Pengalaman Belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare



Pagi itu, aku telah bersiap hendak berangkat ke pulau seberang. Bagian terujung dari Pulau Jawa, Kediri. Betapa senang hatiku saat kusadari akhirnya salah satu rencana kecil kami, aku dan Putri, untuk bertandang ke kota ini dikabulkan Sang Penentu. Bukan itu saja, kami juga akan melakukan perjalanan menggunakan pesawat dan kereta api. Aku sudah lama sekali ingin menaiki kereta api yang melintas dari ujung barat ke timur pulau Jawa ini. Yah, kami memang sering merencanakan ide-ide kecil untuk dilakukan bersama. Meski kami tidak tahu akan terlaksana atau tidak, kami tidak pernah peduli. Senang rasanya, memiliki teman yang seide dan bisa diajak bertualang bersama.
Setelah memastikan semua barang-barang yang kubutuhkan, satu koper besar dan satu ransel, telah sempurna kusiapkan, akupun menunggu Putri meneleponku. Semalam Putri bilang ingin menjemputku untuk bersama-sama pergi menuju bandara Internasional Minangkabau. Tepat pukul 9.30 WIB, kami sampai di bandara. Sayang, kami harus menerima kabar bahwa pesawat Lion Air yang akan kami tumpangi ditunda keberangkatannya sekitar 2 jam. Satu yang kami khawatirkan, tiket kereta yang mungkin akan hangus karena ketinggalan kereta. Setelah mencoba menghubungi pihak KAI, kamipun pasrah jika harus merelakan tiket kami. Kami hanya bisa mengubah jadwal perjalanan kami di stasiun kereta api. Huft...
Tepat pukul 12.30 WIB kami pun diminta menuju kabin pesawat karena pesawat akan segera take off. Senang rasanya setelah menunggu lama. Cuaca yang cerah, langit biru dengan sedikit awan yang bertaburan di angkasa dan matahari yang tidak terlalu terik waah sempurna. Coba bisa selfie sebentar ghaha.
Di dalam pesawat hanya satu hal yang aku pikirkan, dengan apa kami akan melanjutkan perjalanan nanti setelah pesawat sampai di Bandara Soekarno Hatta. Awalnya kami telah merencanakan perjalanan dengan matang. Kami akan melanjutkan perjalanan dengan kereta menuju stasiun Kediri. Yup, sederhana. Namun, sekarang kami benar-benar buntu. “Ahh, biar dipikirkan nanti saja”, ucapku dalam hati.
Jakarta, meskipun telah beberapa kali aku menginjakkan kaki dan sempat beberapa hari menetap di sana, tapi semuanya buram bagiku. Bagaikan negeri asing yang sulit kutaklukan. Tepat pukul 14.30 WIB kami sampai di bandara Soeta Jakarta. Harapan menikmati perjalanan menggunakan kereta hangus sudah.
Setelah mengambil barang-barang, aku lihat di ujung ruangan pengambilan barang ada beberapa kursi yang memang disiapkan untuk mereka yang ingin beristirahat sejenak. Dengan langkah gontai kamipun menuju ke sana dan duduk sejenak. “kriuk kriuk... “, ups perutku mulai memberikan sinyal. Aku lapar. Aku ingat, kami membawa bekal makanan. Yess... Tanpa memikirkan keramaian dan orang-orang yang lalu lalang di hadapan kami, kamipun mulai membuka bungkusan daun pisang berisi nasi yang telah disiapkan dari pagi oleh ibunya Putri. Huhum, aroma khas nan menggiurkan langsung memenuhi rongga hidungku saat bungkusan itu sempurna terbuka. Langsung saja aku mulai menikmatinya. Tiba-tiba, beberapa orang yang lewat menatap kami. Pakaian mereka bagus dan seragam. Sepertinya, petugas maskapai penerbangan. Sambil mata tak lepas dari kami, seulas senyum yang agak sedikit miring kulihat di wajah nan rupawan itu. Mungkin mereka heran melihat kami yang terlihat kusut dan begitu semangat memusnahkan nasi bungkus di hadapan kami. Atau mereka kasihan melihat kami yang kelaparan. Ahh, peduli apa? Akupun membalas tatapan itu. Dalam hati aku berkata, “apa lihat-lihat, mau?” haha. Setelah mereka pergi, aku melihat sekelilingku, memang tidak ada yang sedang makan seperti kami. Aku dan Putri saling berpandangan, wah, kami seperti gelandangan ya haha. Hei, kau pikir kami malu. Tidak! Kami bukan orang yang akan mudah merasa malu. Bahkan kadang tidak tahu malu hihi. Daripada kami harus menguras kocek untuk makan di restoran yang telah disediakan di bandara, biarlah begini lebih nikmat.
Selesai menikmati santapan siang, kamipun menuju mushala bandara untuk sholat. Setelah bertanya ke beberapa teman tentang pilihan yang mungkin kami ambil untuk melanjutkan perjalanan, kami memutuskan menggunakan Damri menuju terminal. Namun, hari yang sudah mulai gelap membuat kami ragu untuk memilih terminal mana yang harus kami tuju. Kau tahu, kami sedikit takut jika harus bermalam di terminal jika bus yang akan kami tumpangi ternyata tidak ada. Ya, kami takut diculik. Hihi. Entah karena kebanyakan menonton berita kriminal ataupun sinetron, kami takut hal itu terjadi pada kami. Badan kami yang kecil seperti anak SMP tahun akhir ini adalah mangsa yang paling sering jadi korban. Akhirnya, kami putuskan menuju Cikarang, tempat yang kami kira tepat karena di sana ada kontrakan kakaknya Putri. Jangan tertawa! Mungkin kau pikir kami bodoh. Ya memang, kami tidak tahu kalau ternyata Cikarang itu ada di Jawa Barat. Tapi, ya sudahlah. Dua jam perjalanan kami lalui demi menuju kontrakan itu.
Di depan sebuah Hotel bernuansa Jepang, Damri yang kami tumpangipun berhenti. Saat turun, kami langsung di sambut oleh tukang ojek yang bertanya dengan logat sunda. “mau kemana neng? Sini naik ojek saja”. Sambil tersenyum kamipun menggeleng mengingat kami akan dijemput oleh kakaknya Putri. “Mau kemana neng”, kali ini penjaga hotel bertanya kepada kami. Ada dua orang bapak-bapak berusia 30-an. “Oh, kalau mau nunggu di sini saja lebih terang, jangan di tempat yang gelap neng, soalnya sudah malam”, ujarnya setelah tahu kami sedang menunggu jemputan. “Orang Padang ya neng?”, sontak aku kaget. Wah, hebat kenapa bapak ini bisa tahu?. “Tadi saya dengar neng yang satunya nelpon”. Oh, terjawab sudah. Kamipun berkenalan. Ternyata salah satu bapak penjaga juga memiliki darah minang. Ibunya dari Padang tetapi ayahnya dari Jawa. Karena lahir dan besar di Jawa, bapak itu tidak bisa berbahasa minang tapi dia bisa mengerti saat orang berbicara menggunakan bahasa minang. Wah, senangnya bisa berbincang-bincang dengan mereka. Bapak-bapak ini sungguh baik. Mereka menyediakan tempat duduk untk kami. Awalnya, kami dikira anak sekolahan yang baru saja datang dari kampung. Ya, selalu begitu. Postur tubuh dan wajah yang awet muda membuat banyak orang salah menyangka. Setelah beberapa saat kami berbincang, Putri mendapat kabar kalau kakaknya belum bisa menjemput karena kerja. Dengan terpaksa kami harus naik ojek. Mendengar kami harus menaiki ojek, si bapak langsung memanggil beberapa ojek yang biasa lewat di sekitar hotel.
Alhamdulillah, ojekpun datang. Sayangnya, bapak tukang ojek sedikit sok tahu. Jadilah kami berputar-putar kian kemari untuk mencari alamat yang dituju. Sedikit kesal karena kami sudah terlalu lelah seharian menyeret-nyeret koper besar dan sekarang harus dipusingkan oleh tukang ojek yang bingung mau kemana. Bahkan mereka sempat berantem mempertahankan pendapat mereka. Huft. Setelah beberapa lama, kamipun sampai di kontrakan. Lega rasanya bisa beristirahat sejenak. Tapi, masalah kami belum selesai, bagaimana kami harus melanjutkan perjalanan?
Keesokan harinya, kami menuju tempat penjualan tiket bus. Paginya, kakaknya putri telah memesan dua tiket untuk kami melalui calo menuju Kediri. Awalnya kami diberitahu bus Lorena yang akan kami tumpangi akan berangkat pukul setengah empat sore. Jadi, kami harus melunasi biaya bus sebelum berangkat kepada calo sebelumnya. Lama kami menunggu tapi sang calo tidak juga muncul. Jam sudah menunjukan jam empat lewat. Aku cemas kami ditinggal bus. Maklum aku sudah bosan dengan kisah ketinggalan. Akhirnya sang calo datang tapi anehnya dia tidak mau memberikan kami tiket asli. Katanya, bus ini memakai sistem online, jadi data harus dimasukkan dengan komputer dan kami tidak membutuhkan tiket asli, biar dia saja yang mengurusnya. Jujur, aku curiga kami ditipu. Dia sempat menyobek kertas bukti pembayaran tiket kami. Dalam pikiranku, kalau begini kami tidak ada bukti telah membayar, lalu kami harus bagaimana jika bus datang dan meminta tiket. Ahh, sebel.
Sekitar pukul 8.00 WIB, sang calo meminta kami mengikutinya menuju kantor P.O Lorena. Di sana kami disuruh menunggu. Bus pun datang. Betapa kagetnya kami saat sang supir meminta kami duduk di smoking area. Jengkel, akupun komplain pada petugas P.O. Mendengar aku yang tidak mau terima, aku dimarahi petugas itu, karena sebenarnya memang tidak ada tempat lagi untuk penumpang. Sang calo memaksa untuk tetap menambah penumpang sehingga mereka terpaksa harus mengisi smoking area. Sambil merengut si petugas berkata, “makanya kalau beli tiket langsung di kantor busnya jangan di calo!”. Akupun tertunduk, ya ini pelajaran pertama untukku. Dengan gontai kamipun menuju tempat duduk kami. Betapa kagetnya kami saat di sana sudah ada seorang bapak yang sedang tertidur. “Ahh, apalagi ini?!”, pikirku. Setelah petugas P.O memindahkan sang bapak kamipun bisa duduk di sana.
Sebenarnya bagiku tidak masalah jika harus duduk di sana. Tapi, aku kasihan pada Putri yang akan kedinginan. Ruangan itu sangat dingin dan sempit. Ruangan yang bersatu dengan toilet. Jadi, saat penumpang lain keluar masuk toilet, aroma yang tak sedap harus kami nikmati. Aku takut asmanya Putri kambuh karena kedinginan. Untunglah, sopir bus sungguh baik. Mereka memberikan kami selimut dan bantal. Mereka meminta kami bersabar karena di tengah perjalanan nanti akan ada yang turun dan kami bisa pindah tempat. Senangnya, di sepanjang perjalanan kami selalu bertemu orang-orang baik.


Komentar