakutkan...

kemaren aku berharap suara itu kudengar...
namun sampai saat mata ini terpejam suara itu takkan pernah kudengar...
butiran bening menyentuh bilah-bilah papan saksi bisu sore itu...
merangkul bangkai hidup yang tersadar kejamnya mati...

bilakah bila boleh kata bila menghiasa deretan kata demi kata tanpa sinonim bermakna
dan tak pernah adalah pasangan sejati tak terbantahkan dari takdir yang tertulis...
ohh... sakitnya sungguh kekal sampai ke urat-urat syaraf terdalam...

denting gesekan reranting tertiup angin purna mencoba meramaikan namun sia
hampa... tak ada rasa...
hanya deretan kata kenapa...

kala langit biru bernaungkan awan gelap nan sungguh kelabu membungkus hari itu...

28 februari 2016

Komentar