Mengail?? Siapa Takut ^_^


Aku termenung menatap dinding kamar yang cat putihnya tak lagi sempurna merata ke semua sisi. Warnanyapun sudah berubah menjadi sedikit kekuning-kuningan di beberapa bagian. Hujan tak mau berlama-lama turun. Berbaik hati pada para manusia yang masih berada di tengah perjalanan menuju rumah. Aku sedang bertanya-tanya pada hatiku. Kapankah kiranya semua kenangan di negeri itu akan memudar. Lihatlah sudah lebih dua tahun aku meninggalkan negeri itu, tapi kenangan bukannya mengabur malah makin jelas di pelupuk mata.
“ibu guru, ibu mau naik ketinting ka seng?”, sambil tersenyum nona manis berkulit putih dari selayar itu berbisik kepadaku. Telingaku berdiri. Senyumku tak bisa kutahan. “ketinting?”, tanyaku memastikan bahwa aku tak salah dengar. “iyo e, ibu mau ka seng, nanti katong pi mengail tho”, lanjutnya. “katong mengail di tengah laut, dengan kapal?”, tak alang kepalang girangnya hatiku. “kapan Riska?, sore inikah?”, tanyaku tak sabar. “iya ibu, katong tunggu di labuahan cina e”, lalu dia meninggalkanku menuju kelasnya. Bel tanda pelajaran sudah dimulai telah beberapa menit yang lalu berbunyi. Bukan bel, lonceng lebih tepatnya. Akupun mengambil perkakasku dan berrgegas menuju ruang kelas tempat aku mengajar. Dua jam lagi jam pelajaran selesai. Aku tak sabar menunggu sore saat kami akan mengail di laut.
Sore itu, aku dijemput Fitri dan Rahma. Bertiga kami menaiki motor menuju labuhan cina. Labuhan cina, terletak di pesisir pantai Ilwaki. Ada beberapa rumah di sana. Keluarga besar yang telah beranak pinak keturunan Selayar, Makasar. Mereka beragama Islam. Makanya aku tak pernah berfikir dua kali kalau mereka mengundangku datang.
“Ibu lihat ketinting yang ada di sana?”, Riska pun menunjuk ke arah laut, tak jauh terlihat sebuah kapal kecil, panjangnya kira-kira 5 meter. Sedang bergoyang mengikuti gerakan ombak. Mataku berbinar-binar tak sabar ingin segera ke sana. “ayo, kita ke sana, tapi bagaimana caranya kita ke sana?berenang ya?”, mereka tertawa mendengar pertanyaanku. Rahma dan Fitri saling pandang dan mengangguk. Di sana juga ada Husni. Mereka menuju ke samping rumah. Tak jauh kulihat sampan kecil di sana. Ooh, aku paham... tapi... mereka mendorong sampan itu ke bibir pantai. “ayo ibu”, panggil mereka. Akupun mengikuti. Tak ada layar tak ada penyeimbang hanya sampan kecil. Aku takut, bagaimana kalau sampan ini tiba2 saja oleng. Bisa-bisa aku dimakan buaya. Buaya memang sering bolak-balik darat laut di sini. Pengalamanku tempo hari di sungai membuatku cemas dengan keberadaan makhluk melata itu.
Ragu aku naik ke sampan, hanya berdua, ya, sampan itu hanya bisa dinaiki dua orang. Dan aku harus memegang tepian sampan agar tak oleng. Tak boleh banyak bergerak. Gamang aku ikuti gerakan sampan menuju ketinting. Tak jauh memang tapi sangat mengagumkan. Terumbu karang terlihat jelas di dasar laut. Rasa-rasanya aku ingin terjun ke air dan menyelam. Ah, kaca mataku tak memungkinkan untukku melakukannya. Akhirnya sampan kami menyentuh pinggiran ketinting. “ibu, jang bergerak dulue, nanti bet kasih tau kapan ibu berdiri, kalo seng katong bisa tajungkir”, waah, ok. Akupun mengikuti instruksi Husni. Tali di galangan ketinting membantunya berpegangan. Setelah yakin stabil, Husni menyuruhku naik, tangan Akbar sudah siap membantuku naik. “sini ibu”, ujarnya. Hampir saja aku terjun bebas ke laut lepas karena limbung tak seimbang saat berdiri. Untung saja Akbar segera memegangiku dengan kuat. Kamipun mengail. Sebuah gulungan benang nilon diujungnya ada kail. Umpannya tepung kue. Mereka mulai memancing begitupun aku. Satu persatu mereka bersorak karena kailnya berhasil menjebak ikan-ikan yang lumayan besar. Dan lihatlah aku. Tak satupun yang kudapat. Hingga matahari bersembunyi di ujung horizon, tak jua kudapati satu ikanpun. “ibu, coba ibu pegang bet pung kail”, pinta riska. Kurasakan ada yang menarik-narik kailku. Kutarik lebih keras. Menggelepar seeokor ikan diujung kailku. Mereka bersorak. Kusembunyikan tawaku. Aku tau sebelum riska menyerahkan kailnya, sang ikan sudah terjerat di mata kail. Ah, dia sangat kasian melihatku tak dapat seekorpun haha.
Malam pun datang. Warna jingga di langit menandakan magrib telah datang. Akupun beranjak pulang. Meskipun tak seekorpun yang kudapat. Tapi semua ikan yang mereka dapatkan menjadi milikku. Jadilah hari itu aku memakan ikan segar yang kutangkap dengan bantuan siswa-siswaku.

Komentar