Dia adalah lelaki hebat yg sebenarnya sering memarahiku. Tapi, dia telah mengajarkanku banyak hal. Tentang hidup, tentang berjuang, tentang menjadi berguna meski dunia tak peduli.
Usianya tak panjang, hanya 18 tahun atau 19 tetapi gurat sejarah kebaikan yg dia tinggalkan untuk orang2 kampung mungkin tak pernah bisa kau bayangkan.
Dia mengidap penyakit yang sampai saat ini aku tak begitu paham. Jika dia tersinggung ataupun sedih maka kesadarannyapun hilang dan badannya menegang kejang. Maka saat itu ibu dan ayahku akan sibuk memeganginya. Aku masih ingat bagaimana ibuku akan membisikkan kalimay toyibah, tasbih, takbir, tahmid, ayat kursi, atau apapun. Suaranya bergetar. Ibu akan mengusapkan bawang putih, balsem, minyak kayu putih, minyak tanah, atau apa saja yg bisa membuat kakakku tersadar.
Karna penyakitnya, dia dikeluarkan dari sekolah. Lebih tepatnya karna kenakalannya yg sangat luar biasa. Tapi, semua kenakalan itu karna dia bosan. Asal kau tau, dia penderita diseleksia. Kejang yang sering terjadi menyebabkan banyak sel2 sarafnya putus. Hingga dia bisa mengenal huruf tetapi saat diminta menyambung dia diam seribu bahasa.
Namun, dibalik kekurangannya, dia bisa menaklukan berbagai hewan buas, dia juga bisa membuat benda2 hanya dg melihat bentuknya. Dia bisa apasaja hingga semua org membutuhkan bantuannya.
Dulu, saat kecil aku pernah malu memilikinya sebagai kakakku. Semua mengejekku. Tapi, hingga saat ini aku menyesal, menyesal tak sempat menjadi adik yg baik untuknya.
Seuntai doa semoga sampai untukmu da wadi. Semoga Allah tempatkanmu di salah satu taman dari taman2 surgaNya.
-0-
Aku pernah malu punya kakak seperti dia. Bahkan aku melakukan hal yg kusesali sampai kini. Kala itu aku masih di bangku SD ,aku lupa kelas berapa. Waktu itu masih jam istirahat, tiba2 kulihat dari jendela kelasku orang2 berkerumun di tepian kolam di seberang jalan. Aku memanjangkan leherku melihat ke arah pusat kerumunan. Aku tercekat, aku kenal baju itu. Aku ingin bergegas kesana tetapi tiba2 temanku bertanya "itu udamu kan, udamu sawan air ya?". Langkahku tertahan. Aku malu. Semua anak melihatku. Mereka menyembunyikan senyum cemooh. Aku tertunduk dan kembali duduk. Aku tak lagi mempedulikan abangku.
Abangku memang malang. Tak jarang orang2 tega menyakitinya. Aku masih ingat sore itu, sepulang mengaji di tpa, abangku dipukuli banyak lelaki, aku masih ingat wajah2 mereka. Aku langsung berlari pulang mengadukan pada ibu dan ayahku. Entah apa salah abangku saat itu. Aku lupa.
Kali lain, beberapa tetanggaku datang ke rumah. Mereka bertemu ibuku. Menyerahkan pakaian abangku yg berlumuran darah. Mereka mengabarkan abangku dibawa ke kantor polisi gegara ketahuan mencuri ayam. Usut punya usut, bukan abangku yg salah. Temannya yg memang terkenal suka mencuri meminta abangku memegang ayam curiannya, hingga semua org yg mengira abangku pelakunya lgsg memukuli tanpa ampun. Aku masih ingat, ratap tangis ibuku sambil memgang baju abangku. "dia belum makan dari pagi...malangnya anakku".
Pernah abangku berkata "rajin2lah baraja, aden kok ndk mode ko panyakik den, lah tinggi lo sekolah den mah". (rajin2 lah belajar, jika bukan karna sakitku, mgkn aku akan sekolah juga yg tinggi).
Alhamdulillahnya abgku mengerti cara sholat. Meskipun terbata2 dia tak pernah meninggalkan sholat dan puasa. Hanya saja jika puasa dtg dia selalu bikin onar. Ya, aku hanya bisa tersenyum mengingatnya. Saat jemaah sdg tarawih maka jika terdengar letusan petasan, maka pasti itu abangku. Atau kalo sore2 dia akan membunyikan "badia-badia batuang" (meriam bambu). Dan berduyun2 lah nenek2 memarahinya.
Aku baru sadar, momen puasa yg selalu mengingatkanku pdnya.
Mungkin jika kukisahkan perjalanan hidupnya selesai pula 1 buah novel.
-0-
Mungkin kau akan bertanya2 "kok fotonya ini lagi?", ya mau gimana, cuma ini foto yg kupunya. Ada satu lagi, foto keluarga. Dan itu foto terakhir kami bersamanya.
Aku ingin bercerita tentang asal mula penyakit abangku. Ya, semoga saja bs jd pelajaran buat teman2 yg baca.
Sewaktu abangku masih balita dia sempat mengalami diare beberapa hari. Keesokan harinya suhu tubuhnya naik. Badannya panas seperti api. Tapi anehnya dia menggigil kedinginan. Ibuku yg tidak mengerti, hanya berusaha menghilangkan rasa dingin abangku. Soalnya, abang ngerek2 gitu bilang "dinginnn...". Ibuku menyelimutinya dg berlapis2 selimut tebal. Ibu juga memeluknya erat sambil terus mengusap kepala abangku.
Abangkupun tertidur lelap. Wajahnya tenang. Tapi tak berapa lama, abang bangun. Lantas matanya melihat ke atas hingga yg tersisa putihnya. Badannya menegang dan kejang. Giginya gemeletuk bertaut. Kalau org bilang "step".
Sejak saat itu, penyakit itu dia bawa sampai akhir hidupnya.
Ternyata menurut bidan, seharusnya anak yg panas tak boleh diselimuti dg selimut tebal. Panasnya akan terkurung di dalam tubuh dan mengganggu sistem syaraf. Jadi, kalo teman2 mengalami hal yg sama, selimuti saja dg selimut tipis, meskipun anaknya menggigil kedinginan. Kemudian dikompres saja jika belum memungkinkan utk membawa ke rumah sakit. Aku tak terlalu mengerti penjelasan medisnya. Tetapi itulah yg terjadi.
Sebenarnya aku sedikit heran kenapa step itu bs terjadi meskipun sudah dewasa. Padahal kebanyakan anak2 yg pernah step, kejangnya menghilang seiring bertambahnya usia. Hmm... Ya sudahlah, mungkin memang ini suratan takdir abangku. Dan ujian untuk ibuku.
Lalu ada juga yg mencoba mengartikan penyakit abangku dr sisi mistis. Tapi, secara ilmiah hal yg seperti tadi lebih masuk akal dipikiranku hehe. Mungkin lain waktu kuceritakan.
Semoga siapapun itu tdk mengalami hal yg sama seperti abangku.
Aku ingin bercerita tentang asal mula penyakit abangku. Ya, semoga saja bs jd pelajaran buat teman2 yg baca.
Sewaktu abangku masih balita dia sempat mengalami diare beberapa hari. Keesokan harinya suhu tubuhnya naik. Badannya panas seperti api. Tapi anehnya dia menggigil kedinginan. Ibuku yg tidak mengerti, hanya berusaha menghilangkan rasa dingin abangku. Soalnya, abang ngerek2 gitu bilang "dinginnn...". Ibuku menyelimutinya dg berlapis2 selimut tebal. Ibu juga memeluknya erat sambil terus mengusap kepala abangku.
Abangkupun tertidur lelap. Wajahnya tenang. Tapi tak berapa lama, abang bangun. Lantas matanya melihat ke atas hingga yg tersisa putihnya. Badannya menegang dan kejang. Giginya gemeletuk bertaut. Kalau org bilang "step".
Sejak saat itu, penyakit itu dia bawa sampai akhir hidupnya.
Ternyata menurut bidan, seharusnya anak yg panas tak boleh diselimuti dg selimut tebal. Panasnya akan terkurung di dalam tubuh dan mengganggu sistem syaraf. Jadi, kalo teman2 mengalami hal yg sama, selimuti saja dg selimut tipis, meskipun anaknya menggigil kedinginan. Kemudian dikompres saja jika belum memungkinkan utk membawa ke rumah sakit. Aku tak terlalu mengerti penjelasan medisnya. Tetapi itulah yg terjadi.
Sebenarnya aku sedikit heran kenapa step itu bs terjadi meskipun sudah dewasa. Padahal kebanyakan anak2 yg pernah step, kejangnya menghilang seiring bertambahnya usia. Hmm... Ya sudahlah, mungkin memang ini suratan takdir abangku. Dan ujian untuk ibuku.
Lalu ada juga yg mencoba mengartikan penyakit abangku dr sisi mistis. Tapi, secara ilmiah hal yg seperti tadi lebih masuk akal dipikiranku hehe. Mungkin lain waktu kuceritakan.
Semoga siapapun itu tdk mengalami hal yg sama seperti abangku.
-0-
Aku juga dapatkan cerita versi orang yg pernah mengenalnya.
"Wadi.. Dia teman sekelasku... Anak yang berbadan besar dan selalu membawa kayu kecil nan panjang kemana-mana (seperti tangkai pancing). Semua teman sekelasku takut padanya. Ketika guru kelas kami (Bu Nusiar) belum datang dia akan berjalan-jalan diruangan kelas lantas mengintip sesekali ke jendela. Dan ketika dia melihat ibu keluar dari kantor dan menuju ke ruangan kelas... Dia akan berteriak dg lantang "IBUK DATANG....!!!", katanya dan lantas bergegas duduk rapi. Dan sontak semua siswapun ikut bergegas duduk.
Dia memang usil. Aku ingat ketika itu dia mengusili salah seorang teman sekelasku .Yulia namanya. Yulia sangat takut dengan cacing. Wadi tau hal itu. Saat itu Wadi melemparkan seekor cacing ke atas buku latihan menulisnya. Semua teman-teman perempuan dikelasku menjerit jerit ketakutan termasuk Yulia.
Aku tidak suka suara kelas yang bising. Aku kesal dg keributan itu. Saking kesalnya aku bergegas ke meja Yulia lalu mengambil cacing itu. Akupun meremasnya itu hingga perutnya meletus dan mengotori buku Yulia. Yulia pun akhirnya menangis melihat bukunya kotor. Semua siswa semakin heboh menjerit2.
Mendengar kehebohan yang terjadi di kelas, bu nusiar bergegas masuk ke dalam kelas. Semua siswa mengadukan Wadi yang telah melemparkan cacing ke buku yulia dan membuatnya kotor sehingga Yulia menangis. Lantas, Wadi di panggil dan di bawa bu nusiar ke kantor. Aku tak tau apa yg terjadi padanya di kantor.
Keesokan harinya kulihat Wadi tetap pergi ke sekolah tapi dalam keadaan kurang sehat. Hari itu dia muntah di ruangan kelas. Bajunya pun jadi kotor. Wajahnya saat itu sangat pucat. Bu nusiar pun meminta kakaknya Wadi yg saat itu juga sekolah di sekolah yg sama untuk mengantarkanya pulang. Itulah hari terakhir aku melihatnya sekolah.
Yang aku tahu akulah penyebab Yulia menangis, akulah yg mengotori buku Yulia. Tetapi teman2 menuduh Wadi melakukannya.
Dia wadi. Teman sekelasku.
By Uni Lina
"Wadi.. Dia teman sekelasku... Anak yang berbadan besar dan selalu membawa kayu kecil nan panjang kemana-mana (seperti tangkai pancing). Semua teman sekelasku takut padanya. Ketika guru kelas kami (Bu Nusiar) belum datang dia akan berjalan-jalan diruangan kelas lantas mengintip sesekali ke jendela. Dan ketika dia melihat ibu keluar dari kantor dan menuju ke ruangan kelas... Dia akan berteriak dg lantang "IBUK DATANG....!!!", katanya dan lantas bergegas duduk rapi. Dan sontak semua siswapun ikut bergegas duduk.
Dia memang usil. Aku ingat ketika itu dia mengusili salah seorang teman sekelasku .Yulia namanya. Yulia sangat takut dengan cacing. Wadi tau hal itu. Saat itu Wadi melemparkan seekor cacing ke atas buku latihan menulisnya. Semua teman-teman perempuan dikelasku menjerit jerit ketakutan termasuk Yulia.
Aku tidak suka suara kelas yang bising. Aku kesal dg keributan itu. Saking kesalnya aku bergegas ke meja Yulia lalu mengambil cacing itu. Akupun meremasnya itu hingga perutnya meletus dan mengotori buku Yulia. Yulia pun akhirnya menangis melihat bukunya kotor. Semua siswa semakin heboh menjerit2.
Mendengar kehebohan yang terjadi di kelas, bu nusiar bergegas masuk ke dalam kelas. Semua siswa mengadukan Wadi yang telah melemparkan cacing ke buku yulia dan membuatnya kotor sehingga Yulia menangis. Lantas, Wadi di panggil dan di bawa bu nusiar ke kantor. Aku tak tau apa yg terjadi padanya di kantor.
Keesokan harinya kulihat Wadi tetap pergi ke sekolah tapi dalam keadaan kurang sehat. Hari itu dia muntah di ruangan kelas. Bajunya pun jadi kotor. Wajahnya saat itu sangat pucat. Bu nusiar pun meminta kakaknya Wadi yg saat itu juga sekolah di sekolah yg sama untuk mengantarkanya pulang. Itulah hari terakhir aku melihatnya sekolah.
Yang aku tahu akulah penyebab Yulia menangis, akulah yg mengotori buku Yulia. Tetapi teman2 menuduh Wadi melakukannya.
Dia wadi. Teman sekelasku.
By Uni Lina
-0-
Meskipun abangku tak bisa membaca tetapi dia sangat jago berhitung. Dia sangat suka dg angka. Jika ayahku pulang dari pasar dan membeli Teka Teki Silang maka ayah akan membelikan TTS khusus angka untuknya. Dengan senang dia akan mengambilnya dan meletakkannya di tempat khusus. Tak ada satu orgpun yg boleh mengisinya. Dalam waktu singkat dia telah menyelesaikan tts itu.
Abangku sebenarnya sangat ingin sekolah. Bahkan dia akan marah pada aku dan adekku jika kami malas belajar. Sayangnya, tak ada kesempatan baginya untuk sekolah.
Bukannya org tuaku tidak berusaha. Ibuku pernah mengantarkannya ke sekolah luar biasa (karna sekolah negeri akan menolaknya) di padang panjang. Dengan berat hati ibuku meninggalkannya di sekolah berasrama itu. Ibuku terlihat sangat sedih sekembali mengantarkan abangku. Ayahku mencoba menghibur ibuku. Ibuku khawatir jika penyakit abangku kembali kambuh. Dia khawatir abangku akan diperlakukan dg kasar ketika kejangnya kambuh.
Keesokan harinya, ibuku hanya tersenyum melihat abangku berjalan tergopoh2 menuju rumah. Dia menyandang tas dan gulungan sarung berisi baju2nya. "manga urg di sekolah tu, urg ndk buto ndk lo bisu do, urg pulang se ", (kenapa aku di sekolah itu, aku kan g buta, g bisu juga, aku pulang aja), ucapnya polos pada ibuku. Ayahku cuma bisa geleng2 kepala.
Ternyata diperjalanan ke padang panjang, abangku menghafal rute perjalanannya. Dia ingat mobil yg dinaiki, dan bahkan dia ingat bapak sopirnya. Senang saja dia bercerita dg bangga atas keberaniannya. Bahkan bapak sopirpun ingat dg wajahnya. Dia memang anak yg polos dan mudah akrab dg org lain.
Akhirnya ibu dan ayahku menyerah. Mereka berdamai dg keadaan. Mungkin memang begini suratan takdir anak mereka. Sesekali aku pernah melihat ayahku bermenung sambil memandang abangku yg tertidur selepas penyakitnya kambuh. "Bagaimana hidupmu di masa dewasa nanti nak. Kau tidak bisa membaca. Bagaimana jika kau tersasar dan ditipu semua org", mungkin itulah yg dipikirkannya.
Abangku sebenarnya sangat ingin sekolah. Bahkan dia akan marah pada aku dan adekku jika kami malas belajar. Sayangnya, tak ada kesempatan baginya untuk sekolah.
Bukannya org tuaku tidak berusaha. Ibuku pernah mengantarkannya ke sekolah luar biasa (karna sekolah negeri akan menolaknya) di padang panjang. Dengan berat hati ibuku meninggalkannya di sekolah berasrama itu. Ibuku terlihat sangat sedih sekembali mengantarkan abangku. Ayahku mencoba menghibur ibuku. Ibuku khawatir jika penyakit abangku kembali kambuh. Dia khawatir abangku akan diperlakukan dg kasar ketika kejangnya kambuh.
Keesokan harinya, ibuku hanya tersenyum melihat abangku berjalan tergopoh2 menuju rumah. Dia menyandang tas dan gulungan sarung berisi baju2nya. "manga urg di sekolah tu, urg ndk buto ndk lo bisu do, urg pulang se ", (kenapa aku di sekolah itu, aku kan g buta, g bisu juga, aku pulang aja), ucapnya polos pada ibuku. Ayahku cuma bisa geleng2 kepala.
Ternyata diperjalanan ke padang panjang, abangku menghafal rute perjalanannya. Dia ingat mobil yg dinaiki, dan bahkan dia ingat bapak sopirnya. Senang saja dia bercerita dg bangga atas keberaniannya. Bahkan bapak sopirpun ingat dg wajahnya. Dia memang anak yg polos dan mudah akrab dg org lain.
Akhirnya ibu dan ayahku menyerah. Mereka berdamai dg keadaan. Mungkin memang begini suratan takdir anak mereka. Sesekali aku pernah melihat ayahku bermenung sambil memandang abangku yg tertidur selepas penyakitnya kambuh. "Bagaimana hidupmu di masa dewasa nanti nak. Kau tidak bisa membaca. Bagaimana jika kau tersasar dan ditipu semua org", mungkin itulah yg dipikirkannya.
-0-
Kau ingat aku pernah menyinggung tentang hal mistis yg terjadi mengenai penyakit abangku?
Ibu dan ayahku melakukan berbagai cara agar abangku sembuh dari penyakitnya. Namun, utk pergi ke rumah sakit kami tak punya biaya. Jadilah ibuku menerima saran dari org2 kampung agar berobat ke dukun di kampung sebelah (semoga Allah mengampuni ibuku).
Setiap ibuku punya uang hasil menanam padi di sawah, beliau sisihkan untuk membeli persyaratan untuk menemui dukun tersebut. Ada 2 bungkus rokok gudang garam merah, satu jeruk purut, 2 liter beras, dan satu bungkusan bunga rampai yg sudah disediakan disana. Berulangkali ayahku mengingatkan tak baik datang ke dukun. Tapi, melihat ibuku yg sudah bersusah payah, ayahku hanya diam.
Kadang kala ibuku merasa sedih, niatnya hanya ikhtiar, Allah yg menyembuhkan. Begitu kilahnya. Dan obat2 yg diminta adalah bahan2 herbal untuk diminum atau dimandikan ke tubuh. Tapi, bacaan dan persekutuan apa yg dilakukan sang dukun dg makhluk lain, ibuku tak lagi mau peduli. Dia hanya ingin anaknya sembuh.
Banyak hal yg diminta sang dukun setiap ibu datang berobat yg kukira sedikit aneh. Kadang aku hanya bisa tersenyum bila mengingatnya. Pernah satu kali ibu bergegas ke dapur lantas mencuci batu gilingan cabe dan menyiramkannya ke tangga di depan rumah. Ternyata itu pesan dari sang dukun. Katanya, biar jinnya g jd masuk rumah. Takut apa ya sama air cabe hihi. Untung saja tak ada yg lewat, kan berabe pas ibuku melemparkan air cabe eh bapak2 yg lewat kesiram ahaha.
Kali lain, ibuku membangunkan abangku jam 12 malam. Apa yg kalian pikirkan? Tepat. Ibuku memandikan abangku dg bunga rampai. Jadi inget lagu, mandi kembang tengah malam lalala...
Namun, penyakit abangku tetap ada, bahkan sepulang dr tempatnya pak dukun, abangku kejang2. Emang g ngefek gaisss.
Ahh, untunglah sekarang ibuku tak mau lagi berobat ke dukun. Capek kali ya hihi
Ibu dan ayahku melakukan berbagai cara agar abangku sembuh dari penyakitnya. Namun, utk pergi ke rumah sakit kami tak punya biaya. Jadilah ibuku menerima saran dari org2 kampung agar berobat ke dukun di kampung sebelah (semoga Allah mengampuni ibuku).
Setiap ibuku punya uang hasil menanam padi di sawah, beliau sisihkan untuk membeli persyaratan untuk menemui dukun tersebut. Ada 2 bungkus rokok gudang garam merah, satu jeruk purut, 2 liter beras, dan satu bungkusan bunga rampai yg sudah disediakan disana. Berulangkali ayahku mengingatkan tak baik datang ke dukun. Tapi, melihat ibuku yg sudah bersusah payah, ayahku hanya diam.
Kadang kala ibuku merasa sedih, niatnya hanya ikhtiar, Allah yg menyembuhkan. Begitu kilahnya. Dan obat2 yg diminta adalah bahan2 herbal untuk diminum atau dimandikan ke tubuh. Tapi, bacaan dan persekutuan apa yg dilakukan sang dukun dg makhluk lain, ibuku tak lagi mau peduli. Dia hanya ingin anaknya sembuh.
Banyak hal yg diminta sang dukun setiap ibu datang berobat yg kukira sedikit aneh. Kadang aku hanya bisa tersenyum bila mengingatnya. Pernah satu kali ibu bergegas ke dapur lantas mencuci batu gilingan cabe dan menyiramkannya ke tangga di depan rumah. Ternyata itu pesan dari sang dukun. Katanya, biar jinnya g jd masuk rumah. Takut apa ya sama air cabe hihi. Untung saja tak ada yg lewat, kan berabe pas ibuku melemparkan air cabe eh bapak2 yg lewat kesiram ahaha.
Kali lain, ibuku membangunkan abangku jam 12 malam. Apa yg kalian pikirkan? Tepat. Ibuku memandikan abangku dg bunga rampai. Jadi inget lagu, mandi kembang tengah malam lalala...
Namun, penyakit abangku tetap ada, bahkan sepulang dr tempatnya pak dukun, abangku kejang2. Emang g ngefek gaisss.
Ahh, untunglah sekarang ibuku tak mau lagi berobat ke dukun. Capek kali ya hihi
-0-
Kau tahu kan kalau waktu SD ada namanya acara khatam Al-Qur'an. Nah, sebelum hari H para santri diajari irama alquran. Ada irama bayati dan... Aku lupa. Ada juga irama yg suaranya tinggi. Saat itu giliranku mau khatam. Jadi aku sering latihan di rumah.
Abangku paling sering memarahiku kalo sedang latihan. Ya, mau gimana suaraku melengking2 memekakan telinga. Hehe. Tapi satu kalimatnya yg membuatku terdiam. "urang t ngaji sajuak talingo mandanga, ko ndk, mandanga kau sakik kapalo den", (org kalo baca quran itu biar tenang hati yg dengarnya, tapi dengerin kamu malah bikin kepalaku sakit). Aku hanya bisa masuk kamar, mengunci pintu dan jendela, lalu melengking2 lagi wkwkw. Hingga kini tiap ngaji aku ingat kata2nya, gimana supaya kalo ngaji bisa bikin tenang dan nyaman hati.
Abangku tak bisa baca quran. Dia baru hafal alfatihah dan ayat2 sholat sedikit2. Tapi, dia mengerti, bahwa alquran adalah penenang hati. Juga, sejak dia mengerti sholat itu wajib, dia tak pernah meninggalkannya. Puasapun begitu.
Pernah, saat ramadhan. Tiba2 matanya nanar, ucapannya tak jelas, dia cb melangkah namun ototnya melemas dan ambruk lalu badannya kembali menegang hingga tak sadarkan diri. Saat itu ayahku memeluknya dari belakang dan membiarkannya di dalam pangkuan hingga sadar. Bayangkan badan abangku yg besar dipeluk ayahku yang sudah seringkih itu. Tapi, ayahku memang kuat.
Ibu, spt biasa mengoleskan berbagai minyak, bawang putih, minyak tanah, minyak kayu putih apa saja sambil membisikkan ayat2 Allah. Setelah sadar ibupun menyodorkan segelas air pd abangku. Tapi dia menolak, "urang puaso, manga disuruah minum", (aku kan puasa, knp disuruh minum), ucpnya. Biasanya abangku akan sangat letih sehabis kambuh. Wajahnya juga pucat, bibir membiru. Tapi, hingga akhir ia tetap berpuasa. Tak pernah kulihat dia membatalkan puasa seharipun. Meski sesakit apapun badannya.
Dia tak terlalu paham agama, yg dia tau sholat dan puasa adalah kewajiban sbg seorg muslim.
Aku pernah mendptinya lama mengangkat tangan berdoa di atas sajadah, aku tak tau apa saja untaian doa dlm pintanya. Aku hanya bisa mengaminkan sambil pura2 tak melihatnya.
Abangku paling sering memarahiku kalo sedang latihan. Ya, mau gimana suaraku melengking2 memekakan telinga. Hehe. Tapi satu kalimatnya yg membuatku terdiam. "urang t ngaji sajuak talingo mandanga, ko ndk, mandanga kau sakik kapalo den", (org kalo baca quran itu biar tenang hati yg dengarnya, tapi dengerin kamu malah bikin kepalaku sakit). Aku hanya bisa masuk kamar, mengunci pintu dan jendela, lalu melengking2 lagi wkwkw. Hingga kini tiap ngaji aku ingat kata2nya, gimana supaya kalo ngaji bisa bikin tenang dan nyaman hati.
Abangku tak bisa baca quran. Dia baru hafal alfatihah dan ayat2 sholat sedikit2. Tapi, dia mengerti, bahwa alquran adalah penenang hati. Juga, sejak dia mengerti sholat itu wajib, dia tak pernah meninggalkannya. Puasapun begitu.
Pernah, saat ramadhan. Tiba2 matanya nanar, ucapannya tak jelas, dia cb melangkah namun ototnya melemas dan ambruk lalu badannya kembali menegang hingga tak sadarkan diri. Saat itu ayahku memeluknya dari belakang dan membiarkannya di dalam pangkuan hingga sadar. Bayangkan badan abangku yg besar dipeluk ayahku yang sudah seringkih itu. Tapi, ayahku memang kuat.
Ibu, spt biasa mengoleskan berbagai minyak, bawang putih, minyak tanah, minyak kayu putih apa saja sambil membisikkan ayat2 Allah. Setelah sadar ibupun menyodorkan segelas air pd abangku. Tapi dia menolak, "urang puaso, manga disuruah minum", (aku kan puasa, knp disuruh minum), ucpnya. Biasanya abangku akan sangat letih sehabis kambuh. Wajahnya juga pucat, bibir membiru. Tapi, hingga akhir ia tetap berpuasa. Tak pernah kulihat dia membatalkan puasa seharipun. Meski sesakit apapun badannya.
Dia tak terlalu paham agama, yg dia tau sholat dan puasa adalah kewajiban sbg seorg muslim.
Aku pernah mendptinya lama mengangkat tangan berdoa di atas sajadah, aku tak tau apa saja untaian doa dlm pintanya. Aku hanya bisa mengaminkan sambil pura2 tak melihatnya.
-0-
Abangku suka bermain kemana2. Banyak tempat yg ia datangi. Hingga tak jarang penyakitnya kambuh saat tak berada di rumah. Biasanya akan ada tetangga, anak kecil atau orang kampung yg berlarian ke rumah, sambil nafas terengah mengabarkan abangku yang sedang kejang2. Saat itu ibu, ayah, bahkan abangku yg lain akan bergegas meninggalkan apapun yg sedang dikerjakan dan segera ke tempat abangku.
Ibu yg tak tega melihat abangku dipegang dengan erat oleh orang lain akan berkata "jan kuaik2 maciknyo ndk, sakik deknyo", (tolong jangan memegangnya terlalu kuat, nanti dia kesakitan).
Biasanya sehabis kejang akan muncul memar2 atau bekas luka ditubuhnya. Baik terkena benda tajam ataupun terhempas terkena aspal ataupun tembok. Jatuh ke dalam kolam atau masuk ke dalam selokan.
Aku juga tidak mengerti apa penyebabnya. Yang aku tau setiap abangku mulai hilang kesadaran, pikirannya hanya ingin berjalan. Maka semua yg dilihatnya akan tampak datar. Tak lagi dia bisa melihat tebing, kolam, ataupun selokan. Dalam langkahnya yg gontai perlahan ototnya melemas, lantas ambruk.
Jika ibuku melihat ada bekas luka baru di tubuh abangku, maka abangku dengan santai akan berkata "tadi paniang, ndk tau kanai a, lah luko se" (tadi penyakitku kambuh, g tau kenapa, udah luka aja), lantas berlalu pergi. Alhamdulillahnya, badan abangku kuat. Segala macam luka dengan mudahnya sembuh. Dia tak pernah mengeluh dg luka2nya. Paling2 dia akan oleskan kopi pada lukanya. Hanya beberapa hari lukanya hilang.
Ibu dan ayahku selalu menjaga perasaan abangku, agar tidak sedih dan kepikiran dg masalah apapun. Jadi, kalaupun ada masalah biasanya ibu dan ayah akan terlihat ceria di depan abangku. Bahkan kalo lagi bertengkarpun mereka akan berhenti kalau abangku dtg hehe.
Hanya saja, abangku adalah org yg paling sayang sm ayah dan ibuku. Jd meskipun disembunyikan, dia selalu tahu ada masalah. Dan dia paling tak tega melihat ayahku kesusahan. Makanya penyakitnya tetap saja kambuh.
Ibu yg tak tega melihat abangku dipegang dengan erat oleh orang lain akan berkata "jan kuaik2 maciknyo ndk, sakik deknyo", (tolong jangan memegangnya terlalu kuat, nanti dia kesakitan).
Biasanya sehabis kejang akan muncul memar2 atau bekas luka ditubuhnya. Baik terkena benda tajam ataupun terhempas terkena aspal ataupun tembok. Jatuh ke dalam kolam atau masuk ke dalam selokan.
Aku juga tidak mengerti apa penyebabnya. Yang aku tau setiap abangku mulai hilang kesadaran, pikirannya hanya ingin berjalan. Maka semua yg dilihatnya akan tampak datar. Tak lagi dia bisa melihat tebing, kolam, ataupun selokan. Dalam langkahnya yg gontai perlahan ototnya melemas, lantas ambruk.
Jika ibuku melihat ada bekas luka baru di tubuh abangku, maka abangku dengan santai akan berkata "tadi paniang, ndk tau kanai a, lah luko se" (tadi penyakitku kambuh, g tau kenapa, udah luka aja), lantas berlalu pergi. Alhamdulillahnya, badan abangku kuat. Segala macam luka dengan mudahnya sembuh. Dia tak pernah mengeluh dg luka2nya. Paling2 dia akan oleskan kopi pada lukanya. Hanya beberapa hari lukanya hilang.
Ibu dan ayahku selalu menjaga perasaan abangku, agar tidak sedih dan kepikiran dg masalah apapun. Jadi, kalaupun ada masalah biasanya ibu dan ayah akan terlihat ceria di depan abangku. Bahkan kalo lagi bertengkarpun mereka akan berhenti kalau abangku dtg hehe.
Hanya saja, abangku adalah org yg paling sayang sm ayah dan ibuku. Jd meskipun disembunyikan, dia selalu tahu ada masalah. Dan dia paling tak tega melihat ayahku kesusahan. Makanya penyakitnya tetap saja kambuh.
-0-
Penyakit abangku akan kambuh jika dia sedih atau banyak pikiran. Tapi, kadang saat abang terlalu senang, penyakit itu juga muncul. Aku tak paham kenapa.
Hal yg paling sedih itu kalau lihat abangku terbangun dari tidurnya sehabis kejangnya reda. Tatapannya sayu. Badannya lemah. Seringkali bibirnya berdarah karna digigit saat kejang. Lututnya juga berdarah dan celananya sobek karna bergesekan dg aspal.
Adakalanya, sakitnya kambuh setiap hari. Jika aku di rumah berdua bersamanya, maka aku akan mengikutinya dg ekor mataku kemanapun abang melangkah. Lantas berdoa, semoga hari ini abang tidak kejang lagi. Jika kudengar bunyi berdentang dan barang2 jatuh maka dipastikan itu abangku.
Aku akan menarik nafas lega jika hari itu abang sedang bahagia. Biasanya karna berhasil menangkap hewan buruan. Ada biawak, ular, trenggiling, musang, dan lainnya. Hewan2 ini biasanya berkeliaran dan mengganggu org2 kampung. Maka dengan senang hati abangku menangkapnya. Lantas menjualnya ke kebun binatang di bukittinggi. Setelah dapat uang, abangku akan membeli makanan untuk kami. Tapi, sebenarnya aku jarang dibagi, karna aku sering nakal hehe.
Jika abangku sedang serius menatap dari balik jendela ke arah kolam ikan, maka berarti ada biawak atau ular yg sedang bermain2 disana. Kampung kami memang unik. Setiap rumah punya kolam ikan. Bahkan rumahku di kelilingi kolam hehe. Tapi sayang sering ada biawak yg memangsa ikan2 kami. Dengan sigap abangku akan mengambil panah atau pistol besi buatannya. Ya, karyanya sendiri.
Panah ini dia ukir sendiri. Abangku pernah melihat di rumah turis di kampung kami panah seperti itu. Dengan mudah dia menirunya. Di tempat meletakkan anak panahnya dia ukir seperti kepala suku afrika yg sering terlihat di tv2. Lalu anak panahnya terbuat dari besi yg dia runcingkan sendiri. Lantas dia ikat dengan benang nilon. Biasanya panah ini juga dia gunakan untuk menangkap ikan. Gampang saja dia menangkap ikan untuk lauk kami. Tapi, aku tak suka membersihkannya. Aku lagi2 akan dimarahi karna pura2 tidur dan tak mau membersihkan ikan2 itu hehe.
Hal yg paling sedih itu kalau lihat abangku terbangun dari tidurnya sehabis kejangnya reda. Tatapannya sayu. Badannya lemah. Seringkali bibirnya berdarah karna digigit saat kejang. Lututnya juga berdarah dan celananya sobek karna bergesekan dg aspal.
Adakalanya, sakitnya kambuh setiap hari. Jika aku di rumah berdua bersamanya, maka aku akan mengikutinya dg ekor mataku kemanapun abang melangkah. Lantas berdoa, semoga hari ini abang tidak kejang lagi. Jika kudengar bunyi berdentang dan barang2 jatuh maka dipastikan itu abangku.
Aku akan menarik nafas lega jika hari itu abang sedang bahagia. Biasanya karna berhasil menangkap hewan buruan. Ada biawak, ular, trenggiling, musang, dan lainnya. Hewan2 ini biasanya berkeliaran dan mengganggu org2 kampung. Maka dengan senang hati abangku menangkapnya. Lantas menjualnya ke kebun binatang di bukittinggi. Setelah dapat uang, abangku akan membeli makanan untuk kami. Tapi, sebenarnya aku jarang dibagi, karna aku sering nakal hehe.
Jika abangku sedang serius menatap dari balik jendela ke arah kolam ikan, maka berarti ada biawak atau ular yg sedang bermain2 disana. Kampung kami memang unik. Setiap rumah punya kolam ikan. Bahkan rumahku di kelilingi kolam hehe. Tapi sayang sering ada biawak yg memangsa ikan2 kami. Dengan sigap abangku akan mengambil panah atau pistol besi buatannya. Ya, karyanya sendiri.
Panah ini dia ukir sendiri. Abangku pernah melihat di rumah turis di kampung kami panah seperti itu. Dengan mudah dia menirunya. Di tempat meletakkan anak panahnya dia ukir seperti kepala suku afrika yg sering terlihat di tv2. Lalu anak panahnya terbuat dari besi yg dia runcingkan sendiri. Lantas dia ikat dengan benang nilon. Biasanya panah ini juga dia gunakan untuk menangkap ikan. Gampang saja dia menangkap ikan untuk lauk kami. Tapi, aku tak suka membersihkannya. Aku lagi2 akan dimarahi karna pura2 tidur dan tak mau membersihkan ikan2 itu hehe.
-0-
Meskipun abangku akan kembali kejang jika sedih atau banyak pikiran, tetapi keluargaku tetap memarahi jika nakalnya sudah kelewatan. Seperti waktu itu, saat abangku lagi2 membuat marah jemaah mesjid karna bunyi petasannya yg sangat mengganggu.
Aku masih ingat saat abangku disidang habis2an oleh ayah dan ketiga udaku yg lain. Abangku hanya tertunduk diam. Dua atau tiga hari damailah malam2 tarawih di mesjid tanpa suara bising. Hari keempat berbunyilah kembali petasan itu. Wkwkw. Seiring bertambahnya usia akhirnya dia pun paham dan berhenti melakukan kenakalan itu.
Di balik kenakalannya, abangku adalah anak yg cekatan. Apalagi dalam hal pancing memancing ikan. Untuk yg satu ini dia ahlinya. Sebentar saja dia duduk di tepi kolam pancingan bertubi2lah ikan menggelepar2 di mata kailnya. Abangku punya berbagai jenis mata pancing. Benang nilon, tangkai pancing, dan semua peralatan yg berhubungan dg pancingan dia tau. Meskipun kadang2 dia memintaku untuk membacakan tulisan di bungkus mata pancing yg sudah dia beli. Ah, seandainya saja dia tidak sakit dan bisa membaca, aku yakin abangku akan jadi orang hebat.
Abangku memang sakit, tapi otaknya masih normal. Normal seperti manusia biasa. Memang terkadang ada saja orang yang meremehkan abangku dan menganggap otaknya lemah. Kukatakan padamu ya, abangku sangat WARAS.
Kadang aku kesal melihat org lain memperlakukannya tidak adil. Menjadikan kekurangan abangku senjata untuk menyakitinya.
Untungnya abangku tak selalu terpengaruh dg kenakalan2 remaja2 di kampung. Salah satunya dalam hal merokok. Di kampungku saat itu, laki2 yg tidak merokok masih dikatakan "banci", jadi bisa dibilang hampir semua lelaki di kampungku pernah mencicipi benda mematikan itu. Abangku pernah diajak oleh teman2 sebayanya. Diapun mencoba, untungnya satu hisapan saja sudah membuatnya sesak nafas. Tak sudi dia merokok lagi. Haha. Jadi, untuk kenakalan yg satu itu abangku tak pernah ikut campur.
Aku masih ingat saat abangku disidang habis2an oleh ayah dan ketiga udaku yg lain. Abangku hanya tertunduk diam. Dua atau tiga hari damailah malam2 tarawih di mesjid tanpa suara bising. Hari keempat berbunyilah kembali petasan itu. Wkwkw. Seiring bertambahnya usia akhirnya dia pun paham dan berhenti melakukan kenakalan itu.
Di balik kenakalannya, abangku adalah anak yg cekatan. Apalagi dalam hal pancing memancing ikan. Untuk yg satu ini dia ahlinya. Sebentar saja dia duduk di tepi kolam pancingan bertubi2lah ikan menggelepar2 di mata kailnya. Abangku punya berbagai jenis mata pancing. Benang nilon, tangkai pancing, dan semua peralatan yg berhubungan dg pancingan dia tau. Meskipun kadang2 dia memintaku untuk membacakan tulisan di bungkus mata pancing yg sudah dia beli. Ah, seandainya saja dia tidak sakit dan bisa membaca, aku yakin abangku akan jadi orang hebat.
Abangku memang sakit, tapi otaknya masih normal. Normal seperti manusia biasa. Memang terkadang ada saja orang yang meremehkan abangku dan menganggap otaknya lemah. Kukatakan padamu ya, abangku sangat WARAS.
Kadang aku kesal melihat org lain memperlakukannya tidak adil. Menjadikan kekurangan abangku senjata untuk menyakitinya.
Untungnya abangku tak selalu terpengaruh dg kenakalan2 remaja2 di kampung. Salah satunya dalam hal merokok. Di kampungku saat itu, laki2 yg tidak merokok masih dikatakan "banci", jadi bisa dibilang hampir semua lelaki di kampungku pernah mencicipi benda mematikan itu. Abangku pernah diajak oleh teman2 sebayanya. Diapun mencoba, untungnya satu hisapan saja sudah membuatnya sesak nafas. Tak sudi dia merokok lagi. Haha. Jadi, untuk kenakalan yg satu itu abangku tak pernah ikut campur.

Komentar
Posting Komentar