Senyuman merekah di wajahnya. Sesekali dia menyeka keringat lalu memperbaiki posisi tudung runcing yang dilapisi plastik pelindung kepala. Diapun menyapukan pandangan ke setiap sudut di sekitarnya. Dua piringan sawah telah dipenuhi barisan rapi benih padi dan piringan terakhir yang sedang dikerjakannya telah sampai di tengah-tengah. Agaknya petang ini selesai sudah pekerjaannya. Uang SPP Radi bisa segera dilunasi.
Dia kembali membungkuk pelan. Si kecil di punggungnya menggeliat. “shh.. shhh.. oo sayaang”. Diapun menepuk-nepuk lembut pantat si kecil hingga tertidur kembali. Dia mempererat kain panjang penggendong agar si kecil tak melorot jatuh dari gendongannya. Selangkah demi selangkah dia mundur dan dengan terampil menancapkan tiga ikat kecil benih padi pada jarak yang telah diperhitungkan. Barisan itu rapi. Dia tak butuh tali pembatas. jika Einsten ahlinya fisika, dia ahlinya urusan tanam-menanam benih padi. Tanah berlumpur penuh genangan air membuat kakinya sulit digerakkan. Tiba-tiba, “akh..”, erangnya. Diapun memeriksa telapak kaki. Ada darah. Rupanya batangan padi sisa panen kemaren masih berserakan di piringan sawah. Bukan hal aneh lagi baginya. Bahkan dia pernah menginjak pecahan kaca. Entah darimana datangnya kaca itu. Bukannya tak mau menggunakan alas kaki. Tapi memang tak bisa. Untuk kaki telanjang saja sudah sulit untuk melangkah. Tanah lumpur menarik apa saja yang mengenainya. Dia menekan bagian yang terluka dengan ujung celana beberapa saat dan melanjutkan pekerjaan.
Haripun mulai gelap, tinggal beberapa langkah lagi dan pekerjaan itupun selesai. Diapun keluar dari genangan lumpur dan membersihkan tubuh di aliran air bandar. Si kecilpun terbangun. “ibu, kapan kita pulang?”, ujarnya. “Iya nak, kita akan segera pulang”, ucapnya sambil tersenyum. “Ibuu...”, terdengar teriakan tak jauh dari tempatnya berdiri. Tak berapa lama tampak seorang anak laki-laki berusia 9 tahun berlari-lari di pematang sawah. Sesekali dia tergelincir karena jalanan yang licin. Dia hanya tertawa dan kembali berlari. “Ibu... mari kita pulang”, mukanya cemong penuh lumpur. Senyum manis menghiasi wajahnya. Dengan sigap dia ikut membersihkan gumpalan lumpur yang melekat di sekujur tubuh ibunya. Gerakannya terhenti demi melihat ada bercak darah di ujung celana ibunya. “Ibu terluka lagi?”, ucapnya panik. “ah, sedikit, tak sakit lagi kok, sepertinya Mak Pono terburu-buru hingga tak melihat masih ada bongkahan akar dan batang padi sisa panen”, ucap ibunya acuh. Ada yang berbeda dari sinar mata bocah lelaki itu. Dia menggertakkan gerahamnya.
Radi meninggalkan sang ibu. Dia berlari di pematang sawah dan tergelincir hingga akhirnya jatuh ke piringan sawah yang ditanami tanaman cabe. Kakinya berdarah tergores sembilu yang masih menyatu dengan bilah bambu yang menyangga batang cabe. Dia segera menutupi lukanya dengan tanah. Air matanya mengalir. Badannya penuh tanah. Dia menahan nafasnya. Menangis dalam diam, takut sang ibu mendengar tangisnya. Matanya tertuju pada rerumputan di tepi pemantang yang mengarah ke jurang yang lumayan dalam. Susah payah dia menarik rerumputan itu dan menyimpannya di dalam kantong celananya.
“Radi...!!!”, sang ibu memandang berkeliling mencari dimana putranya berada. Mak Pono yang tak jauh dari sana berjalan mendekat. “Ada apa tek?”. Sang ibu yang panik tak lagi bisa menjawab pertanyan Mak Pono. Tiba-tiba seorang ibu paruh baya berlari mendekat. Wajahnya pucat keringat mengucur deras. Kain sarung yang da gunakan diangkat setinggi betis. Tudung penutup kepalapun tak lagi menempati posisinya dengan benar. “Uni Ros, Uni, ... !! serunya. “Radi uni, Radi...”, nafasnya memburu sesak. Tangannya menunjuk ke beberapa piringan sawah tak jauh dari sana. Jantung perempuan yang dipanggil uni ros itu berdegup kencang. Dia bergegas menuju arah yang ditunjuk. Tangan kirinya memegang gadis kecil di punggungnya erat. Takut terlepas dari kain gendongannya. Sesampainya di tempat yang ditunjuk betapa kagetnya sang ibu. Di sana di bawah batang cabe Radi tergeletak. Matanya tak lagi nampak. Hanya putih yang terlihat. Dia kejang. Tangannya mengepal. Semua urat di leher dan tangannya terlihat jelas. Air liur menetes dari mulutnya. “ngnggg...”, erangan tak jelas keluar dari mulutnya. Semua orang mendekat dan berusaha memeganginya. Lambat sang ibu mendekat. “Ada apa nak, apa yang terjadi? tenang nak ada ibu di sini...”, air mata mengalir membasahi pipi sang ibu. Tetesannya mengenai wajah Radi. Radi mulai tenang. Badannya masih kejang tapi tak lagi sekuat sebelumnya. Sang ibu membelai lembut rambut Radi. “Apa yang kau pikirkan nak”, ujar sang ibu dalam hati.
Kumandang suara azan menyadarkan Radi dari kejangnya. Bola matanya mulai terlihat. Nafasnya tak lagi memburu dengan cepat. “Ibu....”, ucapnya. Sang ibu memeluk makin erat Radi. “Tenang nak, ada ibu di sini”. Langit sore semakin jingga mewarnai gunung singgalang. Kelelawar kecil berterbangan menuju pohon beringin di tepi jurang di seberang aliran air besar yang mengairi persawahan. Alam berduka menyambut gelapnya malam. Dan sang ibu menarik nafas tertahan. Dia menyesali keputusannya beberapa tahun silam.
8 Tahun yang lalu.
Petir sambar menyambar, hujan lebat membasahi bumi Allah. Peluh sebesar biji jagung membasahi kening sang ibu. Wajahnya pucat penuh kecemasan. Tangannya tak henti mengusap kepala putra kesayangannya. Semenjak pagi, bocah berusia 1,5 tahun itu menggigil. Dia kedinginan tapi badannya panas. Sang ibupun menyelimutinya dengan berlapis-lapis selimut tebal. Namun, bocah yang dia beri nama Radi itu tetap saja mengeluh kedinginan. Sang ibu menambah lagi selimut. Tak ada siapapun di rumah itu. Hanya dia bersama putranya. Suaminya pergi merantau ke negeri Jiran. Datang sebagai pendatang gelap untuk bekerja menjadi tenaga bangunan sebuah proyek pembangunan sekolah di Malaysia.
Radipun tertidur kelelahan menahan dingin yang terus saja menjalar hingga ke tulang rusuknya. Beberapa saat kemudian tubuh Radi bergetar hebat. Dia kejang. Awalnya dia melihat ke atas lantas bulatan hitamnya hilang hingga menyisakan bagian putihnya saja. Sang ibu panik tak terkira. Hujan semakin lebat. Sang ibu hanya mampu meneteskan air mata sambil sesekali mengucapkan kalimat talbiyah di telinga Radi. Dia juga mengambil bawang putih dan mengoleskannya di hidung Radi agar dia sadar. Syukurlah tak lama radipun mulai tenang. Nafas yang menggebu mulai teratur. Diapun tertidur lelap setelah selimutnya disingkirkan. Panas Radipun berangsur surut.
Beberapa hari kemudian...
Pranggggg...!!!!
Tak alang kepalang sang ibu menghentikan tangannya yang sedang sibuk mencuci pakaian di tepi kolam. Dia berlari menuju sumber suara. Nafasnya tertahan melihat Radi bergelimang butiran nasi. Di sampingnya piring loyang tertelungkup. Radi kembali kejang. Semua sendinya menegang. Dia hendak berdiri namun matanya tak jelas melihat ke mana. Ada air menggenang di sudut matanya. :”Astagfirullah, Radi, apa yang terjadi padamu sayang?”, serunya sambil memeluk erat tubuh radi.
“Sepertinya anak etek di ganggu jin jahat. Lihatlah tak biasanya seorang anak kejang-kejang begitu. Cobalah pergi ke Desa Tanjung, di sana ada dukun hebat. Kau hanya perlu membawa foto Radi. Dia akan membantu mengeluarkan jin itu”, ujar Mak Samsi, ibu-ibu paruh baya yang biasa mengupahnya menanam benih padi, sore itu. Ibu radipun mengangguk dan berfikir sejenak. Dia tak ingin keadaan Radi bertambah parah
Esoknya sang ibu bergegas pergi ke kampung sebelah. Dia mendengar ada dukun sakti yang mampu mengobati berbagai penyakit. Dia khawatir ada setan jahat yang sengaja memasuki tubuh Radi. Saat itu kampung tempat sang ibu tinggal belum menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai. Bahkan bidan hanya ada di kota kecamatan. Dukun adalah satu-satunya harapan masyarakat. Dengan membawa dua liter beras dan dua bungkus rokok gudang garam merah, sang ibu berangkat ke Desa Tanjung setelah menitipkan Radi pada adiknya.
Dia kembali membungkuk pelan. Si kecil di punggungnya menggeliat. “shh.. shhh.. oo sayaang”. Diapun menepuk-nepuk lembut pantat si kecil hingga tertidur kembali. Dia mempererat kain panjang penggendong agar si kecil tak melorot jatuh dari gendongannya. Selangkah demi selangkah dia mundur dan dengan terampil menancapkan tiga ikat kecil benih padi pada jarak yang telah diperhitungkan. Barisan itu rapi. Dia tak butuh tali pembatas. jika Einsten ahlinya fisika, dia ahlinya urusan tanam-menanam benih padi. Tanah berlumpur penuh genangan air membuat kakinya sulit digerakkan. Tiba-tiba, “akh..”, erangnya. Diapun memeriksa telapak kaki. Ada darah. Rupanya batangan padi sisa panen kemaren masih berserakan di piringan sawah. Bukan hal aneh lagi baginya. Bahkan dia pernah menginjak pecahan kaca. Entah darimana datangnya kaca itu. Bukannya tak mau menggunakan alas kaki. Tapi memang tak bisa. Untuk kaki telanjang saja sudah sulit untuk melangkah. Tanah lumpur menarik apa saja yang mengenainya. Dia menekan bagian yang terluka dengan ujung celana beberapa saat dan melanjutkan pekerjaan.
Haripun mulai gelap, tinggal beberapa langkah lagi dan pekerjaan itupun selesai. Diapun keluar dari genangan lumpur dan membersihkan tubuh di aliran air bandar. Si kecilpun terbangun. “ibu, kapan kita pulang?”, ujarnya. “Iya nak, kita akan segera pulang”, ucapnya sambil tersenyum. “Ibuu...”, terdengar teriakan tak jauh dari tempatnya berdiri. Tak berapa lama tampak seorang anak laki-laki berusia 9 tahun berlari-lari di pematang sawah. Sesekali dia tergelincir karena jalanan yang licin. Dia hanya tertawa dan kembali berlari. “Ibu... mari kita pulang”, mukanya cemong penuh lumpur. Senyum manis menghiasi wajahnya. Dengan sigap dia ikut membersihkan gumpalan lumpur yang melekat di sekujur tubuh ibunya. Gerakannya terhenti demi melihat ada bercak darah di ujung celana ibunya. “Ibu terluka lagi?”, ucapnya panik. “ah, sedikit, tak sakit lagi kok, sepertinya Mak Pono terburu-buru hingga tak melihat masih ada bongkahan akar dan batang padi sisa panen”, ucap ibunya acuh. Ada yang berbeda dari sinar mata bocah lelaki itu. Dia menggertakkan gerahamnya.
Radi meninggalkan sang ibu. Dia berlari di pematang sawah dan tergelincir hingga akhirnya jatuh ke piringan sawah yang ditanami tanaman cabe. Kakinya berdarah tergores sembilu yang masih menyatu dengan bilah bambu yang menyangga batang cabe. Dia segera menutupi lukanya dengan tanah. Air matanya mengalir. Badannya penuh tanah. Dia menahan nafasnya. Menangis dalam diam, takut sang ibu mendengar tangisnya. Matanya tertuju pada rerumputan di tepi pemantang yang mengarah ke jurang yang lumayan dalam. Susah payah dia menarik rerumputan itu dan menyimpannya di dalam kantong celananya.
“Radi...!!!”, sang ibu memandang berkeliling mencari dimana putranya berada. Mak Pono yang tak jauh dari sana berjalan mendekat. “Ada apa tek?”. Sang ibu yang panik tak lagi bisa menjawab pertanyan Mak Pono. Tiba-tiba seorang ibu paruh baya berlari mendekat. Wajahnya pucat keringat mengucur deras. Kain sarung yang da gunakan diangkat setinggi betis. Tudung penutup kepalapun tak lagi menempati posisinya dengan benar. “Uni Ros, Uni, ... !! serunya. “Radi uni, Radi...”, nafasnya memburu sesak. Tangannya menunjuk ke beberapa piringan sawah tak jauh dari sana. Jantung perempuan yang dipanggil uni ros itu berdegup kencang. Dia bergegas menuju arah yang ditunjuk. Tangan kirinya memegang gadis kecil di punggungnya erat. Takut terlepas dari kain gendongannya. Sesampainya di tempat yang ditunjuk betapa kagetnya sang ibu. Di sana di bawah batang cabe Radi tergeletak. Matanya tak lagi nampak. Hanya putih yang terlihat. Dia kejang. Tangannya mengepal. Semua urat di leher dan tangannya terlihat jelas. Air liur menetes dari mulutnya. “ngnggg...”, erangan tak jelas keluar dari mulutnya. Semua orang mendekat dan berusaha memeganginya. Lambat sang ibu mendekat. “Ada apa nak, apa yang terjadi? tenang nak ada ibu di sini...”, air mata mengalir membasahi pipi sang ibu. Tetesannya mengenai wajah Radi. Radi mulai tenang. Badannya masih kejang tapi tak lagi sekuat sebelumnya. Sang ibu membelai lembut rambut Radi. “Apa yang kau pikirkan nak”, ujar sang ibu dalam hati.
Kumandang suara azan menyadarkan Radi dari kejangnya. Bola matanya mulai terlihat. Nafasnya tak lagi memburu dengan cepat. “Ibu....”, ucapnya. Sang ibu memeluk makin erat Radi. “Tenang nak, ada ibu di sini”. Langit sore semakin jingga mewarnai gunung singgalang. Kelelawar kecil berterbangan menuju pohon beringin di tepi jurang di seberang aliran air besar yang mengairi persawahan. Alam berduka menyambut gelapnya malam. Dan sang ibu menarik nafas tertahan. Dia menyesali keputusannya beberapa tahun silam.
8 Tahun yang lalu.
Petir sambar menyambar, hujan lebat membasahi bumi Allah. Peluh sebesar biji jagung membasahi kening sang ibu. Wajahnya pucat penuh kecemasan. Tangannya tak henti mengusap kepala putra kesayangannya. Semenjak pagi, bocah berusia 1,5 tahun itu menggigil. Dia kedinginan tapi badannya panas. Sang ibupun menyelimutinya dengan berlapis-lapis selimut tebal. Namun, bocah yang dia beri nama Radi itu tetap saja mengeluh kedinginan. Sang ibu menambah lagi selimut. Tak ada siapapun di rumah itu. Hanya dia bersama putranya. Suaminya pergi merantau ke negeri Jiran. Datang sebagai pendatang gelap untuk bekerja menjadi tenaga bangunan sebuah proyek pembangunan sekolah di Malaysia.
Radipun tertidur kelelahan menahan dingin yang terus saja menjalar hingga ke tulang rusuknya. Beberapa saat kemudian tubuh Radi bergetar hebat. Dia kejang. Awalnya dia melihat ke atas lantas bulatan hitamnya hilang hingga menyisakan bagian putihnya saja. Sang ibu panik tak terkira. Hujan semakin lebat. Sang ibu hanya mampu meneteskan air mata sambil sesekali mengucapkan kalimat talbiyah di telinga Radi. Dia juga mengambil bawang putih dan mengoleskannya di hidung Radi agar dia sadar. Syukurlah tak lama radipun mulai tenang. Nafas yang menggebu mulai teratur. Diapun tertidur lelap setelah selimutnya disingkirkan. Panas Radipun berangsur surut.
Beberapa hari kemudian...
Pranggggg...!!!!
Tak alang kepalang sang ibu menghentikan tangannya yang sedang sibuk mencuci pakaian di tepi kolam. Dia berlari menuju sumber suara. Nafasnya tertahan melihat Radi bergelimang butiran nasi. Di sampingnya piring loyang tertelungkup. Radi kembali kejang. Semua sendinya menegang. Dia hendak berdiri namun matanya tak jelas melihat ke mana. Ada air menggenang di sudut matanya. :”Astagfirullah, Radi, apa yang terjadi padamu sayang?”, serunya sambil memeluk erat tubuh radi.
“Sepertinya anak etek di ganggu jin jahat. Lihatlah tak biasanya seorang anak kejang-kejang begitu. Cobalah pergi ke Desa Tanjung, di sana ada dukun hebat. Kau hanya perlu membawa foto Radi. Dia akan membantu mengeluarkan jin itu”, ujar Mak Samsi, ibu-ibu paruh baya yang biasa mengupahnya menanam benih padi, sore itu. Ibu radipun mengangguk dan berfikir sejenak. Dia tak ingin keadaan Radi bertambah parah
Esoknya sang ibu bergegas pergi ke kampung sebelah. Dia mendengar ada dukun sakti yang mampu mengobati berbagai penyakit. Dia khawatir ada setan jahat yang sengaja memasuki tubuh Radi. Saat itu kampung tempat sang ibu tinggal belum menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai. Bahkan bidan hanya ada di kota kecamatan. Dukun adalah satu-satunya harapan masyarakat. Dengan membawa dua liter beras dan dua bungkus rokok gudang garam merah, sang ibu berangkat ke Desa Tanjung setelah menitipkan Radi pada adiknya.
Komentar
Posting Komentar