KEMERDEKAAN PEREMPUAN PERBATASAN

Sebuah cerita

Oleh: Desmaiyanti (Guru SM3Angkatan IV MBD)


Hari ini aku ingin berkisah kembali tentang negeri di tenggara jauh sana. Negeri yang tersusun atas pulau-pulau kecil yang ditabur sedemikian banyaknya di lautan antara pulau besar Sulawesi dan Irian Jaya. Negeri yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Timor Leste. Negeri yang dipaksa menyaksikan secara langsung keadaan bak “siang dan malam” di depan mata, melihat gemerlapnya negara tetangga di gelapnya negeri sendiri.

Negeri itu sungguh kaya, melimpah roh jinawi, sumpah. Namun, entah kenapa kekayaan itu masih belum mampu menggemerlapkan negeri itu seperti negeri lain di negara kita apatah negara tetangga. Maka, wajar jika masih banyak yang berkata negeri ini belum sepenuhnya merdeka. Karena, di saat seorang anak di kota Jakarta sibuk bereksperimen dengan berbagai zat kimia yang memusingkan, di sana seorang anak sedang berjuang di teriknya Mentari memanen jambu mete, menjala ikan, atau bertarung dengan sengatan lebah demi mendapatkan madu. Perhatian ibu pertiwi masih belum menjangkau mereka, akar rumput pewaris negeri ini. Mungkin beberapa tahun lagi. Entahlah. Mari kita doakan saja.

Lantas bagaimana dengan kemerdekaan para perempuannya?

Kemerdekaan bagi perempuan setidaknya terwujud dalam dua bingkai besar yaitu dalam kualitas hidup dan perlindungan dari kekerasan (Bappenas, 2012). Kualitas hidup meliputi aspek keterwakilan, ekonomi, Pendidikan, dan Kesehatan reproduksi. Sedangkan perlindungan dari kekerasan berhubungan dengan rasa aman dari KDRT.

Dalam aspek keterwakilan, sejatinya kemerdekaan perempuan di daerah Maluku telah terlihat bahkan sebelum kemerdekaan Negara ini benar-benar diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Sejak pahlawan perempuan asal Maluku, putri dari Paulus Tiahahu, bernama “Martha Kristina Tiahahu” diijinkan ikut membawa senjata dan berjuang di medan perang melawan penjajah. Dan kemerdekaan itu terus menjadi kekuatan perempuan Maluku hingga kini.

Kemerdekaan bagi perempuan di daerah Maluku, khususnya perbatasan Maluku Barat Daya sebenarnya nyata aku rasakan. Di sana perempuan memiliki martabat yang sama dengan laki-laki. Keberanian para perempuannya tak kalah dengan laki-laki. Perempuan bisa melakukan apapun yang dilakukan para laki-laki meskipun pekerjaan paling berat sekalipun. Ketika bermusyawarahpun pendapat perempuan didengar dengan seksama. Sudah banyak jabatan kepemerintahan yang dipangku oleh perempuan. Dan sudah bukan menjadi hal yang aneh jika perempuan berperan sebagai tenaga Kesehatan, tenaga kependidikan, bahkan kepolisian.

Dalam aspek ekonomi, perempuan di daerah perbatasan masih merasakan eksploitasi dan diskriminasi oleh laki-laki. Hal ini dikarenakan tingkat Pendidikan yang masih rendah. Sebenarnya, hilangnya kemerdekaan perempuan dalam hal ekonomi berkaitan erat dengan kemerdekaan dalam mendapatkan kualitas yang baik dalam Kesehatan reproduksi.

Seorang perempuan di Maluku Barat Daya belum bisa bebas dari ancaman kematian saat harus melahirkan. Kondisi sarana Kesehatan yang masih terbatas mengharuskan mereka melakukan perjalanan laut yang membutuhkan waktu setidaknya satu hari satu malam menggunakan kapal laut menuju provinsi tetangga yaitu NTT. Bahkan, mereka harus siap jika memang harus melahirkan di atas kapal atau bahkan di dapur rumah sendiri. Seperti salah satu guru bahasa Indonesia di SMA N 1 Ilwaki, yang terpaksa harus melahirkan anaknya di dapur rumahnya karena mempertimbangkan banyaknya waktu yang harus dia habiskan di perjalanan sementara ujian akhir sekolah sudah di depan mata. Dalam senyum getir, beliau menggunting sendiri tali pusar sang anak bersama suaminya. Dan beberapa hari setelahnya kembali masuk sekolah karena tak ada guru yang dapat menggantikan. Pelayanan Kesehatan reproduksipun sangat tidak memadai karena sedikitnya tenaga terlatih seperti dokter, bidan dan tenaga ahli lainnya. Dengan demikian tingkat kematian sang ibu yang akan melahirkan sangat tinggi.

Dan sayangnya, angka kelahiran oleh remajapun tinggi sehingga tingkat Pendidikan merekapun terhenti saat bayi mereka lahir. Hal ini karena kurangnya sosialisasi terkait besarnya resiko Kesehatan bagi remaja yang melahirkan di usia dini. Bukan hanya berefek kepada Kesehatan ibu dan bayi tetapi juga masa depan sang ibu yang berujung pada diskriminasi keterwakilan. Wajar saja jika remaja yang melahirkan di usia dini pada akhirnya akan mendapatkan pekerjaan yang membutuhkan kerampilan rendah serta tak bisa berdaya di masyarakat karena Pendidikan yang dimilikinya tak mencukupi untuk ikut menjadi wakil bagi masyarakat. Sehingga, tercerabutnya kemerdekaan untuk didengarkan suara dan pemikiran disebabkan oleh perempuan itu sendiri. Saat aku disana, santai saja mereka menceritakan tentang salah satu siswa mereka yang tak lagi datang ke sekolah karena akan segera melahirkan. Atau saat aku telah kembali ke kota asalku, tiba-tiba aku mendapatkan undangan pernikahan oleh siswa yang setahun kemaren masih SMA. Atau mengabarkan tentang anak keduanya yang akan segera lahir.

Padahal, jika kemerdekaan dilihat dari aspek Pendidikan, masyarakat Maluku Barat Daya sudah tidak membeda-bedakan kesempatan meraih Pendidikan baik untuk laki-laki atau perempuan. Tidak ada diskriminasi perempuan dalam hal Pendidikan meskipun untuk kelayakan sarana Pendidikan masih tergolong rendah. Masih banyak sekolah yang tak memiliki fasilitas memadai. Jangankan internet dan fasilitas komunikasi, listrik saja harus menunggu jadwal karena listrik hanya nyala di waktu-waktu tertentu saja. Ahh, aku masih ingat, kami yang harus puas menikmati terangnya lampu pada sore hari hingga pukul 9 malam lantas padam hingga esok paginya. Dan nyala kembali pada siang hari. Gelapnya negeri itu masih terbayang sampai sekarang.

Dan yang paling menyedihkannya adalah bahwa kemerdekaan itu tercerabut dari perempuan saat ia berada di lingkungan keluarganya sendiri. Entah karena emosi yang cenderung sangat mudah meledak atau tuntutan kehidupan yang semakin sulit, terkadang kekerasan dalam rumah tangga tak dapat terelakkan. Para lelaki maluku meskipun sering dikenal dengan kelemahlembutannya tetapi juga terkenal dengan ganasnya apabila sudah marah. Mereka tak segan mengayunkan tangan karena emosi. Dan tentu yang menjadi korban adalah perempuan.

Sejauh manapun kemerdekaan perempuan tidak pernah akan habisnya dibahas. Dan ini penting menjadi perhatian semua orang. Bukankan perempuan adalah tonggak peradaban. Bukankah dari seorang ibu yang cerdas akan lahir pejuang-pejuang bangsa yang akan membawa nama harum negeri ini di mata dunia. Maka, entah itu di tenggara jauh maupun di daerah perbatasan manapun, perempuan tak layak mendapatkan perlakuan diskriminatif. Perempuan punya hak merasakan kebebasan. Bebas dari rasa cemas tentang suara yang tak terwakilkan, ekonomi yang menghimpit, Pendidikan yang tak teraih, kematian yang mengancam kala melahirkan, dan ketakutan saat diperlakukan dengan penuh kekerasan dalam rumah sendiri.

 Wallahu 'alam.

Komentar