KEMPING DI PANTAI ILWAKI

“Allahuakbar allaaahu akbar...”, dengan mata terpejam kunikmati lantunan suara itu. Tak seperti sebelumnya, suara ini nyata. Aku tersenyum dan membiarkan sang takmir menyelesaikan panggilan sucinya. Saat suara itu menghilang, saat itu pula senyumku memudar. “Ahh....”, erangku tanpa suara. Aku tak pernah mengerti kenapa sang malam begitu cepat berlalu dan sang pagi tak sabaran untuk menghampiri. Aku curiga, sepertinya mereka melakukan konspirasi rahasia. Bekerjasama melakukan kejahatan tak termaafkan dan tertawa licik melihat insan sepertiku tak lagi bisa melanjutkan mimpi indahnya.⁣
Pelan kuseret dua anggota gerak bawahku menuju kamar mandi untuk melakukan hal yang paling sia-sia di muka bumi, mandi. Aku tak berniat membahas kesia-siaan ini panjang lebar kepadamu. Mungkin nanti hehe. Untung saja aku tidak perlu antri seperti biasanya. Dan tanpa berniat untuk berlama-lama di ruangan kecil itu, akupun segera kembali ke kamar, masih dengan mata setengah terpejam. Di depan kamar kulihat kucing belang penghuni rusun sedang berbaring santai. Dia sempat melihat ke arahku lalu kemudian tanpa ekspresi memalingkan wajahnya ke arah yang lain. Sepertinya dia tidak berselera melihatku. “Beruntung sekali kau duhai kucing, bisa bersantai dan tidur kembali”, pikirku. Tanpa dikomando kamipun menguap secara bersamaan. Mulut sang kucing yang terbuka dengan amat lebar membuatku jiwa kompetisiku terpancing untuk menganga lebih lebar. Hoammm....⁣
Sinar surya mulai menyinari segala penjuru bumi. Cahayanya terlihat memerah karena kabut yang memenuhi atmosfer kota tempat tinggal orang nomor satu di Indonesia ini. Kabut yang menyimpan ribuan rahasia yang sudah basi dan membosankan untuk diperbincangkan. Bahkan tak layak untuk dikupas secara tajam, setajam silet :P. Kerlipan sinar lampu berwarna-warni dari gedung-gedung pencakar langit di sebelah baratpun mulai menghilang. “Baiklah, saatnya beraksi!”, akupun melangkah dengan pasti menuju Gedung berwarna merah dengan cetakan besar bertuliskan “UNJ”. Akupun menarik nafas yang sempat tertahan saat mataku tertuju pada gedung itu. Kau tahu, ada rasa yang berbeda setiap kali aku melihat gedung itu. Bukan gedung yang luar biasa memang. Hanya memiliki sembilan lantai dan di dalamnya terdiri dari ruangan-ruangan yang diset khusus untuk berbagai macam kepentingan. Akan tetapi, gedung inilah akan menjadi saksi bisu perjuangan kami. Perjuangan untuk meraih ilmu. Belajar mengenai hal yang luar biasa. Belajar tentang bagaimana cara mengajar yang profesional. Bukan hanya menjadi pengajar yang ahli dalam bidangnya tetapi pengajar yang santun dan berbudi. Memberikan segalanya sepenuh hati serta selalu mengajar dengan hati. Menyimpan raut wajah murung dan melipatnya di sudut-sudut terdalam hati lalu membingkai senyum tulus untuk tawa-tawa para bocah ingusan. Sederhana, ya sesederhana itu.⁣
Dengan niat yang sederhana pula aku mengatur langkah, bergegas menuju tempat pertarungan. Langkahkupun terhenti saat lampu merah telah berganti menjadi hijau, pertanda tak ada lagi yang boleh menyeberang. Kualihkan pandangan ke arah mobil-mobil yang bergerak cepat di hadapanku. Sesaat mataku tertuju pada sehelai daun yang gugur dari pohon yang berada tak jauh dari jalan raya. Daun itu kering dan berwarna kuning selebar telapak tangan orang dewasa. Akupun tersenyum. Ingatanku kembali pada satu tahun yang lalu, saat aku masih berada di negeri mimpi itu, negeri yang teramat aku rindukan.⁣
“ibu guru, tadi dong bilang ibu guru panggil beta, ada apa ibu?”, dengan nafas terengah dia berdiri di hadapanku. Tubuhnya kecil, rambutnya hitam sedikit keriting, kulitnya berwarna coklat tua, dengan potongan wajah khas Maluku. Dia berdiri tegap dalam posisi siap sempurna. Saat itu kami sedang melakukan kemping pramuka di dermaga feri, desa Ilwaki.  Kemping yang diadakan oleh Gudep R. A. Kartini 071/072, SMPN 2 Pulau-Pulau Terselatan, Kec. Wetar, Kab. Maluku Barat Daya. Acara sederhana, kegiatan kepramukaan khas Ilwaki. Jangan kau kira saat itu tenda-tenda bagus bersusun rapi memenuhi bumi perkemahan. Tidak. Bumi perkemahan kami adalah tanah luas tak terpakai yang berada di kawasan dermaga feri, tempat bersandarnya kapal-kapal feri dari pulau-pulau tetangga. Tempat ini sudah lama tak terurus wajar jika ditumbuhi rerumputan kasar dan tajam. Batu-batu pantai bertaburan dimana-mana membuat nyeri kaki-kaki tanpa alas. Ahh, jangan kau fikirkan, mereka sudah kebal dengan rupa-rupa rasa sakit. Lihatlah, mereka dengan bebasnya berlalu lalang dengan kaki telanjang. Aku yang melihatnya hanya bisa mengatupkan bibir membayangkan rasa ngilu dan perih.⁣
“Iyo, ibu ada perlu deng se”, ujarku tanpa ekspresi. Akupun terdiam sejenak dan memandanginya dari ujung kaki hingga ujung rambut berulang-ulang kali. Dia hanya menunduk salah tingkah. Butir-butir keringat jatuh di pelipisnya. “Se tau kalau se su biking kesalahan kaseng?”, dia kaget takut-takut memandangku. “Seng tau ibu, bet seng tau”. Sambil mempertahankan wajah serius, akupun kembali diam. “Ibu kecewa, ibu seng sangka se begini, kepala batu lai, sampai pura-pura seng tau tu, ckckc hebat lai”. Wajahnya bertambah pucat, tak bisa lagi mempertahankan posisi siap sempurnanya. “Sekarang ibu harus kasih hukuman par se”. Akupun melihat sekeliling, mencoba mencari hukuman tergila untuknya. Mataku tertuju pada dedaunan kering yang bertebaran di bawah pohon-pohon kusambi. Banyak sekali. Dedaunan yang berjatuhan dari empat pohon kusambi berukuran cukup besar yang berjejer rapi di bagian tepi bumi perkemahan kami. Tanpa disadari oleh siswaku, aku tersenyum licik. “Se lihat disana, kotor kaseng? Se sapu bersih sampe seng ada satu daunpun yang ada di tanah!” Diapun mengangguk tanpa membantah. Dia langsung mengerjakan perintahku. Sayangnya, setelah sebagian pekerjaannya selesai, dedaunan kembali jatuh ditiup angin. Diapun mengulangi menyapu dari awal. Kubiarkan dia bekerja hingga beberapa kali mengulang menyapu di tempat awal. Diapun memandangku mengharap keringanan. Akupun berpaling tak mengacuhkannya. Tiba-tiba aku mendapatkan ide jail level 2 heheh :D. “sekarang daripada se bolak balik seng karuan, se ambil kayu panjang atau galah. Lalu se petik satu persatu daun kuning itu par se biar seng jatuh lai”, ups... penyakit jahilku muncul. Tanpa bantahan diapun melakukan yang aku minta. Dia memetik dedaunan yang berwarna kuning itu satu persatu layaknya memetik buah jambu. Susah payah dia melakukannya. Akupun tak dapat menahan tawa. Saat dia memandangku aku tetap memasang wajah marah. Saat dia berpaling aku tertawa tanpa suara. Diapun menyelesaikan tugas yang kuberi. We a we wow, bersih coi, hingga yang tersisa hanya dedaunan hijau. Good Job kid...⁣
Dia tetap menunduk tak berani menatap wajahku. Akupun tersenyum dan mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Diapun terkejut dan tersenyum. Wajah pucatnya memudar. “bet sangka bet salah apa, danke ibu guru”.⁣
Hari ini bagaimana kabarmu duhai bocah berambut keriting. Masih ingatkah kamu saat itu? Jangan lupa untuk tetap bersemangat menggapai mimpi. Kita memang terpisah jauh saat ini. tapi hatiku tetap untukmu siswa-siswa terbaikku. Jangan lupa “kalian berhak bahagia”. Salam dari barat teruntuk kalian yang berada di tanah bagian paling timur Indonesia. Di tanah menakjubkan layaknya surga yang jatuh ke bumi :D⁣
Rawamangun, 6 Juni 2016

Komentar