Sudah beberapa hari ini aku terkenang dengan salah satu siswaku. Rolando Maularak, mereka biasa memanggilnya Onal, siswa laki-laki pertama yang kukenal saat sampai di sana, Ilwaki, Maluku Barat Daya. Sosoknya tinggi besar, kulit agak gelap, garis wajah khas Ambon dengan rambut ikal khas potongan rambut tentara. Senyumnya yang manis membuatku ingin memaanggilnya dengan sebutan “si hitam manis” :D . Tutur bahasa yang sopan dan tata krama penuh budi tergambar dari perlakuannya kepadaku.
Percakapan pertama kami selalu kuingat sampai sekarang. Saat itu aku sedang mempersiapkan makan malam. Matahari telah pergi meninggalkan negeri ini menyisakan gelap yang amat pekat. Karena lelah dan memang pada dasarnya aku bukan orang yang ahli dalam hal memasak makanan :P , aku hanya memasak menu tercepat sejagad, yups mie instant hehe. Yah, di negeri yang semuanya serba mahal ini mie instant memang penolong setia bagi orang-orang sepertiku. Akupun menghidupkan kompor, untunglah saat itu sudah banyak penduduk yang menggunakan kompor meskipun tungku kayu tetap dipertahankan. Beberapa saat kemudian Onal pun datang melihatku yang sedang khusuk dengan kompor dan kuali, dari pintu dapur.
Awalnya, aku tidak menyadari keberadaannya. Diapun menyapaku sambil tersenyum, “selamat malam ibu guru”. Akupun sedikit kaget menengok ke arah pintu dapur. Hei, bukannya lebay atau penakut. Asal kau tahu, baru saja aku melangkahkan kaki di pulau itu, aku telah disambut dengan berbagai cerita seram nan menakutkan. Ahh, nanti saja aku kisahkan pada kalian. Onal tertawa melihatku terkejut. Aku hanya bisa tersenyum. Akupun menanyakan nama dan segala hal tentangnya. Dia tinggal bersama tete (kakek) dan neneknya. Ibu dan ayahnya telah meninggal saat dia masih kecil karena itulah dia tidak pernah merasakan kasih sayang ayah dan ibu. Namun, sambil tersenyum dia bercerita betapa dia sangat menyayangi tete dan neneknya itu. “Ibu guru, beta paleng sayang deng tete dan nenek, bet paling kasiang ee liat dong kerja, bet ingin bikin dong bahagia”.
Dari sorot matanya aku melihat kesungguhan. Entah perjalanan hidup seperti apa yang telah dilaluinya. Ada keteguhan dari setiap ucapannya. Akupun menarik nafas yang sempat tertahan. Akupun iseng bertanya dengan bahasa indonesia yang sedikit kulogat ambonkan hehe namanya juga baru datang :D, “hmm bagaimana caranya Onal mau membahagiakan mereka?”. Diapun memandangku sesaat, kulihat rona wajahnya berubah, ada keseriusan di tatapan matanya, “beta ee ingin jadi tentara ibu, kalo beta su jadi tentara, ee tete dan nenek seng usah cape kerja lai tho”. Akupun mengangguk. Benar nak. Pegang teguh mimpimu nak, jangan biarkan kerasnya dunia membuatmu terpaksa melepas mimpimu dan memasrahkannya pada kerasnya ombak di lautan, ucapku dalam hati.
Cerita kamipun berlanjut. “Ibu guru, beta dulu ni paling kepala batu. Bet pernah baku pukul deng guru di sekolah dong”. What??!! Aku memang sering mendengar kenakalan anak-anak SMA, tapi berkelahi dengan guru?... “tapi ibu, semenjak ada ibu guru baru datang dari Kupang dong, dia pung nama ibu Frans, bet jadi berubah. Awalnya, ibu Frans suka liat-liat beta waktu dapat marah di kantor. Lalu satu kali ibu Frans panggil beta. Lalu, dong bilang beta nih nanti bisa jadi pemimpin karena beta keras. Ibu Frans kasih pinjam beta buku. Ee buku paling tebal. Ibu Frans kasih pinjam sebelum pi di Kupang dan bilang beta harus kasih balik pas pulang di Ilwaki. Buku tentang pemimpin dong. Bet su habis baca itu buku tapi ibu Frans seng balik lai, iss beta rasa bagaimana ya”. Wah, aku jadi penasaran seperti apa sosok menakjubkan yang telah merubah Onal menjadi seperti sekarang. Sayangnya, sampai saat aku kembali ke Padang, tidak pernah sekalipun aku bertemu dengan Ibu Frans. Ada rasa rindu dalam nada suara Onal. Rindu dengan sosok guru yang menakjubkan dan telah merubah hidupnya.
Kekagumanku pada sosok Onal semakin hari semakin bertambah. Pernah suatu kali, aku melihat Onal dan beberapa temannya dipanggil menghadap kepala sekolah. Aku kaget, tidak biasanya Onal bermasalah dan mendapat hukuman seperti sekarang. Sepulang sekolah akupun menemuinya. Aku menanyakan apa yang terjadi. Diapun menceritakan semuanya kepadaku. Rahasia yang disimpannya dari guru-guru yang lain. Cerita yang menambah rasa salutku pada budi baiknya. Kemaren, saat jam istirahat Onal mendengar bunyi kaca pecah. Diapun segera berlari menuju arah suara itu. Di sana dia lihat seorang temannya bergegas berlari dan bersembunyi. Onal tetap mendekat ke arah pecahan kaca. Sesaat kemudian teman-teman yang lain beramai-ramai menuju ke arah Onal. Karena saat itu yang ada di sana hanya Onal, maka teman-temannya menyimpulkan bahwa Onal lah yang memecahkan kaca. Berulang kali Onal menyangkal. Saat itu juga Guru BK mengumpulkan semua siswa laki-laki untuk mencari tahu siapa yang memecahkan kaca. Tetapi tak seorangpun mengaku. Onal tahu persis siapa pelakunya tetapi dia hanya diam saja.
Sepulang sekolah dia menemui temannya yang memecahkan kaca itu. Sang teman pun meminta tolong Onal untuk merahasiakannya tetapi Onal menolak. Meskipun begitu ia tetap ingin membantu temannya. Hari itu juga dia dan temannya mendatangi rumah salah satu guru untuk mengaku bahwa mereka berdualah yang telah memecahkan kaca. Lalu keesokan harinya, jadilah mereka dipanggil kepala sekolah dan dihukum. Aku terdiam mendengar kisahnya. Karna heran, akupun bertanya “Kenapa Onal berbohong kalau Onal yang memecahkan kaca? Bagaimanapun bohong itu tetap salah”. Diapun menjawab, “ibu bet tahu bohong itu seng baik, tapi bet seng bisa seng setia kawan begitu ibu, bohong untuk kebaikan seng apa-apa tho, ibu?”. Dari satu sisi aku salut dengan besarnya rasa kesetiakawanan Onal, tapi bukan seperti ini kesetiakawanan yang kuharapkan. Pelan akupun menasehatinya, “Onal, setia kawan itu boleh, baik malah, tetapi kebohongan yang menyertainya tidak pernah baik, mungkin saat Onal berbohong demi teman, teman Onal akan terhindar dari hukuman saat itu, tetapi rasa bersalah karena berbohong akan selalu menghantui, jujurlah meskipun nanti akan terkena hukuman yang lebih berat, tidak apa-apa, toh setelah mendapat hukuman perasaan hati jauh lebih lega. Berjanjilah pada ibu, Onal akan selalu berkata jujur? Ibu lebih rela Onal dihukum karena jujur daripada berbohong, karena ibu tahu Onal kuat”. Onal tertunduk, “Iya ibu, bet janji bet seng akan parlente lai ibu, benar ibu”. Saat itu, rerumputan menyaksikan salah satu perkataan tulus dari anak manusia.
Onal anak yang rajin, gigih, dan penolong. Dia juga ahli memanen madu atau “Mata Wani” sebutan masyarakat sana. Aku pernah diajaknya untuk ikut melihat bagaimana dia mengambil cairan berharga yang dihasilkan lebah ini. Lebah di sana sedikit unik. Banyak pantangan yang harus dihindari jika ingin selamat. Tidak boleh memakai baju mereh. Karena lebah benci warna merah. Tidak boleh berbicara dan menyebut secara langsung kata “madu” atau “lebah” di dekat sarangnya. Kita harus mengiaskannya agar si lebah tidak menyadari bahwa kita membicarakanya. Aih, kupikir-pikir ni lebah cerdas juga ya haha. Saat itu, sebelum kami berangkat, aku sibuk mencari penutup badanku. Kupikir aku harus menghindar dari gigitan lebah, setidaknya itu yang kulihat di televisi. Onal hanya tersenyum. “Seng usah ibu, pakai baju seperti biasa sa, nanti ibu pakai asap biar lebah dong takut deng ibu”. Ohh.. Begitu. Mmm... Baiklah.
Sesampai di hutan tak jauh dari tempat aku tinggal, Onal menunjuk ke arah sebatang pohon yang cukup besar. Lebarnya kira-kira sepelukan orang dewasa. Pohonya menjulang tinggi dan bercabang 2 di sebelah atas seperti tangan manusia. Di salah satu cabang terlihat sekumpulan besar lebah berwarna hitam kecoklatan. Waw... Besar bro.... !!! Mereka membentuk sarang seperti setengah lingkaran berdiameter kira-kira satu setengah meter. Serius besar banget!!! Aku sampai ternganga melihat sarang lebah terbesar yang pernah kulihat. Saat aku sibuk memandangi sarang lebah itu, Onal sibuk mengambil dedaunan untuk dililitkan pada sebuah sabut kelapa yang telah disiapkan sebelumnya... Tidak lupa dia mengambil satu ranting yang cukup besar untuk menjad tangkai lilitan sabut kelapa itu. Kemudian Onal mulai membakarnya. Tidak sampai memunculkan nyala api yang besar, asap saja sudah cukup. Onal bilang lebah takut dengan asap. Onalpun mulai menutup kepalanya dengan sehelai baju, sementara baju yang dipakainya berlengan pendek dan celanya juga hanya selutut. Aku sedikit heran, apa Onal tidak takut digigit lebah, kenapa hanya kepala saja yang dilindungi?. Sambil tersenyum Onalpun berkata, “seng apa-apa ibu”.
Saat itu aku menyaksikan keistimewaan Onal, keturunan asli tanah Ilwaki, bekerja dari awal sampai selesai. Hebatnya, sang lebah tidak seekorpun yang menggigiti Onal. Mereka malah berlarian menuju arah kami yang saat itu menunggu tak jauh dari sarang lebah. Untung saja aku punya senjata yang diberikan Onal. Jadi si lebah langsung menjauh. Penasaran, akupun menanyakan rahasia Onal. Onal hanya tersenyum tak berniat memberitahuku. Ahh.. Onal.

Komentar
Posting Komentar