Sempurna tertegun aku saat
melihat banyaknya titik-titik kecil berwarna-warni dari dua gedung pencakar
langit yang berdiri kokoh di antara bangunan lainnya. Seperti kembang api yang
pecah di langit-langit kota Ambon saat itu. Ya, saat kami menghabiskan masa
liburan awal tahun di kota kelahiran Pattimura. Sinar mentari yang sudah mulai menghilang
menyisakan cahaya kemerahan di sudut-sudut terjauh pandangan mata, menambah
megah gedung-gedung itu. Angkuh dan tak mau peduli. Sesaat aku terkenang satu
fase di dalam hidupku. Di saat aku sampai di kota ini bersama ayah.
Sudah bertahun-tahun yang lalu
ayah menjambangi kota tempat berdiamnya orang nomor satu di Indonesia itu.
Namun, rasa percaya diri telah mengenal setiap jengkal kota ini tetap saja
dirasakan olehnya. Padahal telah banyak pembangunan di sana-sini dan sistem
yang berlakupun tidak lagi sama. Begitulah ayahku dengan segala rasa di dalam
hatinya.
Jakarta, tidak pernah tidak bila
kita terlalu berlebihan untuk mengatakan selalu. Ya, selalu saja membuat terpukau
orang-orang kampung yang baru pertama kali melihat secara langsung keadaannya.
Jika selama ini semuanya hanya berada dalam gambar-gambar kecil di kotak
segiempat yang terkadang masih berwarna hitam dan putih maka sekarang semua
terasa menakjubkan karena semuanya nyata. Nyata mempesona.
Tak heran, perjalanan menuju kota
adalah pengalaman tak terperi dan selalu menarik bagi kami, penghuni
gubuk-gubuk kecil sederhana kalangan
rakyat jelata yang lebih sering melihat tanah berlumpur.
Sabtu, 14 Mei 2016
Pagi ini terasa sama, aku
terbangun dengan desahan nafas kesal. Kesal karena harus berpisah dengan kasur
tempat menumpahkan semua rasa. Aku menggerutu tanpa arah, tanpa suara. Wajah
kesal dan berantakan sempat kulihat dari bayangan yang terpantul cermin di sisi
tempat tidur. Aku langsung berpaling, malas melihat wajah jelek yang bertambah
jelek karena belum mandi. Hehe... “Tak bisakah hujan semalam berlanjut hingga
pagi ini??!!”, erangku sambil bergegas meraih handuk dan tempat sabun. Semalam
hujan turun cukup lebat. Aku sempat bahagia karena peluang untuk tidur enak di
keesokan paginya terbayang-bayang di pelupuk mata. Tapi, lihatlah ... kini
langit tersenyum melihat penderitaanku. Akupun melangkah menuju kamar mandi.
Hei, jangan kau fikir tujuanku ke sana untuk mandi. Tidak. Pagi sabtu bukan
waktu yang tepat untuk mandi bagi orang-orang sepertiku. haha
“Teng tong teng tong,
krskkrskk... Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu, diberitahukan kepada
semua warga rusunawa unj bahwa senam pagi akan segera dilaksanakan, diharapkan
segera turun dan bersama-sama menuju GSG, terima kasih ...krkrskkskskks” suara
ceria, dan kuyakin seberkas senyum menghiasi wajah si pembicara, seseorang yang
tentu saja sangat senang dengan kegiatan senam pagi sabtu, memenuhi ruang-ruang
kamar mahasiswa ppg unj. Pengumuman itupun menambah rasa kesalku. Makhluk
seperti apa yang begitu bahagia mengumumkan berita buruk itu hingga sampai ke
telingaku.
Akupun mengikuti senam pagi
dengan separuh hatiku. Entahlah, untuk hal yang satu ini aku tidak pernah bisa
melakukannya sepenuh hati. Separuh hati yang lain kusimpan di bawah bantalku.
“oh, bantal hanya sejenak kita berpisah, aku sudah sangat merindukanmu”, aku
bergumam sambil memandang pilu ke jendela kamar 4 a lobby dari depan gerbang
rusunawa.
Senam pagi berlangsung lebih
kurang 1 jam, eh entahlah kurasa lamaaa sekali. Senyumku kembali muncul tatkala
melihat bocah-bocah berseragam hijau bergabung bersama kami. Mereka penyandang
autis, bergerak dengan semangat. Sesaat aku terpacu untuk lebih bersemangat.
Semua terasa berbeda. Aku sempat tertular senyum tulus mereka. Tak peduli
gerakan mereka yang entah dari mana datangnya. Oke... semangat!!!
Senyumku makin melebar saat gerakan
pendinginan selesai. Terbayang sudah seperangkat peralatan tidur di depan mata.
Perencanaan matang untuk kembali tidur langsung kufinalisasikan. Aku tertegun
mendengar pengumuman kedua agar tim basket berkumpul. Hei, jangan tertawa!!!
Bahkan tersenyumpun jangan!!! Aku iseng ingin ikut tim basket. Pikirku akan
menyenangkan berolahraga dengan bola memantul itu. Tapi, sayangnya sesuai
prediksimu, aku akhirnya mundur dari tim. Keterbatasanku sebagai penyandang
mata berlapis kaca tebal di depan hidung membuyarkan semua anganku. Ahh,
sudahlah.
Kekecewaanku langsung sirna saat
memasuki kamar. Senyum langsung mengambang di wajah. Bergegas mempersiapkan
diri untuk bobok cantik.
Tak terasa mentari enggan
berlama-lama menyinari satu bagian kecil dari kota jakarta. Sang gelap
merangkak naik perlahan membawa serta sinar bebintang di permadani horizon yang
terbentang. Tak lama aku mendapat pesan untuk berkumpul di ruang belajar lantai
1 rusunawa. Agar kami menyerahkan ukuran rok atau celana guna diberikan kepada
tukang jahit nanti. Akupun melangkah tanpa curiga. Wajah ceria seperti biasa.
Tak ada lagi rasa kesal karena aku telah puas tidur seharian hehe. Ketika aku
memasuki ruang belajar, hampir semua anggota kelas ppg matematika telah hadir. Aku
tetap tidak curiga. Tiba-tiba mbak uyun menarik kursinya mendekatiku. Wajahnya
tertutupi awan gelap. Sepertinya lagi kesal. Aku tak ambil pusing. Aku
tersenyum kepadanya. Dia melihatku lurus-lurus. Lalu berkata, “kenapa tadi mba
ides g datang latihan basket”. Akupun menguraikan alasanku. Wajahnya semakin
serius, “mba kok g bilang dari awal kalo memang g mau ikut basket, sekarang kan
nama2nya udah di daftarin ke panitia dies natalis unj, lagian mba juga g minta
izin dan kasih kabar kalo mau mundur”. Aku kaget. “memangnya tadi mas
pelatihnya marah ya?” tanyaku polos. “iyalah mba, ini bukan main2, ini dies
natalis unj, kalo udah didaftarin ya harus ikut main”. Aku mulai panik, tak
kusangka keputusanku membuat marah banyak orang. Padahal aku kan Cuma iseng
ikut basket. Kok jadi ribet gini. “trus gimana mba, aku harus tetap harus main
ya, ya udah aku pakai softlens aja, aku mau kok”. “ya udah, nanti mba bilang
aja langsung ke pelatihnya”, tetap dengan wajah kesal tanpa senyum. Oh god,
mati aku. Aku terdiam. Kata-kata mba uyun terngiang-ngiang di kepalaku. Aku tak
lagi memikirkan kehebohan di sekitarku. Tiba-tiba lampu dimatikan. Aku tak
ambil pusing, karena masih kepikiran kata-kata mba uyun. “ah apaan sih ni yang
mainin lampu, kan diskusinya belum selesai”. Karena g ada yang komplain aku
hanya diam. Melihat mba uyun langsung bangun dari kursinya melangkah keluar
ruang belajar tetap dengan aura marahnya aku seperti berada dalam duniaku
sendiri. Pintu terbuka dan nyanyian itu terdengar, “happy birthday to you...
dst”. Nafasku tertahan. Loh, kok gini. Mba uyun datang dengan membawa kue tar.
Di atasnya bertengger rapi angka yang kubenci. Dia tersenyum melihatku. Aku
menutup wajahku. Air mataku tak bisa kutahan. Kampret, aku dikerjain!! Ahh,
bukankah ultahku telah lewat, seminggu yang lalu kawan-kawan... ??? “selamat
ulang tahun idesh, semoga cepat dapat jodoh, dan tahun depan menikah”. Itu
adalah redaksi doa semua orang di sana. Ugh, ada tekanan di batinku melihat
angka yang berdiri tegak di sana. Seakan berkata “hei sadar, kau sudah tua!!!”.
Terima kasih teman-teman, aku beruntung mengenal kalian, sekali lagi ... terima
kasih untuk semua kasih sayang dan perhatian itu.
Komentar
Posting Komentar