SKETSA CINTA

Brakkk...!!!
Tubuhku terhempas bebas di tempat tidur meninggalkan bunyi bedebam yang cukup keras. Kupejamkan mata. Dadaku teramat sesak, sakit. Kutarik nafas panjang sambil menggigit bibir. Wajahku panas, matapun panas. Tak terasa air mata mengalir  tanpa bisa kutahankan. Tumpah sudah. Aku membuka mulut ingin berteriak sekeras-kerasnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Butiran itu mengalir lagi. Kuhapus cepat dengan lengan baju. Pelan kucoba membuka mata. “Sial!!!”, umpatku. Sketsa itu menempel rapi di dinding tepat di depan mataku. Sesak di dadaku makin menjadi. Ingin kuhancurkan sketsa itu saat ini juga tapi aku tidak lagi punya tenaga. Dan aku kembali tenggelam dalam isakan tanpa suara.
Handphoneku bergetar halus. Di layarnya terpampang foto yang telah menghancurkan hatiku. Foto yang juga telah membangunkanku dari mimpi indah dan harapan yang semu.
Save The Date. ... Rayyan Dzaki & Adisa Argani”
Beberapa bulan yang lalu...
Entah mengapa sore itu peluh tak henti berjatuhan di keningku. Sepertinya sebentar lagi hujan besar datang. Terik menjelang hujan memang berbeda. Pengap. Semua bergegas menyelesaikan pekerjaan agar segera pulang sebelum hujan mulai turun. Aku masih betah berhadapan dengan tumpukan kertas hasil ulangan harian siswa yang harus diperiksa. Aku menikmati saat seperti ini. Saat melihat goresan-goresan yang kadang penuh keyakinan, terkadang penuh kebingungan. Bahkan tak jarang bertuliskan kata-kata yang membuatku tersenyum sendiri. “Ibu Haifa cantik, maafkan aku, aku tidak bisa menyelesaikan soal ini. Besok aku akan lebih berusaha lagi. Maafkan aku ibu. Ttd Daren”. Tak lupa dibubuhi “i love you ibu cantik”. Aduh.
Haifa Hanifa, gadis berusia 25 tahun yang berupaya mendedikasikan hidupnya menjadi seorang abdi negara. Itulah diriku. Membantu mencerdaskan anak indonesia melalui pelajaran paling dibenci di bangku sekolahan, matematika. Ah, aku  sudah terbiasa melihat wajah-wajah berkerut siswa saat berada di depan kelas. Keluhan dan pertanyaan-pertanyaan pertanda ketidaksukaan sering kuterima. “Kenapa sih bu harus ada matematika?”, keluh Intan, siswi kelas X sambil menggaruk kepalanya melihat kertas ulangan yang kuberikan saat itu. Aku hanya tersenyum.
“Haifa belum pulang?”, sapa salah seorang guru senior di SMK Harapan bangsa, tempatku mengajar. Aku menoleh ke arah datangnya suara. Disana berdiri seorang ibu paroh baya yang dulu pernah menjadi guruku dan sekarang menjadi rekan kerjaku. Sambil tersenyum akupun menggeleng, “Sebentar lagi ibu, lagi tanggung”. Sang ibu mengangguk kemudian berlalu. Akupun mengarahkan pandangan ke jam di tanganku. Pukul 15.00 WIB. “Ok, sebentar lagi”, pikirku. Akupun tenggelam kembali dengan pekerjaanku.
Tiba-tiba Hpku bergetar halus. Ada notifikasi dari igku. Hampir saja aku bersorak saking senangnya. Disana terlihat jelas sederetan huruf yang terangkai menjadi nama. Nama seseorang yang telah lama kukagumi. Ah, seandainya tanda hati itu bukan hanya untuk postingan tapi mengandung maksud lain tentulah aku akan menjadi wanita yang paling berbahagia. “Hei, jangan mimpi Fa!”, tegur batinku.
 “Kamu kenal Bang Rayyan kan?”, tanya temanku saat masa-masa awal perkuliahan. “Tidak, memangnya dia siapa?”,  jawabku datar. Aku memang tidak terlalu tertarik dengan para senior di kampus. Kekaguman itu dimulai saat aku melihatnya di mesjid kampus. Pemuda berkacamata itu membuatku salut dengan kepribadiannya. Tapi, tak pernah aku berfikir untuk menyukai. Rasa kagum itu tetap di posisinya. Tak ada sapa dan tegur. Bahkan akupun tak pernah benar-benar mengenalnya. Hingga petaka itu tiba.
“Assalamu’alaikum... hmm perasaan pernah kenal... bukankah kita satu almamater?”, keningku berkerut membaca satu pesan di akun media sosialku. Berulangkali kubaca pesan itu. Akupun menutup mulut yang tak henti membuka karena takjub. Tanganku gemetar, jantungku berdetak tak karuan. Perutku melilit karena hormon adrenalin telah beraksi. Tak ambil tempo aku pun langsung berlari ke WC tanpa sempat membalas pesan ajaib itu.
“Kenapa pula teteh ini?”, ucap mama saat melihatkku berlari tak karuan menuju WC. Mama hanya geleng-geleng kepala dan kembali ke dapur untuk rutinitas sorenya.
“Hayooo... ibu ngelamunin apa?”, Aldian, salah seorang siswa kelas XII tiba-tiba membuyarkan lamunanku. “Ada deh”, jawabku santai lantas melanjutkan pekerjaanku. Bibirku tetap tersenyum tak mampu ditahan-tahan. Pipi panas, sepertinya bersemu sedikit memerah karena malu. Aldianpun berlalu. Untunglah bocah itu tidak menggodaku lagi.
Aku tak bisa lagi fokus menyelesaikan pekerjaan. Pikiranku telah melayang jauh di awang-awang. Hujan telah mulai membasahi bumi. Tetesannya menimbulkan irama merdu favoritku. Akupun mengambil sebuah pensil dan selembar kertas. Lantas mulai menggoreskan pelan ujung pensilku. Tak lama terlihatlah sketsa beberapa pemuda. Di antara para pemuda itu ada “dia”. Di akhir sketsa tak lupa aku torehkan tanda tangan kecil berikut tanggal hari itu.
Telah menjadi kebiasaanku untuk memposting sketsa di ig. Aku tersenyum sejenak sebelum kemudian menutup mata dengan telapak tanganku. “Ya ampun apa yang aku lakukan...”. Meskipun rasa itu ada tetapi aku belum berani memperlihatkannya pada orang lain. Rasa itu masih aku simpan rapat-rapat untuk diriku sendiri. akupun bergegas ingin menghapus postingan itu. Betapa kagetnya aku saat tanda hati merah muncul di layar hpku. “Oh tidak...!”. terlambat sudah. Dia telah melihat sketsa itu dan dia menyukainya. “Gawat...!!”, pekikku tertahan. Kucing belang tiga yang tertidur nyenyak di salah satu meja guru di sebelah mejaku memutar kepalanya ke arahku karena kaget. Diapun memasang wajah kesal karena tidur siangnya terganggu. Dia merenggangkan tubuhnya lantas berjalan gontai meninggalkanku. Bibir kirinya sedikit naik dan menggeram marah. Hujan semakin lebat dan bunga di hatikupun semakin melebat. Membuatku melantunkan doa merayu penguasa semesta.
“Dan ketika hati telah bicara otak pun lumpuh total”
***
“Haifa, mau nggak bantu abang”, tanyanya malam itu via whatsapp. Aku yang masih memendam rasa dan tak mau dia mengetahui menjawab sewajar-wajarnya. Dia memintaku menyelesaikan soal olimpiade yang akan digunakannya nanti untuk kuis saat mengajar di salah satu bimbingan belajar untuk anak SD. “Ok Bang”, jawabku. Tak lupa emoticon senyum dan jempol. Sejak saat itu kami terus berkomunikasi. Ya, tentunya tentang soal-soal. Ah, itu saja sudah cukup membuat jantungku berdebar tak karuan. Aku menikmati apa yang saat ini kurasakan. Biarlah takdir memainkan perannya.
Hingga hari itupun tiba. Sore itu mama membuat pepes ikan. Tampilannya yang memukau membuatku tak tahan ingin memoto dan mempostingnya di BBM. Kami, aku, papa, mama, dan adik lelakiku memutari meja makan yang telah terhidang ikan pepes di atasnya.  Ada empat ekor ikan selebar telapak tangan di atas piring. Semua mata menatap tajam pada sajian lezat itu. Tanpa aba-aba kamipun mulai membasmi ikan malang itu tanpa menghiraukan berita di televisi tentang tarif TDL yang kembali naik entah untuk kali keberapa, sambil sesekali mengeluarkan suara “shshhhs...” karena kepedasan. Tiba-tiba jari-jariku terhenti.  Ada yang inbox aku lewat BBM.
“Mau dong pepes ikannya Fa J
“Aaa...!!!“. hanya satu kalimat tapi hatiku langsung tak karuan. Aku langsung melupakan pepesku. Adik lelaki dan papaku saling pandang dan mengeluarkan senyum licik.
“Mau Bang, ke sini aja... Masih banyak lo Bang ^_^”, jawabku biasa aja. Lantas langsung kembali ke posisiku.
“Antar atuh neng ke sini hehehe...”, balasnya. Membuatku kembali melupakan pepes kesukaanku. Tapi tenang, tanganku masih di atas piring.
“Minta buatin dong sama calonnya Bang,,”, selidikku.
“Calon? Nggak ada Fa. Nggak ada yang mau sama Abang hehehe”,balasnya.
Huaaa... senangnya. Aku sedikit memberanikan diri.
“Masa sih Bang, nggak ada yang mau? Ada kok”, buktinya aku mau bang, sambungku dalam hati hehe.
“Beneran nggak ada Fafafafafafafafa...”, keluar juga kata pamungkasnya. Aku paling suka kalau dia sudah memanggil namaku seperti itu. Aku sempurna melupakan pepes jatahku. “Ahkk...” pekikku. Bibirku tertusuk tulang ikan pepes. Papa dan adikku langsung menjauhkan piring pepes dari hadapanku. Mereka menyantap jatahku dengan wajah tanpa rasa bersalah. Jahaaat!
Itu adalah obrolan pertama kami di luar konteks soal. Dia memang sangat kalem. Masa sih dikode begitu nggak paham. Hadeuh.
Semenjak mengetahui bahwa dia belum puya calon, aku memulai misiku. Merayu sang penguasa malam. Diujung malam aku sebutkan namanya. Awalnya aku geli sendiri. Bahkan aku tak menyangka akan melakukannya. Doaku saat itu masih 50% menginginkannya sebagai calon suamiku. Masih ada 50% keraguan dan ketakyakinan akan perasaannya padaku. “Ah, bagaimana pula dia akan meyukaiku. Dia begitu waw untukku. Lihatlah dia begitu alim, zuhud, dan ahli ibadah, bagaimana dengan diriku”, bisik batinku.
Kusadari atau tidak, perasaan suka merubahku secara perlahan. “Perempuan baik untuk lelaki yang baik”, kata-kata ini seolah menamparku. Siapa aku hendak menyukai orang yang begitu baik. Semesta dan pemiliknya tak akan meridoi keinginanku jika ibadah dan kepribadianku tak bisa disandingkan dengan orang yang kuidam-idamkan. Teruslah di dalam tempurung wahai katak hingga tak lama lagi kau akan seperti punguk yang mati karena merindu rembulan! Hari-hariku tetap berlanjut dalam doa-doa kecil yang tak terlalu menuntut karena tak yakin dengan perasaanku sendiri. Doa itu masih sebatas mimpi. Mimpi seorang gadis yang merindu pangeran berkuda putih.
“saat  kau berharap, di saat yang sama kisah patah hatimu dimulai”
***
            Kupandangi sehelai kertas hvs di tanganku. “Lumayan”, pikirku. Di sana ada sketsa seorang pria sedang menggendong anak lelaki. Dia mengangkat anak lelaki itu ke udara sambil tersenyum. Ada rona bahagia dari wajah pria itu. Sang anak tak kalah gembiranya. Mulutnya tertawa lebar. Lelaki itu adalah ayahku yang sedang menggendong adikku yang saat itu masih balita. Puas dengan sketsaku, akupun mempostingnya ke Ig. Kemampuan sketsaku masih belum terlalu bagus tapi juga tidak jelek.
Aku cukup puas dengan hasil goresanku. Aku sempat galau dengan hobiku yang satu ini. “Fa, bukankah menggambar makhluk hidup itu tidak boleh dalam Islam?”, komentar teman Fbku kala itu. Aku kaget. Masa iya sih? Bukannya bakat ini anugrah dari Allah? Aku bertanya kesana kemari, akhirnya aku menemukan jawabannya. Dan hobiku tetap aku lanjutkan.
Akupun bangkit dari meja belajar di kamarku. Aku menghadap ke dinding di depan tempat tidur. Aku tersenyum. Ada perasaan senang saat memandangi sketsa-sketsaku tertempel di sana. Semua orang yang kusayang ada di sana, begitu juga dia, lelaki idamanku. Sebenarnya sketsa itu tak akan pernah aku buat jika tidak diminta. Berawal dari permintaannya hingga kini menjadi kebiasaanku. Tanganku selalu saja gatal ingin membuat sketsa postingannya di Ig. Kupandangi lagi dinding itu. Kulihat dari ujung ke ujung. “Ya ampun, kenapa sketsanya mendominasi dinding kamarku?”, pikirku tak percaya.
“Ciee, Fafa... J” , komen temanku di Ig setelah aku memposting sketsa seorang lelaki berkacamata yang sedang duduk di tangga bersama beberapa temannya. “Pria berkacamata itu senior kita kan Fa?”, sambung temanku yang lain. Aku kaget tak terkira. Kenapa mereka bisa tahu ya? Seketika aku memutar otak. Apa mungkin lelaki itu juga mengetahui perasaanku yang sebenarnya? Apa dia pura-pura tidak tahu? Ah,sudahlah.
Terkadang aku jenuh dengan ketidakpastian ini. Aku jenuh bertanya sendiri dengan keadaanku. Ingin rasanya aku memberitahu dengan jelas, tapi halooo... aku perempuan guys. Pernah sesekali aku memberikan sinyal-sinyal lewat chat kami, tapi dia hanya membalas dengan kalem, seolah tidak tahu. Ah, dia benar-benar tahu bagaimana membuatku bingung. Di saat aku ingin menyerah dengan hatiku, dia kembali memporak-porandakan pertahananku. Seperti sore itu.
“Fa, Abang ingin mengenal Haifa lebih jauh, bolehkan?”, separuh tidak percaya aku menggosok kedua mataku. “Maksudnya Bang?”, aku pura-pura tidak mengerti. “Rencananya Abang mau ke kota tempatmu tinggal, bolehkan kalau Abang ke rumah?”, seakan tidak percaya aku segera berlari ke kamar mandi lantas mencuci mukaku. Kubaca lagi pesannya. Bening, sebening air di gelas kaca. Akhirnya, ada harapan. “Tentu bang... “, jawabku kalem, padahal aku kegirangan.
 Hari yang dinantipun tiba. Semenjak pagi tak henti aku mengecek Hpku. Aku menunggu kabar darinya. Semenjak terakhir kali dia mengatakan ingin ke kotaku, kami tak lagi berkomunikasi. Sepertinya dia sedang sibuk. Memang sebelumnya dia bilang akan mengikuti ujian PNS khusus daerah 3T. Bahkan dia sempat meminta pendapatku untuk menentukan tempat pilihannya. Tak ada rasa curiga sama sekali. Keyakinan hatiku mengatakan dia akan segera datang. Dan aku percaya itu. Aku cek FB, Ig, BBM, dan WA. Nihil. Tak ada kabar sama sekali. Hingga mentari bersembunyi di ufuk barat, yang dinanti tak jua muncul.
Kabarpun datang dua hari kemudian. “Maaf Fa, kemaren itu Abang nggak jadi berangkatnya. Ada acara di rumah”, ungkapnya. Dia tidak menjelaskan acara apa itu. Sebenarnya hatiku resah dan ingin bertanya tapi gengsiku lebih besar. “Nggak pa-pa Bang, mungkin belum saatnya kita bertemu hehe”, jawabku tenang padahal hatiku kecewa berat. Obrolan kamipun berlanjut dengan rencana-rencananya setelah tes PNS. Dia akan datang ke rumahku bersama keluarganya jika telah lulus nanti. Dalam diam kuaminkan semua harapannya ditambah dengan sebuah doa rahasiaku. Bahkan aku merapal sebuah nazar untuk keberhasilannya. Sambil berbalasan chat, aku mengambil sehelai hvs dan menggoreskan pensil di atasnya. Sketsa spesial yang akan aku hadiahkan untuknya nanti saat berita gembira itu datang. Kutempelkan tepat di dinding di depan tembat tidurku. Hal yang akan sangat aku sesali.
Hari demi hari berlalu. Diapun mengikuti bimtek di Jakarta. Komunikasi kami tetap lancar. Dia selalu menyukai postinganku, begitupun aku. Perasaanku tumbuh makin kuat. Harapanku membesar setiap kali dia membalas chat dan menyukai postinganku. Dan bodohnya aku merasa dia juga menyukai aku. Aku menanti. Menanti dan menanti. Hingga semuanya menjadi jelas.
Malam itu kulihat WA, dia aktif 30 menit yang lalu. Sayangnya, dia tidak menyapaku seperti biasa. Dua minggu sudah genap kami tidak berkomunikasi setelah pengumuman kelulusannya. Setiap kuperiksa WA, dia aktif tapi selalu saja tak menyapaku. Akupun gengsi ingin menyapanya meski aku rindu. Kubiarkan rindu itu bersemi menggerogoti hatiku. Dan pesan itupun memperjelas semuanya.
“Assalamu’alaikum fa... Fa sebelumnya abang mohon maaf ya... klo Fa masih ingat abang pernah ngajak Fa untuk ketemu yang tujuannya sbg proses awal untuk membina hubungan serius dengan Haifa... dan secara pribadi bagi abg g masalah... tapi bagi org tua abg jarak kota kita terlalu jauh... makanya abg hingga hari ini blom bisa berjanji apapun pd Haifa... abg menghormati Haifa sbg muslimah”, pesan pertama kubaca terbata-bata. Hingga muncul pesan kedua.
“Beberapa minggu yang lalu ada perempuan yang melalui ayahnya menawarkan dirinya pada abang... secara agama g ada alasan untuk abang menolaknya...setelah proses berfikir yang panjang,,, insyaallah abg menerimanya”, bagai petir di siang bolong semua berita itu mengaburkan penglihatanku. Lututku goyah. Parahnya lagi dia tetap mengirimkan pesan ketiganya yang lebih membuat hancur hatiku.
“Abg mohon maaf jika apa yang abg lakukan ini salah... semoga silaturahmi kita tetap terjaga... amin”, lama aku terdiam tak mampu berkata-kata. Tak kutemukan satu katapun untuk menjawab pesannya itu.
Kabar baik yang kutunggu berubah menjadi kabar buruk yang menghancurkan mimpiku. Salahku memang karena pernah berharap pada manusia. Salahku memang karena terlalu yakin dengan harapanku. Semuanya telah berakhir.

***

Komentar