Aku termenung menatap dinding kamar yang cat putihnya tak
lagi sempurna merata ke semua sisi. Warnanyapun sudah berubah menjadi sedikit
kekuning-kuningan di beberapa bagian. Hujan tak mau berlama-lama turun. Berbaik
hati pada para manusia yang masih berada di tengah perjalanan menuju rumah. Aku
sedang bertanya-tanya pada hatiku. Kapankah kiranya semua kenangan di negeri
itu akan memudar. Lihatlah sudah lebih dua tahun aku meninggalkan negeri itu,
tapi kenangan bukannya mengabur malah makin jelas di pelupuk mata.
“ibu guru, ibu mau naik ketinting ka seng?”, sambil
tersenyum nona manis berkulit putih dari selayar itu berbisik kepadaku.
Telingaku berdiri. Senyumku tak bisa kutahan. “ketinting?”, tanyaku memastikan
bahwa aku tak salah dengar. “iyo e, ibu mau ka seng, nanti katong pi mengail
tho”, lanjutnya. “katong mengail di tengah laut, dengan kapal?”, tak alang
kepalang girangnya hatiku. “kapan Riska?, sore inikah?”, tanyaku tak sabar.
“iya ibu, katong tunggu di labuahan cina e”, lalu dia meninggalkanku menuju
kelasnya. Bel tanda pelajaran sudah dimulai telah beberapa menit yang lalu
berbunyi. Bukan bel, lonceng lebih tepatnya. Akupun mengambil perkakasku dan
berrgegas menuju ruang kelas tempat aku mengajar. Dua jam lagi jam pelajaran
selesai. Aku tak sabar menunggu sore saat kami akan mengail di laut.
Sore itu, aku dijemput Fitri dan Rahma. Bertiga kami menaiki
motor menuju labuhan cina. Labuhan cina, terletak di pesisir pantai Ilwaki. Ada
beberapa rumah di sana. Keluarga besar yang telah beranak pinak keturunan
Selayar, Makasar. Mereka beragama Islam. Makanya aku tak pernah berfikir dua
kali kalau mereka mengundangku datang.
“Ibu lihat ketinting yang ada di sana?”, Riska pun menunjuk
ke arah laut, tak jauh terlihat sebuah kapal kecil, panjangnya kira-kira 5
meter. Sedang bergoyang mengikuti gerakan ombak. Mataku berbinar-binar tak
sabar ingin segera ke sana. “ayo, kita ke sana, tapi bagaimana caranya kita ke
sana?berenang ya?”, mereka tertawa mendengar pertanyaanku. Rahma dan Fitri
saling pandang dan mengangguk. Di sana juga ada Husni. Mereka menuju ke samping
rumah. Tak jauh kulihat sampan kecil di sana. Ooh, aku paham... tapi... mereka
mendorong sampan itu ke bibir pantai. “ayo ibu”, panggil mereka. Akupun
mengikuti. Tak ada layar tak ada penyeimbang hanya sampan kecil. Aku takut,
bagaimana kalau sampan ini tiba2 saja oleng. Bisa-bisa aku dimakan buaya. Buaya
memang sering bolak-balik darat laut di sini. Pengalamanku tempo hari di sungai
membuatku cemas dengan keberadaan makhluk melata itu.
Ragu aku naik ke sampan, hanya berdua, ya, sampan itu hanya
bisa dinaiki dua orang. Dan aku harus memegang tepian sampan agar tak oleng.
Tak boleh banyak bergerak. Gamang aku ikuti gerakan sampan menuju ketinting.
Tak jauh memang tapi sangat mengagumkan. Terumbu karang terlihat jelas di dasar
laut. Rasa-rasanya aku ingin terjun ke air dan menyelam. Ah, kaca mataku tak
memungkinkan untukku melakukannya. Akhirnya sampan kami menyentuh pinggiran
ketinting. “ibu, jang bergerak dulue, nanti bet kasih tau kapan ibu berdiri,
kalo seng katong bisa tajungkir”, waah, ok. Akupun mengikuti instruksi Husni.
Tali di galangan ketinting membantunya berpegangan. Setelah yakin stabil, Husni
menyuruhku naik, tangan Akbar sudah siap membantuku naik. “sini ibu”, ujarnya. Hampir
saja aku terjun bebas ke laut lepas karena limbung tak seimbang saat berdiri.
Untung saja Akbar segera memegangiku dengan kuat. Kamipun mengail. Sebuah
gulungan benang nilon diujungnya ada kail. Umpannya tepung kue. Mereka mulai
memancing begitupun aku. Satu persatu mereka bersorak karena kailnya berhasil
menjebak ikan-ikan yang lumayan besar. Dan lihatlah aku. Tak satupun yang
kudapat. Hingga matahari bersembunyi di ujung horizon, tak jua kudapati satu
ikanpun. “ibu, coba ibu pegang bet pung kail”, pinta riska. Kurasakan ada yang
menarik-narik kailku. Kutarik lebih keras. Menggelepar seeokor ikan diujung
kailku. Mereka bersorak. Kusembunyikan tawaku. Aku tau sebelum riska
menyerahkan kailnya, sang ikan sudah terjerat di mata kail. Ah, dia sangat
kasian melihatku tak dapat seekorpun haha.
Malam pun datang. Warna jingga di langit menandakan magrib
telah datang. Akupun beranjak pulang. Meskipun tak seekorpun yang kudapat. Tapi
semua ikan yang mereka dapatkan menjadi milikku. Jadilah hari itu aku memakan
ikan segar yang kutangkap dengan bantuan siswa-siswaku.
Komentar
Posting Komentar